Analisis PBB terbaru memperingatkan dunia akan mengalami krisis finansial, pangan dan energi akibat perang Rusia dan Ukraina.  Analisis berjudul “Global Impact of war in Ukraine on food, energy and finance systems” ini diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu, 13 April lalu.

Menurut analisis PBB, perang di Ukraina, dalam semua dimensinya, menghasilkan efek penurunan atau “cascading effect” yang sangat mengkhawatirkan untuk ekonomi dunia yang sudah terpukul oleh COVID-19 dan perubahan iklim dengan sangat dramatis, terutama di negara-negara berkembang.

UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) memproyeksikan, pertumbuhan PDB atau ekonomi dunia akan turun satu poin persentase penuh dari yang diharapkan akibat perang. Perang menurut UNCTAD saat ini sudah sangat mengganggu pasokan pangan, energi, dan keuangan dunia.

Negara yang tengah berkonflik yaitu Ukraina dan Federasi Rusia adalah salah satu “keranjang roti” dunia. Mereka menyediakan sekitar 30 persen gandum dan barli (sejenis sereal), seperlima pasokan jagung dan lebih dari setengah pasokan minyak bunga matahari dunia.

Pada saat yang sama, Federasi Rusia adalah pengekspor gas alam nomor satu dan pengekspor minyak terbesar kedua dunia. Bersama dengan negara tetangganya Belarusia, Federasi Rusia juga mengekspor pupuk terbesar kelima dunia.

Akibatnya, harga komoditas melejit mencapai rekor tertinggi. Pada 8 April 2022, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat rekor harga pangan selama tiga kali berturut-turut. Harga makanan saat ini 34% lebih tinggi dari tahun lalu dan tidak pernah setinggi ini sejak FAO memulai pencatatan.

Demikian pula dengan harga minyak mentah yang telah meningkat sekitar 60%, dan gas dan pupuk yang harganya naik lebih dari dua kali lipat.

Yang paling dirugikan? PBB menyebut masyarakat di negara-negara berkembang. Mereka sangat rentan terhadap perubahan-perubahan harga ini. Hal ini karena masyarakat di negara berkembang mengalokasikan dana yang lebih besar dari pendapatan mereka untuk makanan dan energi.

Negara termiskin di dunia cenderung menjadi pengimpor pangan dan energi. Sementara naiknya harga pangan akan memperburuk proses impor dan ekspor pangan mereka. Pada tingkat harga pangan dan energi seperti saat ini, FAO
memperkiraan, peningkatan kekurangan gizi dan kerawanan pangan buruk sangat mungkin terjadi.

Yang lebih menakutkan, dalam lingkungan yang sudah mengalami stres sosial ekonomi tingkat tinggi akibat COVID-19, kenaikan harga pangan akan berdampak langsung terhadap kerusuhan sosial. Analisis UNCTAD berdasarkan data historis mengungkapkan korelasi, secara umum, antara kerusuhan sipil dan kenaikan harga pangan atau komoditas pertanian.

Menurut PBB, gangguan di rantai pasokan global dan pasar keuangan semakin memperumit kondisi ini. Kenaikan biaya pengiriman, bahkan sebelum perang dimulai, memperumit upaya pengubahan rute rantai pasokan dunia dan meningkatkan
biaya impor dan harga di konsumen.

Lebih jauh lagi, inflasi global telah naik ke level tertinggi dalam satu dekade sebesar 5,2% tahun lalu, memaksa banyak bank sentral memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan, yang tentunya akan semakin membebani biaya pembayaran utang negara berkembang.

Laporan “Financing for Sustainable Development Report 2022” menyebutkan, paling sedikit “60 persen negara miskin dan negara berpenghasilan rendah lainnya sudah berisiko tinggi atau sudah terlilit utang.”

Menurut PBB, “badai sempurna” ini datang seiring dengan tekanan sosial dan ekonomi yang besar akibat pandemi COVID-19. Sejak 2019, jumlah orang yang mengalami kelaparan meningkat 46 juta di Afrika, sekitar 57 juta di Asia, dan sekitar 14 juta lebih di Amerika Latin dan Karibia.

Ditambah lagi 77 juta orang saat ini masih hidup dalam kemiskinan ekstrim; penutupan sekolah telah menyebabkan hilangnya potensi pendapatan seumur hidup sebesar total $17 triliun untuk generasi sekarang; dan lebih dari enam juta nyawa hilang akibat penyakit COVID-19.

Pada saat yang sama, ketidaksetaraan akses ke vaksin COVID-19 yang diperparah ketidaksetaraan akses ke sumber daya keuangan semakin menyulitkan negara-negara miskin untuk pulih dari pandemi. Saat ini, dosis vaksin per 100 orang mencapai 193,6 di negara-negara berpenghasilan tinggi sementara di negara-negara berpenghasilan rendah hanya 22,1.

Semua risiko di atas menurut PBB akan berdampak negatif terhadap kehidupan miliaran orang di seluruh dunia. Untuk mengatasi hal ini, PBB menyeru semua negara-negara untuk saling bekerja sama, menggunakan semua mekanisme secara efisien untuk saling membantu sesama. Tidak hanya negara, PBB juga menyeru kepada lembaga filantropi, perusahaan swasta dan masyarakat sipil untuk turut serta dalam menangani ancaman krisis tiga dimensi ini.

Redaksi Hijauku.com