“Lima mahasiswa yang tergabung dalam program Amati Indonesia mengungkap kegagalan PLTS Terpusat Pinogu. Sejak PLTS Pinogu berhenti beroperasi, wilayah dengan sumber daya alam yang berlimpah tersebut kini mengalami kemunduran ekonomi.”

Oleh: Tim Maleo – Amati Indonesia *

Kecamatan Pinogu berada di Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo yang berada di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dengan ketinggian 300-400 MDPL dengan menempuh jarak 48 KM dengan menggunakan kendaraan yang sudah di modifikasi oleh masyarakat agar mempermudah dalam perjalanan ke Wilayah Kecamatan Pinogu.

Akses ke Pinogu tidak melewati jalan yang sudah beraspal/rabat beton, melainkan melewati jalan  tanah merah, tanah yang berlubang, jalur ban terdapat genangan air, naik turun, dan jalan berbatu. Sehingga, membuat harga ojek ke Pinogu di katakan mahal, perjalanan menggunakan ojek memakan waktu 5 jam, bisa lebih dari waktu tersebut jika sedang hujan selama diperjalanan, karena tanah semakin licin dan kurangnya cengkraman ban terhadap tanah. Tetapi, semua itu terbayarkan setelah kita sampai di pintu masuk Kecamatan Pinogu yang berada di Desa Bangio, kita akan di perlihakan keindahan alam dan masyarakat yang ramah dengan pendatang di Kacamatan Pinogu.

Kecamatan Pinogu sendiri memiliki 5 Desa antara lain; Bangio, Pinogu Permai, Tilonggibila, Pinogu, dan Dataran hijau. Pinogu memiliki sejumlah fasilitas Sekolah, di antaranya yaitu, 2 bangunan Sekolah Dasar, 1 bangunan Sekolah Menengah Pertama, 1 bangunan Sekolah Menengah Atas.

Secara umum, di Kecamatan Pinogu, semua sekolah tersebut dapat diakses dengan mudah. Jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Pinogu, 1 pusat kesehatan masyarakat dengan rawat inap. Pada tahun 2020, di Kecamatan Pinogu, terjadi beberapa kejadian bencana alam, diantaranya 2 peristiwa gempa bumi, dan satu kali banjir. Namun dari semua peristiwa bencana alam tersebut, tidak ada korban jiwa yang terluka ataupun meninggal.

Kecamatan Pinogu adalah Daerah Kerajaan Tuwawa dan awal peradaban hingga terbentuknya Daerah Gorontalo, pada awalnya Wilayah yang saat ini di huni oleh Masyarakat Bolaang Mongondow, Buol, dan Gorontalo masih berupa Lautan yang luas dimana terdapat 3 Gunung di Lautan yang di kenal sebagai Gunung Tellu atau Gunung Tiga.

Gunung pertama di beri nama Gunung Tilingkabila adalah nama penghuni pertama seorang Perempuan. Gunung kedua di beri nama Gunung Gambuta, dengan penghuni pertama seorang laki-laki bernama Mo’oduliyo. Gunung ketiga di kenal sebagai Gunung Ali dengan penghuni seorang yang bernama Ali asal dari Jazirah Arab dan beragama islam. Setelah Lautan luas surut, muncullah dataran berupa lembah luas bersih dan terang di antaranya ketiga Gunung tersebut. Di Lembah itulah Tilongkabila dan Mo’oduliyo bertemu dan menikah, beranak pinakdan menjadi cikal bakal Masyarakat Gorontalo saat ini.

Pinogu adalah kecamatan yang berada di pedalaman atau jauh dari perkotaan dengan jarak 48 KM dan harus melewati jalur hutan dan kendaraan khusus. Kata pedalaman, pasti kita berfikir bahwa masyarakatnya sangat tidak ramah dengan pendatang baru, tidak mau bertemu, lari jika bertemu, sangat susah di ajak berkomunikasi. Memang Pinogu adalah mayoritas Suku Suwawa di zaman Kerajaan Tuwawa sampai sekarang yang masih menetap di Daerah Kerajaan Tuwawa yang sekarang telah menjadi Daerah Pemerintahan Skala Kecamatan. Namun semua pemikiran tersebut salah, masyarakat yang ada di Kecamatan Pinogu sangatlah ramah, selalu bisa diajak berkomunikasi, dan bercanda. Masyarakat Pinogu juga masih menyelenggarakan berbagai acara adat molo’opu, pembeatan, be’at, barsanji, dan mandi safar. Selama mahasiswa berada di lokasi bisa mengikuti acara adat tersebut dan melihat bahwa pinogu masih menjaga adat istiadat mereka.

Wilayah yang Sangat Subur

Kecamatan Pinogu memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang sangat subur, organik dan memiliki lahan tanah yang luas untuk berkebun sampai bertani dan memiliki potensi yang hampir sama di miliki dari 5 desa lain yang ada di Kecamatan Pinogu, antara lain :

  1. Potensi Kopi Robusta

Kopi robusta di pinogu merupakan jenis kopi yang paling banyak di kelola oleh Masyarakat Pinogu. Salah satu Masyarakat memiliki kebun kopi dengan jumlah kurang lebih 2000 tanaman. Panen bisa mencapai 2-3 kali dalam setahun.

  1. Potensi Kopi Liberika (belum di olah oleh masyarakat)

Kopi Liberika di Pinogu merupakan kategori yang sangat langka. Kopi tersebut sudah ada sejak 14 abad silam. Saat ini lokasi perkebunan kopi Liberika berada di dalam kawasan konservasi. Kopi Liberika ini memiliki kualitas yang premium, mulai dari rasa yang khas, dimana terdapat aroma coklat di dalamnya dan ditanam dengan proses yang 100% organik.

  1. Vanili

Tanaman vanili ini sangat membantu perekonomian masyarakat Pinogu. Proses perawatan tanaman vanili terbilang mudah. Namun untuk bisa memproses vanili, masyarakat harus rajin dalam perawatan dan memerlukan waktu yang lama untuk bisa mendapat buah yang sudah siap dipetik dan diproses – melalui pengeringan dengan bantuan matahari – hingga menjualnya.

  1. Potensi Coklat

Walaupun terdapat beberapa perkebunan coklat di Pinogu, namun jumlah kebun maupun hasilnya belum sebanyak kebun kopi. Hal tersebut dikarenakan luasan kebun coklat lebih kecil daripada luasan kebun kopi. Masyarakat hanya memanen coklat setahun sekali.

  1. Potensi Kelapa

Kelapa biasanya digunakan untuk produksi minyak kelapa, dengan cara kelapa dibelah, kemudian diparut menggunakan mesin dan hasil parutan tersebut akan diproses/diperas untuk didapatkan santannya, kemudian santan akan dimasak selama 2-3 jam hingga santan berubah warna menjadi kecoklatan dan lebih kental sampai minyak kelapa mulai muncul diatas santan tersebut.

  1. Potensi Beras

Masyarakat Pinogu memanen beras setahun dalam 2-3 kali. Kebanyakan hasil tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Jika lahan yang digunakan untuk bertani luas, hasilnya juga banyak. Jika ada sisa saat panen, maka padi akan dijual.

Selain, melimpahnya hasil pertanian. Pinogu juga memiliki peternakan sapi dan ayam yang tidak semua masyarakat miliki. Ternak sapi memiliki peluang mendapatkan penghasilan guna meningkatkan kesejahteraan, menjanjikan keuntungan yang lumayan besar, apabila di kelola secara sungguh-sungguh sesuai aturan berternak yang benar. Selain ternak ini bisa di jual, juga menghasilkan pupuk kendang untuk memupuk berbagai tanaman pertanian.

Pinogu juga bisa dikatakan sudah menjadi hutan kopi, karena setiap ingin masuk ke perkebunan yang pertama di lihat adalah pohon kopi yang berada di jalur menuju perkebunan masyarakat Pinogu. Jika kopi ini dijadikan wisata, masyarakat bisa menyajikan cara pemetikan sampai proses pengemasan kopi. Kopi di sini tidak menggunakan bahan kimia untuk menghasilkan buah yang bagus, semuanya organik, bukan hanya kopinya, baik dari hasil sawah, coklat, vanilla, dan masih banyak lagi yang tidak menggunakan bahan kimia. Bisa dibilang masyarakatnya pun “organik”, karena mengonsumsi tanaman hasil organik.

Program Amati Indonesia

Kami berlima tergabung dalam program Amati Indonesia, sebuah wadah yang mengumpulkan berbagai mahasiswa dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar belakang ilmu yang akan melaksanakan dan mewujudkan tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat. Melalui program magang dan studi independen bersertifikat merdeka belajar kampus merdeka yang di luncurkan oleh Kemendikbudristek RI, Amati Indonesia memfasilitasi mahasiswa dalam bidang ekowisata berbasis design thingking. Pembelajaran tidak hanya di berikan secara daring, melainkan mahasiswa di tuntut untuk dapat mengimplementasikan ilmunya dengan cara langsung turun lapangan dan berhadapan dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Dari program tersebut mahasiswa bisa melihat potensi ekowisata yang ada di lokasi. Pinogu memiliki tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti hewan endemik yang seharusnya ada di pesisir pantai namun berada di pegunungan yaitu Burung Maleo. Selain itu, kita bisa melihat anoa, mengunjungi air terjun kebangsaan dan babi rusa yang masuk di wilayah dan dikelola oleh Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Potensi Energi Bersih

Potensi energi surya Indonesia sebesar 4,8 kWh/m2, menyebabkan Indonesia berpotensi untuk memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi listrik. Hal ini memungkinkan penyediaan energi listrik untuk daerah-daerah terpencil yang belum di jangkau aliran listrik, melalui sistem photovoltaic dengan cara PLTS terpusat atau SHS (Solar Home System).

Di Gorontalo, kehadiran PLTS menjadi solusi sumber energi bersih yang sangat di butuhkan bagi masyarakat yang ada di Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango. Pada tahun 2015 dengan perjuangan dan gotong royong, masyarakat Pinogu bisa membawa dan menghadirkan PLTS Terpusat dengan komponen 385 unit panel surya, 440 unit baterai, 4 unit kontrol, kabel dan masih banyak lagi ke Pinogu, dengan menghabis waktu kurang lebih 3 bulan di perjalanan.

Setelah PLTS terpusat terbangun di tahun 2015 bisa mendistribusikan ke 5 desa yang ada di Kecamatan Pinogu dengan jumlah 636 kepala keluarga. Sejak itu, masyarakat bisa menikmati energi listrik 24 jam dan membantu kebutuhan sehari-hari.

Sewaktu listrik ada masyarakat bisa melakukan aktivitas dengan bebas mulai pagi sampai malam hari, tidak tergantun sepenuhnya pada matahari, karena malah hari bisa menggunakan penerangan dari sumber energi listrik. Seperti lampu, menyetrika menggunakan setrika listrik, air di dapatkan dengan mudah menggunakan pompa listrik, berkomunikasi terjalin lewat telepon atau gadget yang juga menggunakan listrik, kegiatan di laksanakan dengan memakai teknologi, seperti mesin cetak, menyalakan proyektor, mesin fotokopi, mesin pengolah kopi, cas telepon seluler dan lain-lain.

Namun, karena kurangnya pemahaman kelompok yang menjaga PLTS tentang pemeliharaan membuat 220 baterai rusak dan menyebabkan di tahun 2019 PLTS tidak bisa lagi di gunakan. Sehingganya sudah lebih kurang 2 tahun sudah, masyarakat Pinogu harus menjalani hidup yang minim akan listrik.

Tentunya, dengan banyaknya masyarakat yang ada di Kecamatan Pinogu tentunya kebutuhan energi listrik juga semakin besar. Namun, akses jalan yang sangat sulit membuat masyarakat Pinogu tidak dapat menikmati energi listrik yang memadai. Padahal, Pinogu sendiri memiliki potensi pertanian yang begitu besar seperti Kopi, Beras, Cokelat, Vanila dan lain sebagainya.

Kemunduran Ekonomi

Semenjak PLTS terpusat tidak lagi beroperasi, masyarakat kebanyakan menggunakan PLTS Pribadi, untuk menghidupkan peralatan elektronik tentunya tegangannya tidak mampu. Pun tidak semua masyarakat memiliki PLTS Pribadi. Selain itu, ada juga PLTDiesel di salah satu Desa yaitu Desa Tilonggibila yang kemudian di alirkan kepada dua desa lainnya, tidak bisa seluruh desa dikarenakan diesel kurang mampu untuk bisa mencukupi kebutuhan listrik di 5 Desa.

Listrik Diesel ini hanya bisa dinikmati mulai dari jam 6 sore sampai pada jam 10 malam di setiap harinya. Opsi terakhir adalah genset yang paling efektif untuk membantu aktivitas masyarakat. Namun, untuk bisa menggunakan genset tentunya butuh bahan bakar dan harga bahan bakar (bensin) yang ada di Pinogu harganya mahal sekitar Rp. 17.000/liter di karenakan biaya ojek yang mahal, karena harus membeli bensin di perkotaan.

Setiap 1 liter bensin hanya bisa di nikmati selama rata-rata 3 jam saja dan lagi lagi, tidak semua masyarakat memiliki genset. Untuk menangagi pinogu gelap saat malam hari pemerintah memasang penerangan di jalan umum guna bisa menerangi agar masyarakat bisa beraktifitas saat malam. Tetapi, tetap saja Pinogu nampak seperti kota mati. Miris bukan? Kekurangan listrik membuat masyarakat begitu tak berdaya, listrik tersedia hanya untuk penerangan semata. Sedangkan kebutuhan masyarakat melebihi kebutuhan itu.

Padahal, fokus pelistrikan desa pada umumnya di letakan pada usaha-usaha untuk membangkitkan atau meningkatkan kegiatan-kegiatan produktif masyarakat. Penggunaan listrik bisa untuk melakukan kegiatan seperti industri pedesaan, bengkel kecil, peralatan pertanian, dan alat elektronik lainnya. Jika kondisi listrik di Pinogu terus seperti ini maka membuat produktivitas menurun. Salah satunya adalah kebutuhan petani untuk menggunakan mesin agar bisa mengolah hasil tani sangat terkendala dan terpaksa harus mengeluarkan biaya untuk bisa menyalakan genset.

Lantas, para pemangku kepentingan yang ada di Pinogu mengaku bahwa sudah mengambil langkah untuk bermohon kepada pihak terkait agar dapat menyelesaikan permasalahan energi terbarukan ini. Namun, bahkan sudah setahun-dua tahun belum ada kabar dan tindak lanjut yang jelas dalam mengatasi masalah PLTS ini. Tentu dapat kita bayangkan bagaimana beratnya kendala yang harus lalui oleh 636 keluarga yang ada di Kecamatan Pinogu. Selain aktivitas pertanian, aktivitas lainnya seperti lembaga – lembaga pelayanan masyarakat, maupun kegiatan belajar mengajar untuk anak sekolah juga harus dilakukan dengan cara yang manual dan tentunya tidak efektif.

Maka dari itu, melalui tulisan ini tentunya kami sangat berharap untuk adanya percepatan dalam perbaikan PLTS Terpusat yang ada di Kecamatan Pinogu dan Infrastruktur (jalan) agar supaya dapat menunjang pertumbuhan perekonomian masyarakat. Infrastruktur (jalan) yang begitu sulit, di tambah lagi dengan listrik yang tidak memadai tentunya hal ini harus benar – benar menjadi perhatian bagi pemerintah kabupaten/kota sampai pemerintah pusat.

–##–

* Tim Maleo – Amati Indonesia terdiri dari Saripudin-Universitas Negeri Gorontalo. Mercy Kurnia Mamonto– Universitas Negeri Gorontalo. Ronal Pamungkas Abdullah– Universitas Negeri Gorontalo, Nella Natasya Manullang-Universitas Sari Mutiara Indonesia dan Shafira Sayyidati Azkia-Universitas Wahid Hasyim Semarang.