Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati (kehati) serta kekeringan masih menjadi tantangan terbesar bagi keberlanjutan di bumi. Kesimpulan ini terungkap dari laporan yang disusun GlobeScan berjudul 2020 Sustainability Leaders yang dirilis kemarin, Rabu, 12 Agustus 2020. GlobeScan melakukan survei opini para ahli di seluruh dunia terkait agenda keberlanjutan tahun ini.

Dari ketiga masalah terbesar tersebut, krisis perubahan iklim memperoleh opini paling kuat dari para ahli sebagai masalah yang paling berbahaya yang dihadapi oleh dunia

Masalah lain yang juga muncul dalam hasil survei ini adalah masalah pandemi COVID-19, resesi atau krisis ekonomi, kemiskinan, kesenjangan ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan, serta keamanan pangan yang semakin dipandang penting. Masalah keberagaman dan keterlibatan masyarakat juga semakin mendapat pehatian dari para profesional di bidang keberlanjutan.

Laporan ini menyatakan, berdasarkan persepsi para ahli, kontribusi sektor swasta dalam agenda keberlanjutan terus menurun walau penurunannya tidak setajam tahun lalu. Yang menarik, untuk pertama kalinya, kontribusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam agenda keberlanjutan juga dinilai melamban.

Yang meningkat justru peran para akademisi/peneliti dan gerakan-gerakan individu/berbasis warga. Sementara peran pemerintah dan investor-investor kelembagaan dinilai kurang signifikan.

Menurut survei GlobeScan, ada beberapa kriteria yang mendasari hasil penilaian tersebut. Kriteria pertama adalah, apakah perusahaan/lembaga menempatkan agenda keberlanjutan dalam model bisnis/aktivitas inti mereka.

Kriteria kedua adalah, apakah perusahaan/lembaga, tersebut berkomitmen dan menargetkan SDGs (Sustainable Development Goals) secara serius/ambisius. Dan kriteria ketiga – seiring dengan pandemi COVID-19 yang memicu krisis ekonomi – adalah, apakah ada upaya untuk melakukan komunikasi, advokasi, aksi kesehatan, pelibatan masyarakat dan perlindungan hak asasi manusia. Ketiga faktor tersebut menjadi syarat bagi perusahaan/lembaga memimpin dalam agenda keberlanjutan.

Laporan ini menggarisbawahi, walau pandemi COVID-19 dinilai akan memperlemah upaya pencapaian agenda keberlanjutan – yang diakibatkan oleh menumpuknya persoalan kesehatan dan ekonomi – para ahli berpendapat, akan ada fokus baru dalam isu-isu lingkungan guna membangun ketahanan dalam jangka panjang dan mengatasi tantangan global yang saling terkait ini.

Hal ini seiring dengan meningkatnya upaya komunikasi dan advokasi, oleh para pemangku kepentingan, termasuk media, agar agenda pembangunan ke depan juga dilandasi atas pemahamanan terhadap sumber masalah pandemi saat ini – yaitu kerusakan lingkungan – yang memicu krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

Bagi perusahaan, para ahli dalam laporan ini menyeru agar mereka memperkuat komitmen lingkungan, komitmen sosial dan komitmen tata kelola atau ESG (Environmental, Social and Governance) Commitments mereka, sehingga tidak hanya melakukan green washing atau pencitraan. Hal ini harus dilakukan seiring dengan upaya memperbaiki perencanaan bisnis dan analisis risiko secara berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com