Oleh: Dicky Edwin Hindarto *

Kawasan Jabodetabek mulai tanggal 31 Desember 2019 malam sampai tanggal 1 Januari siang mengalami cuaca ekstrem yang dulunya jarang terjadi, yaitu hujan yang di luar biasanya. Hujan selama kurang lebih 24 jam tersebut bahkan tercatat memiliki curah hujan tertinggi sejak 1996, curah hujannya setinggi 377 mm tercatat di daerah Jakarta Timur.

Ini artinya air hujan tercurah kurang lebih setinggi dua jengkal manusia dewasa tiap titik di atas genting, di jalan, di taman, di selokan, dan di mana-mana di setiap centimeter persegi luasan!

Inilah yang disebut cuaca ekstrem, salah satu dampak dari perubahan iklim yang semakin meluas. Sebelumnya kita juga mengalami kemarau panjang yang membuat banyak terjadi kekeringan dan bahkan kebakaran hutan di Indonesia. Di negara tetangga kita, Australia, kebakaran hutan bahkan sudah terjadi berbulan-bulan dan belum dapat dipadamkan dan menjadi yang terburuk dalam sejarah mereka.

Kenapa alam menjadi semakin berubah dan seakan marah kepada kita? Ini adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Dampak dari keserakahan dan kerakusan manusia terhadap alam.

Semakin menumpuknya gas rumah kaca (GRK), terutama karbon dioksida dan metana di atmosfer kita hasil dari pembakaran bahan bakar fosil seperti BBM, batu bara, dan gas, serta sampah yang membusuk, akhirnya membuat terjadinya pemanasan global karena memerangkap sinar matahari dan menimbulkan efek rumah kaca. Pemanasan global inilah yang menyebabkan berbagai perubahan iklim termasuk cuaca ekstrem karena meningkatkan penguapan air laut dan air permukaan.

Lantas bagaimana kalau sudah terjadi peristiwa seperti cuaca ekstrem kemarin? Ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu mengurangi penyebabnya dan melakukan antisipasi terhadap dampaknya. Mengurangi penyebabnya karena terjadi sudah dalam jangka waktu panjang, tidak akan secara serta merta memperbaiki keadaan, tapi tetap harus dilakukan. Pengurangan pemakaian kendaraan pribadi, hemat energi, penanganan sampah dengan benar, dan banyak lagi yang lain adalah beberapa caranya. Ini disebut mitigasi perubahan iklim. Sedangkan antisipasi dampaknya disebut sebagai adaptasi perubahan iklim. Hal inilah yang mutlak harus dilakukan segera oleh pemerintah dan setiap anggota masyarakat.

Cuaca ekstrem hujan dengan curah sangat tinggi kemarin diperparah dengan penurunan muka tanah di Jakarta yang rata-rata 20 cm tiap tahunnya dan semakin berkurangnya daerah resapan air. Penyebabnya adalah karena semakin banyak bangunan dan hunian di Jakarta yang menutupi tanah. Di lain pihak penyedotan air tanah yang luar biasa akhirnya menyebabkan Jakarta seperti spons kering yang atasnya dilapisi semen.

Air sebanyak lebih dari 300 mm itu kemudian sulit sekali untuk bisa masuk ke dalam tanah di Jakarta karena tidak ada celah sama sekali. Akhirnya air dari langit harus dialirkan ke laut. Ditambah dengan kiriman air lewat sungai dari daerah hulu yang lebih tinggi, maka Jakarta seperti spons kering dilapisi semen yang diguyur dan disemprot air.

Adaptasi perubahan iklim kemudian harus dilakukan secara integral dan menyeluruh, tidak bisa hanya di Jakarta tetapi mutlak harus ditangani secara bersama dan lintas provinsi!

Penanganan daerah resapan air di daerah hulu mutlak harus dilakukan. Daerah Puncak dan Bogor yang semakin banyak perumahan harus dijaga keseimbangan resapan airnya sehingga hujan tidak akan hanya mengalir ke daerah bawahnya tetapi diresap dan diserap tanah.

Di Jakarta sendiri harus dilakukan penambahan daerah resapan air. Harus dihentikan pembangunan mall-mall dan bangunan komersial lain, sehingga ibukota masih punya daerah resapan air. Sumur-sumur resapan juga harus dibuat di seluruh wilayah kota.

Penanganan saluran air baik sungai, selokan, maupun got, juga mutlak harus ditingkatkan. Normalisasi sungai dengan melebarkan dan memperdalam sungai  harus tiap saat dilakukan. Sementara got-got dan selokan harus ditambah sehingga debit air lebih besar bisa melaluinya. Harus dibangun sistem drainase baru yang masif dan terstruktur sehingga air bisa dikendalikan.

Sementara pencegahan membuang sampah di sungai harus juga dilakukan dari hulu sungai sampai ke muara. Banjir juga banyak disebabkan oleh menumpuknya sampah di daerah aliran sungai.

Di sisi lain, antisipasi dan penanggulangan keadaan darurat dan berbahaya juga harus dilakukan untuk mencegah terjadinya korban jiwa dan meluasnya dampak ekonomi. Mutlak harus dibangun posko-posko darurat dengan personil yang terlatih dan profesional.

Dan semua hal di atas harus ditambah volume pekerjaannya. Cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi. Akan semakin sering. Karena itu penganggaran pembiayaan adaptasi perubahan iklim ini juga harus bagus dan terencana. Dan sekali lagi tidak hanya untuk Jakarta, tetapi juga daerah sekitarnya dalam lingkup anggaran antar provinsi dan nasional.

Harus ada anggaran khusus untuk adaptasi perubahan iklim ini, yang sifatnya adalah mulai dari kampanye, perbaikan infrastruktur, sampai pembangunan infrastruktur yang baru. Ini sifatnya adalah spasial atau kewilayahan, termasuk penataan ulang dan peningkatan fungsi antar wilayah sehingga tertata mulai daerah resapan air, daerah hunian, daerah ekonomi, infrastruktur, dan lainnya. Termasuk terencana dengan baik apabila akan ada penambahan infrastruktur baru seperti jalan tol, dan bukan malah memperburuk penanganan dampak perubahan iklim.

Pemerintah pusat harus turun tangan di dalam koordinasi,  perencanaan, penganggaran, serta bahkan implementasinya yang bersifat antar wilayah. Dengan begitu dampak perubahan iklim bisa teratasi karena ini masalah nasional. Sekali lagi ini adalah kesalahan kita semua yang hanya bisa diatasi secara bersama! Perubahan iklim itu nyata, terjadi di depan mata. Dan pilihannya hanya dua, saling bekerja sama atau binasa bersama!

–##–

* Dicky Edwin Hindarto, penggemar isu perubahan iklim.