Drought - Wikimedia CommonsKekeringan menjadi pembunuh laten yang dampaknya dirasakan terutama di wilayah Asia dan Pasifik. 

Dalam tiga dekade terakhir sebanyak 1,3 miliar penduduk terkena dampak kekeringan yang akan makin parah akibat krisis iklim.

Kerugian yang diderita sebagai akibat krisis perubahan iklim ini mencapai $53 miliar. Kekeringan menjadi pembunuh laten (silent killer) yang dampaknya dirasakan terutama di wilayah Asia dan Pasifik. Namun akses terhadap informasi dan pengetahuan ilmiah untuk mengatasinya masih terbatas.

Hal ini disampaikan oleh Shamika Sirimanne, Direktur Divisi Informasi dan Teknologi di Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) di Kolombo, Sri Lanka pada awal Juli.

Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa ini menggelar pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah, para ahli regional dan lembaga PBB untuk melakukan pertukaran dan membahas strategi pengurangan dampak kekeringan di bidang pertanian dan membantu menyelamatkan nyawa.

Pada 2013, ESCAP meluncurkan mekanisme regional untuk mengatasi kekeringan atau Regional Drought Mechanism – dalam bentuk produk, data satelit serta pelatihan gratis bagi wilayah yang rentan kekeringan guna meningkatkan kapasitas pengawasan dan peringatan kekeringan dini pemerintah.

Saat ini mekanisme ini telah diterapkan di Afghanistan, Kamboja, Mongolia, Myanmar, Nepal dan Sri Lanka. Dari pengalaman di negara-negara tersebut, ESCAP menyimpulkan bahwa kekeringan akan semakin sering dan parah pada masa datang. Hal ini juga dipengaruhi oleh peristiwa El Niño dan La Niña, yang dampaknya semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com