Oleh: Novel Abdul Gofur *

Semenjak tragedi (nasional) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Leuwigajah, Cimahi – Jawa Barat, yang merenggut 147 nyawa hilang – 15 tahun silam, dan selang setahunnya dinobatkan Hari Peduli Sampah Nasional. Hari ini, tanggal 21 Februari 2020, kita memperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Apa kabar kegiatan pengurangan sampah: 3R, Reduce (mengurangi timbulan sampah), Reuse (menggunakan ulang sampah), Recycle (mendaur ulang sampah)?

Sudahkah pemerintah daerah dan pusat menggalakkan kegiatan 3R yang sangat berhubungan erat dengan budaya atau perilaku atau tindak sehari-hari ini?

Galibnya, Pendidikan Modal Utamanya! 

Negara mungil seperti Singapura, membutuhkan 2 dasawarsa untuk mengubah budaya masyarakatnya di tahun 60-an dan 70-an yang kerap berperilaku buang sampah dan ludah sembarangan. Korea Selatan dilaporkan berbagai media butuh waktu 15 tahun untuk masyarakatnya peduli untuk menjaga kebersihan lingkungan (bebas sampah).

Bahkan di negara Jepang, yang dipercaya bahwa karakter atau perilaku untuk masyarakatnya lebih peduli terhadap kebersihan (prinsip 3R), kegiatan menumbuhkan budaya 3R itu dilakukan dari tingkatan TK s/d SD kelas 3. Pendidikan “Calistung” (Baca Tulis dan Menghitung) tidak menjadi sesuatu yang teramat penting saat anak masih belajar di Taman Kanak-kanak (TK) hingga  kelas 3 sekolah dasar (SD). Kurikulum Jepang memfokuskan pada pengembangan karakter pribadi yang lebih peka atau peduli terhadap sesama (manusia) dan lingkungan.

Semuanya itu karena pendidikan memraktekkan upaya kampanye atau advokasi untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan menerapkan prinsip 3R.  Mau tidak mau, promosi 3R harus ‘meresap’ di kurikulum pendidikan dari level TK, SD, SMA hingga perguruan tinggi dan dipraktikkan melalui berbagai cara.

Kampanye yang menyeluruh juga dilakukan di berbagai kalangan (di kalangan perusahan, perkantoran, fasilitas umum, dan fasilitas keagamaan) melibatkan berbagai kalangan dari beragam latar belakang.

Dengan memperingati kejadian di TPA Leuwigajah ini, sudah seharusnya pengelolaan TPA dilakukan tanpa open dumping (pembuangan di lahan terbuka) lagi. Namun kenyataan yang ada, masih banyak – mayoritas – kabupaten dan kota yang masih melakukan open dumping sampah di TPA.

Juga masih banyak kita lihat di perumahan-perumahan, tempat umum, perkantoran, sekolah, timbunan sampah – dalam jumlah kecil atau besar – kerap kita temukan dan lihat setiap hari!

Sudah 14 tahun berlalu, “rezim pengurangan sampah” yaitu kegiatan 3R ini masih “berdiri” di tempat yang sama (posisi start atau awal). Masih seperti di tahun 2006! Sekali lagi masih berdiri di tempat yang sama, alias tidak beranjak! Ibarat lomba maraton 42 kilometer, saya kira, “rezim pengurangan sampah” saat ini di Indonesia, itu baru menempuh 700 meter!

Artinya, pendanaan dan program atau kegiatan untuk perubahan perilaku atau budaya untuk menerapkan 3R tidak ada! Kalaupun ada, sangat dapat mudah dihitung dengan jari.

Indonesia masih belum beranjak dari “prestasinya” sebagai polutan lautan nomor 2 setelah Cina, dengan 8 juta ton per tahun sampah masuk ke lautan! Jangan kaget yah saudara-saudara, nanti jantungan.

–##–

* Novel Abdul Gofur adalah Ahli Tata Kelola Kepemerintahan / Governance Specialist.