Pola produksi, konsumsi, alih guna lahan, urbanisasi, peningkatan populasi, perdagangan, industri dan model tata kelola ekonomi dunia saat ini terus merusak alam dan lingkungan.

Peringatan ini disampaikan oleh laporan World Economic Forum (WEF) berjudul Nature Risk Rising yang diterbitkan Minggu, 19 Januari 2020. Dalam laporan ini WEF meminta perusahaan untuk memprioritaskan perlindungan terhadap aset sumber daya alam dan jasa lingkungan untuk menjaga – paling tidak – keberlanjutan bisnis mereka.

Perlindungan terhadap lingkungan juga harus menjadi bagian dari strategi tata kelola perusahaan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut laporan WEF, manusia telah membunuh, menyebabkan kepunahan 83 % satwa mamalia liar dan separuh tumbuhan di bumi. Manusia telah merusak 75% wilayah bumi yang tak tertutup es dan 2/3 wilayah lautan dunia. Dalam beberapa dekade ke depan satu juta spesies akan punah – tingkat kepunahan ini lebih cepat ratusan kali lipat dibanding dalam 10 juta tahun terakhir.

Peringatan ini sejalan dengan Global Risks Report yang juga diterbitkan oleh World Economic Forum, yang menyatakan kerusakan ekosistem dan keanekaragaman hayati adalah salah satu dari lima risiko terbesar yang harus dihadapi dunia dalam dekade-dekade mendatang.

Peringatan ini tidak main-main dan seharusnya bisa menggerakkan manusia untuk menciptakan perubahan yang drastis menciptakan bumi yang lebih hijau dan lestari. Jika lingkungan dan ekosistem rusak, ekonomi dan bisnis pun perlahan tapi pasti akan mati.

Hutan, sungai dan lautan yang terjaga lestari akan menyediakan makanan, pakaian, papan, sumber daya, bahan baku, kayu, logam, mineral, air dan udara bersih, keindahan untuk dinikmati. Keanekaragaman hayati, keberadaan tumbuhan dan satwa liar di alam juga berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem, mengurangi risiko bencana alam yang terjadi akibat kerusakan lingkungan, melalui proses dan peran mereka di rantai makanan dan iklim mikro.

Kerusakan lingkungan dan ekosistem akan mengakibatkan runtuhnya peradaban manusia karena ketiadaan daya dukung dan daya tampung kehidupan yang memadai. Kehidupan ekonomi manusia menurut penelitian WEF sangat bergantung pada alam. Nilai kehidupan ekonomi yang bersumber dari alam dan jasa lingkungan mencapai $44 triliun – atau lebih dari separuh Produk Domestik Bruto dunia. Manusia menjual mulai dari air bersih hingga udara bersih, setelah mereka sendiri yang mengotorinya.

“Kita memiliki kekuatan untuk mengubah hal ini. Kita harus segera memikirkan kembali hubungan kita dengan alam untuk mencegah dan membalikkan kerusakan lingkungan. Pemimpin perusahaan bisa berperan besar dalam hal ini. Mereka bisa secara sistematis mengidentifikasi, menilai, memitigasi dan mengumumkan risiko-risiko yang berkaitan dengan lingkungan untuk menghindari konsekuensi yang lebih parah. Bisnis bisa menjadi bagian dari gerakan dunia untuk melindungi dan memulihkan alam,” tulis laporan ini.

Redaksi Hijauku.com