Pemanasan global pada akhir abad ini diproyeksikan akan turun sebesar 0,2˚C menjadi 2,4˚C paska penyelenggaraan “Leaders Summit on Climate,” yang berlangsung secara daring 22-23 April lalu.

Penurunan proyeksi ini berasal dari peningkatan komitmen atau ambisi sejumlah negara dalam kerangka Persetujuan Paris untuk memangkas emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim dan pemanasan global yang diumumkan dalam Leaders Summit on Climate.

Dengan kata lain, proyeksi penurunan pemanasan global tersebut sebagian besar berasal dari peningkatan ambisi dalam Nationally Determined Contributions (NDCs) yang sudah ada. Ambisi-ambisi yang sudah ada tersebut kemudian dianalisis oleh Climate Action Tracker (CAT).

Kontributor terbesar penurunan proyeksi pemanasan global paska Leaders Summit on Climate ini adalah AS, EU27 (Uni Eropa), China dan Jepang meskipun China dan Jepang belum secara resmi mengajukan target “net zero emission” di 2030 ke PBB.

Negara-negara lain seperti Kanada telah mengumumkan target baru, target Afrika Selatan meningkat, sementara Argentina telah mengumumkan target yang lebih ambisius dibandingkan target yang mereka ajukan Desember lalu. Negara lain yaitu Inggris telah mengumumkan target 2035 yang lebih ambisius.

Dalam Leaders Summit on Climate juga terdapat sejumlah negara/pemimpin negara yang tidak mengumumkan peningkatan ambisi dalam NDC. Mereka adalah para pemimpin dari India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi dan Turki.

Korea Selatan, Selandia Baru, Bhutan, dan Bangladesh semuanya berkomitmen untuk mengirimkan NDC yang lebih kuat tahun ini.

Australia membuat komitmen yang tidak jelas dalam mencapai target “net zero emission” dengan.tidak menyebutkan tanggal yang pasti, sementara target NDC 2030 mereka tidak diperbaharui. Sementara Brasil mengandalkan target netralitas iklim, namun setelah mereka mengubah baseline, sehingga target 2030 mereka menjadi lebih lemah.

Hasil pemantauan CAT menemukan, jumlah negara yang mengadopsi atau mempertimbangkan target “net zero emission” pada tahun 2030 telah naik menjadi 131 negara, yang mencakup 73% emisi GRK global dalam kerangka Persetujuan Paris.

Menurut analisis CAT, dalam skenario yang optimistis, proyeksi pemanasan global bahkan akan bisa ditekan hingga 2.0˚C pada akhir abad ini. Skenario ini terjadi saat semua target “net zero emission” dalam Nationally Determined Contributions – baik yang sudah dikirimkan atau yang belum dikirim sebagaimana potensi di atas  bisa dipenuhi.

Masih dalam skenario optimistis, CAT pada bulan Desember 2020 masih memproyeksikan pemanasan global hingga 2,1˚C pada akhir abad ini.

Lebih dari 40% negara yang telah meratifikasi Persetujuan Paris, mewakili sekitar setengah emisi global dan sekitar sepertiga dari populasi global, telah mengirimkan NDC yang diperbarui.

Perhitungan akhir CAT menunjukkan, kesenjangan emisi 2030 antara janji-janji dalam NDC dan jalur 1,5˚C telah dipersempit sebesar 11-14%. Artinya masih ada 86-89% emisi tersisa yang harus dipangkas di 2030 agar dunia berada dalam jalur 1,5˚C.

Potensi Aksi Iklim

Menurut CAT, negara-negara dunia masih bisa mengurangi emisi global hingga 50% dalam 10 tahun ke depan seperti yang disyaratkan oleh Persetujuan Paris. “Namun mereka harus beralih ke mode darurat (dan meningkatkan aksi jangka pendek mereka),” ujar Niklas Höhne dari NewClimate Institute, mitra CAT.

Terdapat sejumlah potensi aksi pengurangan emisi untuk masuk dalam jalur 1,5˚C. Yang paling menjanjikan menurut CAT adalah peralihan ke listrik dari energi terbarukan dan kendaraan listrik, saat perkembangan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon untuk sektor industri dan bangunan berjalan terlalu lambat.

CAT juga menyoroti kebijakan sejumlah negara yang berlawanan dengan semangat Persetujuan Paris. Mereka terus membangun pembangkit pembangkit listrik tenaga uap batu bara baru, meningkatkan penggunaan gas alam sebagai sumber listrik, dan beralih ke kendaraan pribadi yang lebih besar dan kurang efisien.

Jika praktik tersebut terus berlangsung, CAT memperkirakan, pemanasan global pada akhir abad ini bisa berlipat ganda, mencapai 2,9˚C. “Tidak ada cara selain bagi negara-negara dunia selain meningkatkan aksi mereka (dalam mengatasi perubahan iklim dan pemanasan global),” pungkas CAT.

Redaksi Hijauku.com