Tanda kerusakan lingkungan semakin nyata. Bumi semakin rentan dihuni manusia.

Pengamatan dari 11 misi satelit yang mengawasi Greenland dan Antartika menemukan lapisan es di wilayah tersebut mencair 6 kali lebih cepat dibandingkan pada tahun 1990-an.

Jika tren ini berlanjut, air laut akan naik 17 sentimeter di atas skenario terburuk Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada akhir abad ini.

Temuan ini diterbitkan di Jurnal Nature pada 12 Maret dan menjadi kajian perubahan lapisan es paling komprehensif saat ini. Sebanyak 89 ilmuwan dari 50 organisasi turut berkontribusi menyusun laporan ini. Kajian ini juga didukung oleh NASA dan European Space Agency.

Tim peneliti menghitung volume es di Greenland dan Antartika berkurang 81 miliar ton per tahun pada tahun 1990-an. Sementara pada tahun 2010-an volume es yang mencair mencapai 475 miliar ton – naik 6 kali lipat. Secara total dua wilayah tersebut telah kehilangan 6,4 triliun ton es sejak tahun 1990-an.

Laporan Kajian ke-5 IPCC atau IPCC Fifth Assessment Report yang diterbitkan pada 2014 memperkirakan, permukaan air laut akan naik 28 inci (71 sentimeter) pada 2100. Sebanyak 400 juta penduduk dunia yang tinggal di wilayah pesisir akan terendam banjir tahunan pada akhir abad ini.

Setiap sentimeter kenaikan permukaan air laut akan membawa bencana bagi penduduk yang tinggal di wilayah pesisir.

Tren ini sejalan dengan data pemanasan global, perubahan iklim yang juga memicu cuaca ekstrem, gelombang tinggi, puting beliung yang telah disampaikan 11.000 ilmuwan sebelumnya.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang dunia harus selalu waspada.

Redaksi Hijauku.com