Denmark- Wikimedia CommonsPernahkah Anda mengalami situasi ini? Anda harus berangkat kerja minimal jam lima pagi setiap hari. Padahal kantor Anda hanya berjarak 30 kilometer dari rumah. Kemacetan dan polusi udara, adalah “makanan” Anda setiap pagi.

Jika Anda menjawab, “Ya,” tentu Anda tidak sendiri. Kondisi ini dialami ribuan orang yang mencari nafkah di Jakarta. Pada pagi hari, kemacetan selalu menghiasi gang-gang hingga jalan-jalan protokol.

Walau Jakarta terus memerbaiki fasilitas transportasi publik, namun ketersediaan dan layanan transportasi umum masih jauh di bawah standar. Di jalur kereta api listrik, ribuan pekerja berdesakan masuk ke gerbong pada jam sibuk agar tidak tertinggal kereta. Di jalan raya, metromini karatan masih terus mencari penumpang.

Stres karena kemacetan dan polusi udara hanyalah dua aspek yang melengkapi “kualitas hidup” bekerja di Jakarta. Keduanya adalah bagian dari kumpulan masalah-masalah lain seperti pencemaran lingkungan, wilayah kumuh, kemiskinan, kejahatan dan korupsi yang menghiasi media massa setiap hari.

Kemudahan dalam bertransportasi, bekerja, berbisnis, berekreasi, berekonomi, berkesehatan, berpendidikan masih jauh bisa dinikmati oleh mayoritas penduduk yang bekerja di Jakarta. Apakah Anda bahagia hidup di Jakarta?

Jika ukuran kebahagiaan adalah kualitas ekonomi, lingkungan, kesehatan, birokrasi, kejiwaan dan hidup seutuhnya, masih sangat sulit menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban positif, “Ya, saya bahagia. Ya, saya bebas dari kemacetan. Saya sehat. Saya tidak stress. Saya mapan. Saya bebas dari jerat korupsi. Saya aman berada di Jakarta sepanjang hari.”

Motivasi inilah yang mendasari Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan laporan World Happiness Report edisi ke-2 kemarin (Senin, 9/9). Laporan yang disusun oleh United Nations Sustainable Development Solutions Network (SDSN), lembaga di bawah pimpinan langsung Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon ini mengumpulkan para ahli di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, psikologi, analisis survei dan masih banyak lagi, guna menganalisis kebahagiaan sebagai ukuran pembangunan suatu negara.

Laporan yang diluncurkan dua minggu sebelum diselenggarakannya Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York ini menyimpulkan, dari urutan teratas, Denmark, Norwegia, Swiss, Belanda dan Swedia dinobatkan menjadi negara berpenduduk paling bahagia di dunia. Pencapaian Denmark dan Swedia tidak mengejutkan. Tahun lalu ibu kota Denmark, Copenhagen, juga terpilih sebagai kota terhijau di Eropa. Sementara Swedia dinobatkan sebagai negara terhijau di dunia.

“Saat ini ada tuntutan di seluruh dunia bahwa kebijakan harus dikaitkan dengan aspek penting yang bisa dinikmati oleh masyarakat,” ujar Profesor Jeffery Sachs salah satu penyusun laporan ini. “Laporan ini memberikan analisis dan ukuran yang sistematis terhadap kebahagiaan dan bagaimana cara mencapainya melalui sistem pembangunan yang berkelanjutan.”

Dalam laporan ini juga terungkap, terjadi perubahan tingkat kebahagiaan di sejumlah wilayah dalam lima tahun terakhir. Ada yang naik, ada juga yang turun. SDSN menyatakan tingkat kebahagiaan penduduk di wilayah Afrika Sub-Sahara dan Amerika Latin meningkat, sementara level kebahagiaan penduduk di negara-negara industri menurun. Dari 130 negara yang masuk dalam daftar sebanyak 60 negara mengalami peningkatan kebahagiaan sementara 41 negara memburuk.

Indonesia berada pada peringkat ke-76, di bawah Vietnam (63), Malaysia (56), Thailand (36) dan Singapura (30). Walau masih berada pada level menengah, indikator kebahagiaan Indonesia pada periode 2010-2012, menurut laporan SDSN, naik tipis sebesar 0,329 poin dari periode 2005-2007.

SDSN mengukur enam indikator kebahagiaan salah satunya adalah tingkat harapan hidup. Saat kualitas kesehatan meningkattingkat harapan hidup juga naik. Dan menjaga lingkungan adalah kunci menciptakan kesehatan. Polusi dan kerusakan lingkungan mencabut ribuan nyawa setiap tahun.

Skor Indonesia yang 5.348 masih jauh di bawah Thailand yang 6.371 atau Singapura yang 6.546. Singapura adalah negara di Asia Tenggara dengan standar kualitas lingkungan yang terjaga. Singapura terus berusaha menciptakan bangunan hijau dan kualitas tata kelola air Negeri Singa ini bisa menjadi panutan.

Namun berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas ekonomi, lingkungan sekaligus harapan hidup masyarakat. Aksi mengontrol polusi dan mengelola sumber daya alam adalah diantaranya.

Dunia kini juga berupaya menciptakan negara yang hijau dan berkelanjutan. Dan dalam skala yang lebih kecil, negara juga berusaha menciptakan kota yang sehat dan makmur melalui konsep kota hijau. Karena di kota yang hijau, penduduk akan lebih bahagia.

Upaya ini dilakukan agar kelima indikator SDSN yang lain yang meliputi; pendapatan per kapita, kebebasan untuk membuat pilihan hidup, persepsi korupsi, tunjangan sosial (social support) dan kemurahan hati (generosity), bisa tercapai sempurna.

Lima negara dengan peringkat kebahagiaan terendah adalah Togo (156), Benin (155), Republik Afrika Tengah (154), Burundi (153) dan Rwanda (152). Laporan lengkap SDSN bisa dibaca pada tautan berikut ini. Sudahkan Anda berbahagia hidup di Tanah Air?

Redaksi Hijauku.com