Polar bears on ice - Ansgar WalkManusia adalah penyebab utama pemanasan global dan krisis iklim. Tak ada yang baru dari pernyataan ini. Dalam dua tahun terakhir sudah banyak penelitian yang menyimpulkan hal yang sama.

Akhir 2011 misalnya, Hijauku.com telah menurunkan artikel yang menyatakan bahwa manusia menyumbang 74% faktor penyebab perubahan iklim. Alam hanya menyumbang seperempatnya (26%). Laporan tersebut diangkat berdasarkan hasil pengamatan tim peneliti Swiss selama 60 tahun terakhir.

Laporan yang berupaya mengurangi kebingungan publik atas posisi ilmuwan dalam menyikapi pemanasan global dan perubahan iklim juga telah diterbitkan Mei lalu dalam jurnal Environmental Research Letters.

Dalam laporan ini, tim peneliti lintas negara – dari Australia, Kanada, Inggris dan Amerika Serikat – mensurvei 11.994 hasil penelitian akademis oleh 29.083 ilmuwan dari seluruh dunia pada periode 1991-2011. Hasilnya, tim peneliti menemukan, 97,1% hasil penelitian ilmiah mendukung teori bahwa pemanasan global dipicu oleh aktivitas manusia.

Dan analisis terbaru berjudul “Explaining Extreme Events of 2012 from a Climate Perspective” yang diterbitkan awal bulan ini (5/9) di Bulletin of the American Meteorological Society menyatakan, manusia adalah salah satu pemicu terjadinya cuaca ekstrem dan anomali iklim. Lantas apa yang baru ketika Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan manusia adalah penyebab pemanasan global sejak 1950?

Satu yang pasti, tingkat keyakinan IPCC semakin tinggi. Kemarin, Jum’at (27/9), IPCC mengeluarkan laporan dengan kepastian antara 95-100% bahwa pemanasan global terjadi karena ulah manusia. Pemanasan global ini akan berdampak dramatis terhadap cuaca, kenaikan air laut dan berkurangnya volume es di benua Arktika.

Data terbaru IPCC menunjukkan, rata-rata suhu permukaan bumi naik 0,89°C dari periode 1901 hingga 2012. Periode 30 tahun terakhir adalah tiga dekade terpanas bumi sejak 1850. Di belahan bumi bagian Utara, periode 1983-2012 adalah tiga dasawarsa terpanas sejak 1400 tahun yang lalu. Sementara dekade pertama abad 21 (2001-2010) adalah satu dekade terpanas sepanjang sejarah (dengan suhu di permukaan bumi rata-rata yang mencapai 14,47°C).

Menurut laporan IPCC, rata-rata suhu bumi akan naik antara 0,3°C ke 0,7°C pada periode 2016-2035. Sementara pada periode 2081-2100, rata-rata suhu di permukaan bumi akan melampaui masa pra industri atau naik 1,5°C – setara dengan kenaikan 2°C (tergantung pada konsentrasi emisi gas rumah kaca). Anomali suhu bumi terus terjadi.

Suhu permukaan air laut (hingga kedalaman 700 meter) juga terus naik dalam periode 1971 hingga 2010. Demikian juga suhu laut hingga kedalaman di bawah 3000 meter yang terus menghangat sejak 1990-an. Kenaikan suhu di samudra ini adalah bukti utama penyerapan energi matahari oleh lautan yang mencapai 93% antara 1971 and 2010. Menurut IPCC, lautan di bumi akan terus menghangat selama abad 21.

Saat air laut menghangat, lapisan es mencair dan tinggi permukaan air laut pun naik. Kenaikan suhu air laut juga akan memengaruhi sirkulasi air di samudra. Rata-rata kenaikan air laut sejak pertengahan abad 19 lebih tinggi dari nilai perkiraan rata-rata dalam dua milenium (2000) tahun terakhir yaitu mencapai 19 cm dari 1901 ke 2010.

Kenaikan air laut ini semakin cepat dalam periode 1993-2010 dan akan terus naik ke depannya. Laporan ini juga mencatat, saat terakhir suhu bumi naik hingga 2°C – yaitu pada masa interglasial (129.000-116.000 tahun yang lalu) – kenaikan permukaan air laut mencapai 5-10 meter di atas kenaikan saat ini.

Air laut juga terbukti semakin asam (pH air laut turun 0,1) sejak permulaan masa industri akibat emisi karbon dioksida (CO2) ulah tangan manusia. Proses peningkatan keasaman (penurunan pH) air laut akan terus berlanjut pada abad ini, merusak terumbu karang dan ekosistem kelautan. Lapisan es di benua Arktika juga akan terus menyusut dan menipis.

Saat suhu rata-rata permukaan bumi terus naik, tutupan salju di belahan bumi bagian utara akan terus berkurang. Bahkan, beberapa skenario memerkirakan, samudra Arktika akan kehilangan esnya pada bulan September sebelum pertengahan abad ini. Volume glasier juga akan terus turun hingga 35-85% pada 2100.

Laporan IPCC ke-5 yang berjudul “Physical Science Basis” ini disusun selama 3 tahun oleh 250 ilmuwan. Bumi kini menghadapi risiko iklim yang makin ekstrem.

Bukti peningkatan dan kerugian dari cuaca ekstrem ini bisa dilihat sejak tahun 1950. Jumlah hari dan malam yang dingin terus berkurang berganti hari dan malam-malam yang panas. Gelombang panas di Eropa, Asia dan Australia akan terus meningkat. Jangan siakan dekade kritis perubahan iklim. Mari beraksi dan bersinergi.

Redaksi Hijauku.com