Bandung Utara – Yayasan Odesa Indonesia sebelumnya telah menyampaikan krisis Kawasan Bandung Utara (KBU) sebagian disebabkan oleh alih fungsi lahan hutan/huma menjadi hunian, dan juga disebabkan pertanian sayuran bersifat monokultur. Untuk menjawab problem pertanian tersebut, Odesa Indonesia menyatakan pentingnya pemerintah mengambil peran maksimal, bukan minimal dengan kegiatan penghijauan yang sifatnya seremoni.
“Harus menyatu dengan kerja keseharian petani, dan mendorong petani mendapatkan manfaat dari nilai ekonomi, gizi dan juga menyelamatkan lingkungan,” kata Herry Dim, seniman senior yang bergiat aktif di Odesa Indonesia untuk bidang revitalisasi Sumber Daya Alam.
Menurut Herry Dim, pemerintah selama ini sangat gagap dalam mengambil langkah penghijauan. Kegagapan itu terlihat dari minimnya bibit tanaman yang dibagikan kepada masyarakat. Selain itu juga terlihat tidak adanya kesiapan mengatasi masalah karena hanya membawa bibit ke lokasi, bukan mendorong petani memiliki pembibitan. Padahal hanya dengan pembibitan di lingkungan pertanian itulah paling tidak akan muncul tradisi gerakan tanam secara mendasar.
“Pemerintah, terutama provinsi yang memiliki banyak wewenang mestinya harus menjawab masalah ini lebih sistematis, memiliki rancangan kerja yang jelas, dan membuat skala prioritas. Jangan hanya merespons pemberitaan media dengan aksi-aksi seremoni. Ini masalah rakyat, masalah kemanusiaan yang membutuhkan keseriusan,” tegas Herry.
Yayasan Odesa Indonesia memberikan masukan kepada pemerintah, agar membangun pembibitan di lingkungan pertanian. Sebab menurut Odesa Indonesia, tanpa memiliki pembibitan di setiap desa, gerakan budidaya pertanian atau penghijauan akan menguras biaya yang tinggi. Selain diperlukan tindakan skala prioritas penanam pohon di kawasan yang terhubung dengan kali-kali kecil yang selama ini mengalirkan air dan lumpur seperti di jalur Cibanteng, hingga Merak Dampit, Cisanggarung hingga Cikawari, Mekarsaluyu hingga Tugu di Ciburial.
“Kami telah mendiskusikan secara matang, bahwa persoalan pembibitan ini bukan semata memurahkan harga bibit, melainkan juga berguna untuk edukasi gerakan pertanian model baru. Dari pembibitan, nanti bisa diarahkan untuk banyak hal, misalnya tempatnya konsultasi para petani, dan juga tempat inspirasi kewirausahaan, bahkan sangat berguna untuk wisata edukasi warga kota yang ingin mengenal tanaman. Setiap desa wajib adanya pembibitan,” kata Herry.
Memilih Petani Ahli Pembibitan
Sementara itu Rusmana, Ketua Kelompok Tani Makmur yang selama ini aktif mendapatkan pendampingan inovasi pertanian dari Yayasan Odesa Indonesia menyampaikan bahwa pembibitan untuk setiap desa di Kecamatan Cimenyan harus ditindaklanjuti. Rusmana memberikan masukan agar pemerintah membangun pembibitan setidaknya 7 desa dari 9 desa di Kecamatan Cimenyan. Untuk pembibitan level desa tentu membutuhkan perhitungan spesifik, salah satunya adalah sumber air. Barangkali masukan ini bisa menjadi guide untuk pemerintah agar bisa memiliki pembibitan,” kata Rusmana.
Di Desa Ciburial lokasi pembibitan bisa dibuat di dekat kampung Pesanggrahan dan Baru Tunggul. Di Desa Mekarsaluyu bisa dibuat di Kampung Tugu atau Ciharalang, di Desa Cimenyan bisa dibuat di kampung Citapen atau Kampung Buntis. Di desa Mandala Mekar bisa dibangun di kampung Cipurut atau Cibanteng. Di desa Cikadut bisa dibangun di Kampung Cisanggarung. Di desa Mekarmanik bisa dibangun di Kampung Pondok Buah Batu atau Oray Tapa.
Rusmana juga menyampaikan bahwa untuk seleksi pemegang mandat kegiatan pembibitan pertanian ini disarankan agar memilih perseorangan yang memiliki kemampuan, bukan mengambil kelompok tani. Sebab menurut Rusmana, urusan pembibitan tidak bisa sembarangan petani melakukan, apalagi kebutuhan untuk perbaikan pertanian di Kawasan Bandung Utara menurut Ujang Rusmana hampir semuanya berurusan dengan tanaman baru, terutama buah-buahan dan tanaman keras lainnya. Harus ada unsur hobi, unsur ketekunan, unsur semangat perawatan. Petani ladang terkadang terbiasa kasar sementara pada pembibitan lebih dibutuhkan pekerjaan halus seperti aspek ketelitian, tertib penyiraman, tertib kontrol, dan lain sebagainya.
“Pembibitan ini membutuhkan cara pandang yang berbeda dengan pertanian ladang. Pengalaman saya mendampingi petani tidak semua petani bisa mengambil peran sebagai pembibit. Pada kelompok tani juga tidak semua mumpuni. Mesti selektif dan telaten dalam mengelola orang yang akan mengambil peran kerja pembibitan,” papar Rusmana.
Dari pengalaman gerakan Odesa Indonesia, sejauh ini sangat bagus dampaknya. Menurut Herry Dim, Odesa Indonesia berhasil memanen hasil yang baik. Hasil yang baik tersebut bukan semata panen bibit dan bisa menggerakkan petani secara rutin menanam pohon, melainkan juga menjadi tempat inspirasi kewirausahaan, tempat edukasi gizi, terutama dari tanaman herbal seperti kelor, daun Afrika, bunga telang, dan lain sebagainya. Bahkan untuk beberapa tanaman musim kering seperti sorgum dan hanjeli masyarakat di Cikadut dan Mekarmanik mulai membudidayakan lagi setelah puluhan tahun menghilang.
–##–