Dalam 100 tahun terakhir luas lahan basah telah berkurang 64-71%, meningkatkan risiko bencana.
Masih ingatkah Anda dengan lahan-lahan basah di sekitar tempat Anda tinggal? Bagaimana kondisinya sekarang? Lahan basah menurut Konvensi Ramsar meliputi berbagai jenis danau, sungai, cadangan air bawah tanah, rawa, paya, lahan gambut, oasis, genangan air tawar, muara sungai, endapan di wilayah pesisir, hutan mangrove, terumbu karang dan kolam buatan manusia untuk beternak ikan, menanam padi, saluran air dan tambak garam.
Ekosistem lahan basah ini sangat produktif. Mereka menyediakan air untuk keperluan pertanian dan rumah tangga sehingga petani tetap bisa menanam saat musim kemarau maupun musim penghujan. Produksi pangan tetap terjaga dan bisa terus meningkat.
Lahan basah juga menyediakan makanan dan air untuk ternak maupun hewan liar. Bahan untuk kerajinan dan bangunan bisa diperoleh di wilayah ini. Lahan basah menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna, menjadi tempat singgah bagi burung-burung yang bermigrasi.
Lahan basah menyerap, menyimpan dan membersihkan air, keberadaannya penting mengatur iklim dan aliran air. Dalam 100 tahun terakhir luas lahan basah telah berkurang 64-71%. Jutaan orang telah kehilangan jasa lingkungan yang disediakan oleh lahan basah.
Hari Lahan Basah Dunia diperingati setiap tanggal 2 Februari. Tahun ini tema yang diangkat adalah Lahan Basah dan Pengurangan Risiko Bencana atau “Wetlands and Disaster Risk Reduction”.
Sebanyak 90% bencana alam berkaitan dengan air. Lahan basah berfungsi sebagai spons alami yang mampu menyerap air hujan, mengurangi banjir dan kekeringan. Lahan basah seperti mangrove mampu meredam badai dan gelombang tsunami, melindungi wilayah pesisir. Jika dikelola dengan seksama lahan basah akan bisa mengurangi risiko bencana seperti badan, siklon, banjir dan kekeringan. Masihkah kau jumpai lahan basah di lingkungan sekitar?
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment