Tinggal 125 hari lagi, Dr. Sultan Al Jaber sebagai Presiden-Tertunjuk COP28 dan Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif dari UNFCCC menyetujui pernyataan bersama di sela-sela pertemuan tingkat menteri G20 di Chennai.

“Para ilmuwan menuntut adanya hasil mitigasi yang kuat pada COP28 sehingga mampu mendorong pengurangan emisi karbon secara signifikan dan menunjukkan peningkatan dari COP sebelumnya,” ujar para pemimpin dalam pernyataannya.

Meskipun diskusi pada G20 Energy Ministrial telah mempertimbangkan transisi energi dan menyelaraskan arah tujuan dengan Paris Goals, hasilnya belum cukup jelas untuk mengubah sistem energi global, meningkatkan sumber energi bersih dan terbarukan, serta mengurangi bahan bakar fosil secara bertanggung jawab.

G20 harus mempertegas komitmennya dalam mencapai pendanaan untuk operasionalisasi serta aransemen terkait dana kerugian dan kerusakan. Para garda terdepan perubahan iklim membutuhkan dukungan saat ini, bukan dalam 5 tahun yang akan datang.

G20 harus menunjukkan kemampuannya dalam menyokong negara yang paling rentan terhadap iklim, termasuk negara kurang berkembang dan negara berkembang di kepulauan kecil.

Para pemimpin juga mendesak negara-negara G20 untuk meningkatkan urgensi dalam mendefinisikan Global Goal on Adaptation (GGA) dan melakukan operasionalisasi terhadap dana kerugian dan kerusakan agar “berada di tahap setara.”

Negara-negara G20 didesak “untuk segera memprioritaskan komitmen yang terbaru, baik terkait NDC, RAN, atau pendanaan iklim, termasuk kontribusi yang ambisius pada GCF agar selaras dengan Paris Goals.”

Chennai, 27 Juli – Dr. Sultan Al-Jaber, Presiden-Tertunjuk COP28 dan Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), telah mendesak negara anggota G20 untuk mengambil langkah tegas terkait mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Dengan 125 hari yang tersisa, para pemimpin ini telah menyetujui sebuah pernyataan bersama di sela-sela pertemuan tingkat Menteri G20 di Chennai.

Para ilmuwan telah menuntut adanya hasil mitigasi yang kuat pada COP28 yang mampu mendorong pengurangan emisi karbon yang signifikan dan menunjukkan peningkatan dari COP yang sebelumnya. Kami meminta negara G20 untuk memimpin berdasarkan basis keilmuan dan kesetaraan agar dapat membuka jalan untuk hasil yang kuat dan kredibel sehingga memberikan dasar bagi negara-negara berkembang dalam melakukan transisi,” kata para pemimpin dalam pernyataan tersebut.

“Bersama-sama, kita perlu mengambil langkah penting untuk mempercepat penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara perlahan dan bertanggung jawab, sehingga kita dapat memiliki sistem energi yang bebas dari bahan bakar fosil pada pertengahan abad ini dan secara parallel membuka akses untuk semua sekaligus mempromosikan pembangunan berkelanjutan,” ungkap mereka dalam penyataan tersebut, yang menegaskan kembali pentingnya melipatgandakan kapasitas energi terbarukan global dan menggandakan tingkat peningkatan efisiensi energi di seluruh sektor pada tahun 2030.

Meskipun diskusi pada G20 Energy Ministrial telah mempertimbangkan transisi energi dan menyelaraskan arah tujuan dengan Paris Goals, hasilnya belum cukup jelas untuk mengubah sistem energi global, meningkatkan sumber energi bersih dan terbarukan, dan secara bertanggung jawab mengurangi bahan bakar fosil.

“Kami berharap seluruh kemajuan yang dicapai oleh G20 dapat mendorong hasil yang kuat pada COP28 di bawah Global Stocktake serta mampu memanfaatkan Program Just Transition Work yang ditetapkan pada COP27 untuk memastikan bahwa transisi ini adil, tidak membiarkan siapapun tertinggal, dan mendukung tantangan pembangunan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dalam melakukan transisi ini,” ungkapnya dalam pernyataan itu.

Para pemimpin juga mendesak negara-negara G20 untuk meningkatkan urgensi dalam mendefinisikan Global Goal on Adaptation (GGA) dan melakukan operasionalisasi terhadap dana kerugian dan kerusakan “agar berada ditahap setara, untuk memastikan bahwa kepentingan manusia dalam menghadapi perubahan iklim menjadi fokus utama dari keputusan yang diambil.” Adaptasi finansial harus lebih diutamakan, ungkap para pemimpi tersebut.

“G20 harus mempertegas komitmennya dalam mencapai operasionalisasi pendanaan serta aransemen terkait dana kerugian dan kerusakan. Mereka yang ada di garda terdepan perubahan iklim membutuhkan dukungan kita saat ini, bukan dalam 5 tahun yang akan datang. Ini adalah tolak ukur ambisi kita bersama,” kata mereka dalam pernyataan tersebut. Mereka juga meminta G20 untuk menunjukkan bahwa G20 dapat mendukung mereka yang paling rentan terhadap iklim, termasuk negara kurang berkembang dan negara berkembang pulau kecil.

Penyampaian agenda 2023 akan berfokus pada menciptakan pendanaan iklim yang lebih tersedia, terjangkau, dan dapat diakses oleh negara-negara berkembang, ungkap para pemimpin itu. “Aransemen pendanaan iklim perlu diubah untuk memenuhi skala yang diperlukan, agar dapat bekerja dengan lebih baik sebagai sebuah sistem dan mendukung mobilisasi pendanaan swasta pada tingkat yang belum pernah dicapai sebelumnya.”

Para pemimpin juga mendesak negara-negara G20 “untuk segera memprioritaskan komitmen yang terbaru, baik terkait NDC, RAN, atau pendanaan iklim, termasuk kontribusi yang ambisius pada GCF agar selaras dengan Paris Goals.”

“Kita harus meninggalkan Chennai melalui jalan yang tepat dan dengan tanda yang jelas bahwa keinginan secara politis untuk mengatasi krisis iklim dan meluncurkan era baru pembangunan benar-benar ada dalam genggaman kita, karena perjalanan menuju COP28 begitu singkat. Setiap pertemuan penting, sehingga setiap hasil harus membawa kita lebih dekat pada tujuan. Dunia membutuhkan para pemimpinnya untuk bersatu, bertindak, dan beraksi; dan itu harus dimulai dengan G20,” ungkap mereka menutup pernyataan tersebut.

-SELESAI-

Untuk seluruh kepentingan dan permohonan untuk wawancara, silakan menghubungi comms@cop28.com Untuk informasi terbaru terkait COP28, silakan mengikuti kami melalui Twitter @COP28_UAE

Catatan untuk Editor:

COP28 UAE:

COP28 UEA akan berlangsung di Expo City pada tanggal 30 November – 12 Desember 2023. Konferensi ini diperkirakan akan mengumpulkan lebih dari 70.000 peserta, termasuk kepala negara, pejabat pemerintah, pemimpin industri internasional, perwakilan sektor swasta, akademisi, pakar, pemuda, dan aktor non-pemerintah.

Sebagaimana diamanatkan oleh Perjanjian Iklim Paris, COP28 UEA akan memberikan Global Stocktake pertama – evaluasi komprehensif kemajuan terhadap tujuan iklim.

UEA akan memimpin proses agar semua pihak menyepakati peta jalan yang jelas untuk mempercepat kemajuan melalui transisi energi global pragmatis dan menyetujui akan pendekatan “tidak ada yang tertinggal” terhadap aksi iklim inklusif.

Global Goal on Adaptation (GGA) adalah Tujuan yang Ditetapkan dalam Perjanjian Paris untuk meningkatkan kapasitas adaptif, memperkuat ketahanan, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim.