Wilderness - Unsplash - PixabayDunia telah kehilangan 9,6% alam liar sejak tahun 1990 dengan luas mencapai 3,3 juta km2. Sebagian besar kehilangan terjadi di wilayah Amerika Selatan. Hal ini terungkap dalam laporan yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, Kamis, 8 September 2016.

Laporan ini memerkirakan, jika tren ini berlanjut dunia akan kehilangan sebagian besar alam liarnya dalam waktu kurang dari satu abad. Alam liar adalah wilayah alami yang belum mendapat campur tangan manusia.

Total luas alam liar dunia yang masih tersisa saat ini mencapai 30,1 juta km2 (atau 23,2% dari wilayah daratan di bumi). Mayoritas alam liar ini terdapat di Amerika Utara, Asia Utara, Afrika Utara dan benua Australia.

Wilayah Amerika Selatan menjadi wilayah dengan tingkat kehilangan alam liar terbanyak mencapai 29,6%. Wilayah Afrika menempati urutan kedua dengan tingkat kehilangan alam liar sebesar 14% dari total kehilangan alam liar dunia.

Menurut tim peneliti, sebagian besar alam liar yang tersisa (82,3% atau 25,2 juta km2) terdiri dari wilayah daratan yang sangat luas mencapai setidaknya 10.000 km2. Tim peneliti menyebutnya sebagai blok-blok alam liar besar yang sesuai dengan standar wilayah keanekaragaman hayati utama dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Pengelompokan wilayah-wilayah ini berperan penting untuk mengidentifikasi komunitas ekologis.

Kerusakan alam liar ini berdampak pada emisi gas rumah kaca sekaligus hilangnya simpanan karbon. Tim peneliti mencontohkan, kebakaran di Sumatera dan wilayah Borneo pada 1997, telas melepaskan 1 Pg (Petagram) emisi karbon / 1 Gigaton (Gt) emisi karbon, yang setara dengan 10% emisi yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dalam satu tahun. Dampak lain adalah efek terhadap kesehatan, kehilangan keanekaragaman hayati, peningkatan risiko bencana seperti banjir, longsor dan wabah penyakit.

Redaksi Hijauku.com