Apa yang akan terjadi jika 7 miliar penduduk bumi beraksi menyelamatkan lingkungan? Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) tahun ini menetapkan “Seven Billion Dreams. One Planet, Consume with Care” sebagai tema Hari Lingkungan Hidup Dunia.
Di Indonesia, tema tersebut diterjemahkan menjadi “Mimpi dan Aksi Bersama untuk Keberlanjutan Kehidupan di Bumi”. Tema ini menjadi tema sentral dalam rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup di Tanah Air.
Tujuh miliar manusia saat ini telah menghuni bumi. Jumlah penduduk bumi ini akan terus bertambah menjadi 9 miliar pada 2050. Dengan pola konsumsi manusia saat ini, menurut UNEP, manusia memerlukan tiga planet guna memenuhi kebutuhan kita sehari-hari.
Pesan yang ingin disampaikan adalah, pola konsumsi penduduk bumi saat ini jauh lebih tinggi dari kemampuan bumi untuk menyediakannya. Bumi hanya satu, sumber daya alam di dunia tidak tak terbatas.
Pola konsumsi penduduk bumi atas air, pangan dan energi terus berdampak negatif terhadap lingkungan. Diperlukan kearifan bersama dalam mengonsumsi sumber daya alam untuk generasi mendatang. Dari sinilah panggilan untuk beraksi dimulai. Panggilan ini ditujukan bagi individu, untuk diri sendiri agar kemudian bersinergi, menciptakan perubahan.
Aksi ini tidak hanya untuk kita, namun juga untuk generasi mendatang. Untuk anak-anak kita, cucu-cucu kita, desa kita, tempat bermain kita, negara kita, alam kita, tanah kelahiran, tanah tumpah darah tercinta.
Perilaku kita dalam mengonsumsi air misalnya. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa hanya ada 3% dari air di bumi yang bisa langsung dikonsumsi oleh manusia. Dari angka 3% tersebut sebanyak 2.5% nya masih membeku di Antartika, Arktika dan di pegunungan-pegunungan tinggi sebagai gletser.
Seluruh penduduk di bumi hanya bisa memanfaatkan – dan akhirnya memerebutkan – 0,5% air tawar yang tersedia di ekosistem guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Pada saat yang sama prilaku buruk kita, manusia terus berlanjut. Manusia terus mencemari sungai dan danau yang merupakan sumber air tawar utama. Proses pencemaran ini lebih cepat dari siklus alam untuk mendaur ulang dan memurnikan kembali air yang sudah tercemar.
Hasilnya, menurut data UNEP, 1 miliar penduduk bumi tidak memiliki akses yang layak atas air tawar, sementara sebagian penduduk lain masih menggunakan air secara berlebihan, memicu krisis air bersih. Air memang masih bisa diperoleh secara gratis di alam, namun biaya untuk membangun infrastrukturnya semakin mahal.
Hal yang sama terjadi pada pangan. Kebiasaan kita dalam memilih dan mengonsumsi makanan berdampak besar terhadap lingkungan. Pilihan dan gaya hidup kita, memengaruhi jumlah energi yang digunakan untuk memroduksi pangan dan jumlah limbah pangan.
Data UNEP menyebutkan, 1,3 miliar ton pangan terbuang setiap tahun. Pada saat yang sama, 1 miliar penduduk dunia kekurangan gizi dan 1 miliar lainnya kelaparan. Padahal masih banyak dari kita yang mengonsumsi pangan secara berlebihan yang berdampak negatif, tidak hanya terhadap lingkungan, namun juga terhadap kesehatan. Data UNEP menunjukkan 1,5 miliar penduduk di bumi menderita obesitas atau kelebihan berat badan.
Bagai lingkaran setan, dampak dari perilaku negatif manusia terus berlanjut. Degradasi lingkungan terus berlangsung, kesuburan tanah terus menurun, air digunakan secara serampangan, ikan dieksploitasi dan laut terus dirusak.
Sektor pangan juga mengonsumsi sekitar 30% total energi dunia dan menghasilkan 22% emisi gas rumah kaca global. Emisi gas rumah kaca merupakan pemicu utama perubahan iklim dan pemanasan global. Perubahan iklim dan pemanasan global merusak keamanan pangan, mengganggu produksi, memicu kenaikan harga.
Di sektor energi, rumah tangga mengonsumsi 29% energi dunia dan menghasilkan 21% emisi gas rumah kaca. Konsumsi energi di sektor transportasi dan jasa terus meningkat dipicu oleh meningkatnya jumlah perjalanan dan distribusi barang termasuk di sektor ekonomi berbasis jasa.
Kabar baiknya, solusi tersedia. 7 miliar penduduk bumi adalah jawabannya. Keputusan kita untuk beralih ke energi terbarukan menentukan nasib generasi mendatang. Konsumsi pangan secara bijak. Jangan membuang-buang makanan.
Mari beralih ke transportasi publik. Kelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Bersihkan tanah, air dan udara. Perubahan itu ada di tangan kita. Jika semua beraksi, perubahan akan semakin nyata. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2015. Konsumsilah dengan bijaksana. Hiduplah dengan lebih bermakna.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment