Mari kita lupakan Donald Trump. Jum’at, 19 February 2021 menjadi peristiwa bersejarah bagi John Kerry, Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, bidang Perubahan Iklim. Ia kembali memimpin upaya negara adidaya tersebut untuk mengejar empat tahun ketertinggalan aksi mengatasi krisis iklim.

Ya, Amerika Serikat secara resmi telah kembali bergabung dalam Persetujuan Paris. John Kerry adalah politisi veteran yang pada April 2016, sambil menggendong cucu perempuannya, dalam posisinya sebagai menteri luar negeri, mewakili AS menandatangani Persetujuan Paris.

AS saat itu bergabung bersama 194 negara yang lain berkomitmen untuk mencegah krisis iklim dan memimpin peralihan ke ekonomi rendah karbon yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kembalinya AS ini mendapat sambutan positif dari Sektretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres. “Hari ini adalah hari yang penuh harapan bagi dunia. Pemain penting dalam Persetujuan Paris telah kembali,” tuturnya.

Peluang-peluang apa yang bisa diupayakan sekembalinya Amerika Serikat ke Persetujuan Paris?

Laporan World Resources Institute (WRI) dan ClimateWorks Foundation, menggunakan data dari Climate Action Tracker berjudul “State of Climate Action: Assessing Progress toward 2030 and 2050” menjabarkan setidaknya 6 peluang aksi yang bisa didorong oleh Amerika Serikat dalam mencapai target Persetujuan Paris.

Hal itu karena aksi Persetujuan Paris tidak hanya bergantung pada satu negara, namun memerlukan sinergi semua negara untuk meningkatkan ambisi yang tercantum dalam masing-masing NDC atau nationally determined contribution.

Tujuannya satu: untuk menjaga peluang agar suhu bumi tak naik melampaui 1,5 derajat Celcius. Dampak berbahaya dari kenaikan suhu bumi bisa Anda temukan di situs ini.

Laporan “State of Climate Action” menyatakan, agar dunia tetap berada di jalur pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) di 2030 dunia perlu melakukan:

Pertama, meningkatkan bauran energi terbarukan dalam ketenagalistrikan lima kali lipat lebih cepat dibanding perkembangan saat ini

Kedua, dunia perlu menghapuskan kontribusi batu bara dalam ketenagalistrikan, lima kali lipat lebih cepat dibandingkan skenario business as usual (BAU).

Ketiga, dunia perlu mengurangi intensitas karbon dalam produksi listrik tiga kali lebih cepat.

Keempat, meningkatkan peralihan ke kendaraan elektrik 22 kali lebih cepat dibandingkan tingkat adopsi dalam beberapa tahun terakhir yang masih sangat minim.

Kelima, mempercepat peningkatan bauran bahan bakar rendah karbon 8 kali lebih cepat.

Dan yang terakhir, meningkatkan tutupan pepohonan lima kali lipat lebih cepat dibandingkan peningkatan tutupan pepohonan yang diraih dalam satu tahun.

Dalam aksi-aksi di atas lah Amerika Serikat diharapkan bisa kembali dan lebih banyak berperan.

Menurut laporan WRI, diperlukan transformasi yang cepat untuk mengurangi separuh emisi pada tahun 2030. Transformasi ini memerlukan investasi finansial yang signifikan, transfer teknologi, dan upaya peningkatan kapasitas, terutama untuk negara-negara berkembang.

Meskipun pendanaan iklim telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir di sektor publik, swasta dan filantropi, namun peningkatan itu masih belum cukup untuk merevolusi sistem energi dan transportasi, mempercepat efisiensi energi dan melindungi hutan-hutan dunia.

Laporan WRI memperkirakan, diperlukan pendanaan antara $1,6 dan $3,8 triliun per tahun hingga tahun 2050 untuk mengubah sistem energi saja.

Sejarah telah menunjukkan bahwa perubahan transformatif bisa terjadi. Banyak perubahan sistemik yang dulunya tampak tidak mungkin, akhirnya tercapai, seperti kemajuan teknologi di industri otomotif dengan berbagai inovasi mobil listrik dan kendaraan ramah lingkungan lain, perkembangan telepon pintar, dan juga komputer yang semakin kuat dan cepat.

Menurut laporan WRI, transisi cepat menuju masa depan nol karbon juga menawarkan peluang yang sama – tentunya jika disertai strategi investasi yang cerdas dan proaktif di sektor-sektor utama.

Untuk itu, negara, bisnis, filantropi, dan sektor-sektor lainnya diharapkan segera menerapkan kebijakan, insentif, dan investasi keuangan untuk mempercepat transisi menuju masa depan yang lebih adil, aman dan sejahtera.

Redaksi Hijauku.com