Perubahan iklim berpotensi memangkas Produk Domestik Bruto negara-negara Asia Selatan hingga 2% pada 2050.
Perubahan iklim berpotensi memangkas Produk Domestik Bruto negara-negara Asia Selatan hingga 2% pada 2050 dan meningkatkan kerugian akibat perubahan iklim sebesar 9% pada 2100. Kerugian ini akan lebih besar jika faktor cuaca ekstrem ditambahkan dalam analisis ini. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dan upaya pengentasan kemiskinan di wilayah ini akan terganggu.
Hal ini terungkap dalam laporan Asian Development Bank (ADB) dan UK Aid berjudul “Assessing the Costs of Climate Change and Adaptation in South Asia” yang dirilis baru-baru ini. Laporan ini membahas manfaat dan biaya adaptasi perubahan iklim di enam negara Asia Selatan yaitu Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, dan Sri Lanka.
Negara-negara di Asia Selatan memang sangat rentan perubahan iklim. Kepadatan jumlah penduduk, kemiskinan, dan kurangnya sumber daya untuk adaptasi perubahan iklim menjadi kendala utama. Wilayah ini juga memiliki topografi dan iklim yang ekstrem. Prediksi dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengindikasikan, tingkat perubahan iklim di wilayah ini akan lebih para dibanding rata-rata wilayah dunia yang lain.
Menurut ADB, jumlah kerugian ini bisa dihindari jika perjanjian dalam proposal Copenhagen–Cancun bisa diimplementasikan sesegera mungkin. Semakin cepat investasi adaptasi perubahan iklim semakin besar dampak kerugian akibat perubahan iklim yang bisa dikurangi.
Redaksi Hijauku.com
[…] dari pembakaran bahan bakar fosil. Bencana iklim telah membuat puluhan juta orang mengungsi, memangkas pertumbuhan ekonomi dan mencabut nyawa. Minggu ini, Filipina, Perancis dan Italia mengalami bencana iklim dengan korban […]