COP Conference in Warsawa - COP19Janji menciptakan aksi riil guna mengatasi krisis perubahan iklim kembali menutup Konferensi Perubahan Iklim ke-19 (COP19) di Warsawa, Polandia yang berakhir Sabtu, (23/11). Tahun depan, semua pihak akan kembali bertemu di COP20 di Peru, guna membahas kesepakatan iklim yang mengikat pengganti Protokol Kyoto, yang ditargetkan terwujud di COP21 di Paris pada 2015, untuk diterapkan pada 2020.

Konferensi perubahan iklim di Warsawa juga menjadi saksi janji negara maju untuk menyerahkan jadwal dan strategi yang lebih jelas terkait pendanaan perubahan iklim, termasuk komitmen dari Norwegia, Inggris, Uni Eropa, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Swedia, Jerman dan Finlandia guna mendukung aksi perubahan iklim di negara-negara berkembang.

Menurut berita resmi COP19, lembaga pendanaan perubahan iklim atau Green Climate Fund Board akan segera kembali bekerja tahun depan guna mengantisipasi realisasi jadwal dan komitmen bantuan perubahan iklim negara maju di COP20, Desember tahun depan.

COP19 juga memutuskan untuk menciptakan satu mekanisme internasional bernama “Mekanisme Warsawa” yang bertujuan memberikan perlindungan bagi populasi yang rentan terkena dampak perubahan iklim, terhadap kerugian dan kerusakan yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem dan kenaikan air laut. Mekanisme Warsawa ini akan mulai bekerja tahun depan.

Salah satu kemajuan penting yang berhasil diraih di COP19 adalah janji bantuan sebesar $280 juta dari Norwegia, Inggris dan Amerika Serikat guna mengurangi emisi gas rumah kaca dari praktik deforestasi dalam lingkup mekanisme REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation.

Di Warsawa, kelompok 48 negara miskin juga berhasil menyusun rencana menghadapi krisis iklim. Sementara negara-negara maju kembali berjanji (sebagian diantaranya sudah diwujudkan) untuk memberikan bantuan tambahan sebesar lebih dari $100 juta dalam Dana Adaptasi Perubahan Iklim (Adaptation Fund) guna mendanai proyek-proyek nasional terkait adaptasi perubahan Iklim. Negara-negara maju tersebut adalah Austria, Belgia, Finlandia, Perancis, Jerman, Norwegia, Swedia dan Swiss.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, mengingatkan semua pihak untuk menjadikan Konferensi Iklim di New York tanggal 23 September 2014 sebagai konferensi solusi guna melengkapi negosiasi perubahan iklim UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). “Saya berharap semua pihak berani muncul dengan aksi riil di New York guna mencegah kenaikan suhu bumi melampaui dua derajat Celcius,” tuturnya. UNFCCC baru akan kembali menggelar pertemuan di Bonn pada 10-14 Maret 2014.

Redaksi Hijauku.com