Ivory - Hugh Grant - Pixabay (500x333)UN Environment Assembly (UNEA) berhasil mewujudkan 16 resolusi hijau dalam pertemuannya di Nairobi, Kenya minggu lalu. Keenam belas resolusi bersejarah ini mencakup berbagai macam isu mulai dari masalah polusi udara, perdagangan satwa ilegal, sampah plastik yang mengotori lautan hingga penganggulangan bahan kimia dan limbah.

Menurut Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, udara yang kita hirup, air yang kita minum dan lahan yang menumbuhkan pangan adalah bagian dari ekosistem yang saat ini terus menghadapi tekanan. “Kita perlu mengubah pola hubungan manusia dengan planet ini. Perubahan saat ini tengah terjadi dan solusi tersedia,” ujarnya sebagaimana dikutip dalam berita UNEP.

Sebanyak 160 anggota PBB ikut dalam sidang ini. Polusi udara yang mencabut 7 juta nyawa per tahun menjadi fokus utama sidang tahun ini. “Polusi udara terus menjadi tantangan terutama di wilayah perkotaan, membahayakan nyawa jutaan penduduk dunia. Aksi untuk meningkatkan kualitas udara tidak hanya menyelamatkan nyawa namun juga membawa manfaat bagi iklim, jasa lingkungan, keanekaragaman hayati dan keamanan pangan,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner.

Semua anggota delegasi menyetujui usulan untuk menetapkan standar dan kebijakan di berbagai sektor untuk mengurangi polusi dan dampak negatifnya terhadap ekonomi, kesehatan, iklim dan pembangunan berkelanjutan.

UNEA juga menyeru dunia untuk memerangi perdagangan hewan liar. Resolusi yang menyeru pemerintah untuk mengimplementasikan komitmen mereka juga telah disepakati. Tak akan lagi ada toleransi bagi perdagangan satwa liar ilegal yang merugikan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan laporan UNEP dan INTERPOL berjudul “Environmental Crime Crisis” yang diluncurkan bersamaan dengan berlansungnya sidang ini, kejahatan lingkungan merugikan dunia hingga $213 miliar per tahun. Kejahatan ini membantu mendanai organisasi kriminal, milisi dan kelompok teroris yang mengancam keamanan dan proses pembangunan berkelanjutan di banyak negara. Tidak hanya perdagangan hewan-hewan langka seperti badak dan gajah Afrika, perdagangan ilegal ini juga mencakup perdagangan kayu, ikan, harimau, trenggiling, kera besar, termasuk burung, reptil dan tanaman-tanaman lainnya.

Resolusi lain yang terwujud dalam sidang ini adalah resolusi sampah plastik di lautan, tata kelola limbah dan bahan kimia yang terintegrasi serta agenda pembangunan berkelanjutan sebagai implementasi penuh dari dokumen hasil pertemuan Rio+20, The Future We Want.

Resolusi-resolusi lainnya mencakup:

– Perlunya mewujudkan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, termasuk melalui efisiensi sumber daya alam dan peralihan ke gaya hidup ramah lingkungan

– Aksi mengatasi krisis iklim melalui kerja sama antarnegara dan penerapan Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim

– Kerja sama untuk mengatasi masalah lingkungan yang dihadapi oleh negara-negara kepulauan kecil

– Perlunya memerkuat kerja sama berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi menuju terciptanya kebijakan pembangunan berkelanjutan yang lebih efektif

– Komitmen untuk menerapkan kesepakatan lingkungan antarpihak, baik dalam skala lokal maupun internasional

– Upaya menghentikan kerusakan keanekaragaman hayati, desertifikasi dan degradasi lahan.

Redaksi Hijauku.com