Penelitian terbaru berhasil mengungkap jumlah korban akibat polusi energi kotor. Yang mengagetkan, jumlah korban khusus akibat polusi energi kotor ternyata lebih tinggi dibanding data jumlah korban polusi udara pada umumnya yang diperkirakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencapai 7 juta jiwa per tahun.

Temuan ini diterbitkan dalam laporan terbaru berjudul “Global mortality from outdoor fine particle pollution generated by fossil fuel combustion” dalam Jurnal Elsevier, 9 February, 2021.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Karn Vohra dari University of Birmingham dan Alina Vodonos dari Harvard University menyatakan, pembakaran bahan bakar fosil – terutama batu bara, bensin, dan solar – adalah sumber utama polusi partikulat halus di udara (PM2,5), yang bertanggung jawab terhadap jutaan kematian dan penyakit global.

Analisis risiko sebelumnya sebenarnya telah meneliti secara umum dampak kesehatan dari PM2,5, tidak hanya dampak PM2,5 dari pembakaran bahan bakar fosil. Untuk itu dalam penelitian ini, tim berfokus meneliti kematian yang terkait dengan PM2,5 hanya dari pembakaran bahan bakar fosil. Tim peneliti menggunakan meta-analisis terbaru dari studi terkini dengan rentang paparan yang lebih luas.

Tim peneliti menggunakan model transportasi kimia GEOS-Chem guna memperkirakan tingkat paparan global PM2,5 khusus yang terkait bahan bakar fosil pada tahun 2012.

Tim peneliti memodelkan risiko relatif mortalitas/tingkat kematian dengan menghubungkan paparan jangka panjang PM2,5 dan tingkat mortalitas di berbagai wilayah di dunia. Mereka menggabungkan paparan secara nonlinier dalam merespons efek konsentrasi PM2,5.

Hasilnya, tim peneliti memperkirakan, total kematian prematur khusus akibat polusi bahan bakar fossil di seluruh dunia mencapai 10,2 juta (95% CI: -47,1-17,0) setiap tahun, jauh di atas jumlah kematian akibat polusi udara secara umum yang dilaporkan WHO.

Tim peneliti menyatakan, dampak kematian terbanyak diperkirakan terjadi di wilayah dengan konsentrasi PM2,5 terkait bahan bakar fosil tertinggi, terutama di China (3,9 juta), India (2,5 juta) dan sebagian wilayah timur Amerika Serikat, Eropa dan Asia Tenggara.

Khusus untuk China, tim peneliti berhasil menganalisis dampak penurunan substansial polusi PM2,5 terkait bahan bakar fosil yang mencapai 43,7% dari 2012 hingga 2018. Dampak penurunan ini, jumlah kematian prematur di China akibat polusi PM2,5 dari bahan bakar fosil turun menjadi 2,4 juta jiwa. Sehingga total kematian dini secara global berkurang menjadi 8,7 juta (95% CI: -1,8 hingga 14,0).

Tim peneliti juga memperkirakan adanya peningkatan kematian tahunan akibat infeksi saluran pernafasan bagian bawah pada anak-anak (usia 0-4 tahun) sebanyak 876 jiwa di Amerika Utara, 747 jiwa di Amerika Selatan, dan 605 jiwa di Eropa akibat polusi PM2,5. Hasil ini semakin memperkuat efek mortalitas dari polusi PM2,5 dari komponen bahan bakar fosil.

Masalah ini bukan tanpa solusi. Tim peneliti mewanti-wanti polusi akibat pembakaran bahan bakar fosil dapat lebih mudah dikendalikan daripada sumber dan prekursor PM2,5 lainnya seperti debu atau asap kebakaran hutan.

Untuk itu, tim peneliti menyeru pada pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan untuk lebih mendorong peralihan ke sumber energi bersih.

Redaksi Hijauku.com