Oleh: Swary Utami Dewi *
Hari itu bertepatan dengan tanggal 1 Muharam, tahun baru hijriah, atau tanggal 20 Agustus 2020. Saat itu saya sedang menunggu paket spesial dari mentorku di The Climate Reality Indonesia, Amanda Katili. Dan datanglah kiriman itu. Inilah yang sudah beberapa saat ditunggu: the green pin. Bentuknya bulat berwarna hijau muda. Di belakangnya ada semacam pentul besi sehingga pin itu bisa disematkan di kemeja atau baju.
“Wear this pin as a symbol of your commitment to help spread the reality of the climate crisis. Wear it, and you are taking a stand for action. Wear it, and together we can change the world.”
Kalimat-kalimat tersebut ada di kertas penyemat pin hijau muda tadi. Saya merinding membacanya. Setelah sekian lama begabung dan menjadi bagian dari The Climate Reality Indonesia semenjak 2009, saya mempertanyakan diri sendiri. “Hei, Tami, apa yang sejauh ini sudah kamu lakukan untuk menyelamatkan bumi ini? Apa yang telah kamu perbuat untuk orang lain?” Begitu kira-kira yang terbersit dalam benak ini.
Tentu terlalu tinggi rasanya jika klaim menjadi penyelamat bumi hanya dilakukan oleh orang per orang, ataupun dilakukan oleh sekelompok orang secara eksklusif saja. Maka membaca kalimat yang ada di kertas penyemat pin ini juga mengingatkan pada hal lain, bahwa urusan membuat bumi tetap ada bagi semua dan bagi masa depan adalah urusan bersama. Setiap dari kita bisa melakukannya.
Karena setiap dari kita bisa melakukannya, ini seakan menjadi penyambung pertanyaan refleksi saya tadi: Apa yang sejauh ini sudah dilakukan? Maka saya mencoba “mendaftarkan kembali” apa kira-kira yang sudah diperbuat. Paling tidak, catatan kegiatan, bahkan sebelum tahun 2009 (2009 adalah saat pertama saya menjadi bagian dari The Climate Reality Indonesia).
Pertama adalah advokasi kebijakan dan mendorong percepatan implementasi Social Forestry. Ini sebenarnya sudah lebih jauh dilakukan bersama para sahabat. Semenjak saya memulai perhatian pada isu masyarakat adat dan masyarakat sekitar hutan, semenjak itu pula saya mulai menjalani kegiatan terkait. Namun aksi nyatanya baru terjadi saat saya bergabung di tim Multistakeholder Forestry Programme (MFP) pada 2001. Tempat berkarya selama 6 tahun ini mengantarkan saya pada jejak keasyikan bekerja untuk isu Pehutanan Sosial hingga sekarang. Tentunya, dengan tujuan agar masyarakat juga memperoleh manfaat ekonomi secara berkesinambungan berdasarkan tiga pilar: ekologi, ekonomi dan sosial. Satu tidak lebih penting dari yang lain. Satu harus berjalan beriringan dengan dua lainnya.
Kemudian, saya sempat bergabung dengan berbagai program yang fokusnya untuk menjamin dan melindungi hak masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan dan mengelola hutan secara adil dan lestari. Beberapa contohnya adalah Kemitraan, Borneo Tropical Rain Forests (BTRF) serta Kalimantan Forests and Climate Parnership (KFCP).
Sejak 2006, saya bersama beberapa sahabat juga mendorong terbentuknya Kawal Borneo Community Foundation (KBCF), yang berpusat di Samarinda. Lingkup kerja KBCF ini juga kurang lebih sama. Masyarakat hutan di Kalimantan bisa difasilitasi mendapatkan akses legal pengelolaan kawasan hutan dalam berbagai bentuk. Sampai sekarang, Mukti Ali, Hendra dan beberapa kawan masih sangat giat bekerja bersama masyarakat, sementara aku tetap menjalankan fungsi sebagai board.
Selain pernah bergabung dalam beberapa program Social Forestry, lingkungan ataupun perubahan iklim seperti tersebut di atas, saya juga berkutat secara intensif dalam kelompok kerja advokasi terkait. Pertama, sejak akhir 2006, oleh Menteri Kehutanan saat itu (MS Kaban) dibentuk kelompok kerja pemberdayaan masyarakat. Bahasa ringkasnya WGP atau Working Group Pemberdayaan. Kerja-kerja WGP salah satunya adalah mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan masyarakat pra-sejahtera di dalam dan sekitar hutan. Paling tidak saya dan kawan-kawan di Working Group Pemberdayaan (sejak 2006 bersama Mas Hery Santoso, Mas Suwito, Kang Rakhmat Hidayat, lalu ada Nurka dan Gladi) membantu membahas dan mendorong lahirnya bebe)rapa Peraturan Menteri Kehutanan terkait (Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat dan Hutan Desa).
Kini tim yang sama tetap ada. Sejak beberapa tahun terakhir semenjak semua kebijakan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dikonsolidasikan menjadi Perhutanan Sosial, tim yang kurang lebih serupa tetap bekerja erat untuk mendorong percepatan implementasi. Namanya adalah TP2PS, Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial. Di bawah dorongan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dan tentunya kerja padu dengan tim Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, kerja-kerja bersama terus dilakukan, termasuk saat pandemi ini.
Juga, kerja-kerja terkait baik secara individu maupun tim terus dilakukan hingga kini. Menjadi tutor, narasumber, mentor, verifikator dan evaluator untuk isu perhutanan sosial, perubahan iklim dan lingkungan. Beberapa tahun terakhir, utamanya sejak pandemi, saya juga lumayan produktif menulis berbagai artikel bertemakan perhutanan sosial, perubahan iklim dan lingkungan serta cerita-cerita dari tingkat tapak.
Tentu masih banyak yang bisa dilakukan untuk isu-isu tersebut di atas. Kerja-kerja berdasarkan cinta ini adalah kerja batin. Kerja secara genuine karena dorongan hati. Dan saat melihat ada perubahan yang lebih baik dan terus lebih baik, perasaan ini membuncah bahagia. Jalan ke depan pun tetap dijalani secara konsisten. Sumbangan kecil saya untuk bumi dan masyarakat ini semoga bisa memberi arti.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah seorang Climate Reality Leader, Pegiat Perhutanan Sosial dan anggota Board Kawal Borneo.
Leave A Comment