Persetujuan Paris atau Paris Agreement berpotensi mencegah hilangnya jutaan nyawa di seluruh dunia. Indonesia kehilangan kesempatan yang sangat berharga ini.
Semua berawal dari komitmen negara untuk mecapai target Persetujuan Paris yang tercantum dalam Nationally Determined Contributions (NDCs). Persetujuan Paris berupaya mencegah kenaikan suhu bumi di bawah 2°C dengan target ambisius di bawah 1,5°C.
Dalam prosesnya, upaya ini ternyata membawa manfaat kesehatan yang nyata. Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbaru berjudul The public health implications of the Paris Agreement: a modelling study, yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Ian Hamilton, dari UCL Energy Institute, University College London, menciptakan skenario pemodelan guna menganalisis manfaat kesehatan dari NDC di 2040 untuk sembilan negara yaitu, Brasil, Cina, Jerman, India, Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat. Negara-negara ini dipilih berdasarkan kontribusi mereka terhadap peningkatan konsentrasi emisi gas rumah kaca global serta pengaruhnya di level global atau regional.
Mereka memodelkan sektor energi, pangan, pertanian, dan transportasi dan mengaitkannya dengan risiko kematian akibat polusi udara, pola makan/diet, dan aktivitas fisik.
Tabel 1. Potensi Manfaat Persetujuan Paris untuk Indonesia
| Indonesia | Jumlah Kematian yang bisa dicegah | Jumlah Kematian yang bisa dicegah per 100.000 populasi | ||||
| Polusi udara | Pola makan | Aktivitas fisik | Polusi udara | Pola makan | Aktivitas fisik | |
| SPS | 130.541 | 301.970 | 37.759 | 42 | 97 | 12 |
| HPS | 159.129 | 321.630 | 7.162 | 51 | 103 | 23 |
Tim kemudian membandingkan skenario NDC saat ini (BAU/Business as Usual) dengan dua skenario alternatif lain. Dua skenario alternatif tersebut adalah: skenario yang konsisten dengan target Persetujuan Paris dan SDGs (SPS/Sustainable Pathways Scenario) dan skenario yang mempertimbangkan isu kesehatan dalam semua kebijakan aksi perubahan iklim (HPS/Health in All Climate Policies Scenario).
Dibandingkan dengan skenario BAU, skenario yang konsisten dengan target Persetujuan Paris dan SDGs (SPS) mampu mengurangi 1,18 juta kematian terkait polusi udara, 5,86 juta kematian terkait pola makanan dan 1,15 juta kematian akibat kurangnya aktivitas fisik per tahun, di sembilan negara, pada tahun 2040.
Sementara jika semua negara yang diteliti menerapkan skenario yang mempertimbangkan kesehatan dalam semua kebijakan aksi perubahan iklim (HPS), jumlah kematian yang bisa dikurangi per tahun akibat polusi udara akan bertambah 462.000 jiwa, pola makan 572.000 jiwa dan 943.000 jiwa terkait kurangnya aktivitas fisik.
Tim peneliti menyatakan, manfaat ini bersumber dari upaya mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) langsung yang dampaknya mampu mengurangi paparan polutan berbahaya, memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik masyarakat. Misalnya dengan mempromosikan transportasi aktif seperti berjalan kaki atau bersepeda yang mampu menyehatkan masyarakat dan mengurangi polusi udara.
Menurut tim peneliti, kuncinya ada di komitmen pengurangan emisi GRK NDC yang lebih ambisius karena komitmen yang saat ini ada tidak cukup untuk mencapai tujuan ini. “Menempatkan kesehatan sebagai fokus utama NDC dapat memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan masyarakat,” tulis laporan ini.
Sementara itu sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Antara, Indonesia tidak mengubah target penurunan emisi gas rumah kaca dalam pembaharuan Nationally Determined Contributions (NDCs). Hal ini berarti Indonesia berpotensi kehilangan manfaat kesehatan dari Persetujuan Paris.
Laporan ini menjabarkan, sesuai skenario SPS, Indonesia akan mampu mencegah 130.541 kematian per tahun akibat polusi udara di 2040, 301.970 kematian akibat pola makan dan 37.759 kematian akibat kekurangan aktivitas fisik.
Sementara itu sesuai skenario HPS, Indonesia akan mampu mencegah 159.129 kematian per tahun akibat polusi udara di 2040, 321.630 kematian akibat pola makan dan 7.162 kematian akibat kekurangan aktivitas fisik.
Redaksi Hijauku.com
jadi cara mencegah global warming yang bagus bagaimana???
Ada dua aksi pertama mitigasi dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan adaptasi dengan bersiap menghadapi dampak terburuk perubahan iklim.