Forum Transportasi Internasional (ITF) dalam laporan terbarunya mengingatkan, mobilitas masyarakat (dihitung berdasarkan jarak) akan naik tiga kali lipat pada 2050 .

Laporan berjudul “Transport Outlook 2011” ini juga menyebutkan, permintaan kendaraan pribadi akan naik tiga hingga empat kali lipat dibanding tingkat kepemilikan mobil saat ini.

Pertumbuhan permintaan terbesar akan terjadi di negara dan ekonomi berkembang. Akibatnya, tingkat polusi karbon akan naik antara 2.5-3 kali lipat pada 2050 (dari level tahun 2000).

Dibutuhkan perencanaan transportasi dan penggunaan lahan yang komprehensif untuk mengatasi meningkatnya jumlah penggunaan kendaraan bermotor, termasuk menciptakan sistem transportasi penghubung yang efisien dari dan ke wilayah pinggiran perkotaan.

Namun upaya untuk mengurangi polusi udara dari sistem transportasi tetap tidak akan efektif tanpa pengurangan polusi dan jarak tempuh dari setiap kendaraan. Semua negara harus menerapkan solusi serta kebijakan terbaik untuk bisa mencapai target IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dan G8.

Walau semua negara anggota Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD – Organisation for Economic Co-operation and Development) sudah menerapkan standar efisiensi BBM untuk kendaraan bermotor, namun di luar OECD, hanya China yang memiliki standar tersebut.

Di Eropa, Amerika Utara dan Asia, produsen mobil terus berupaya mengembangkan dan menjual mobil yang sesuai bahkan melebihi standar efisiensi. Namun yang kita butuhkan adalah jaminan dari dunia internasional bahwa semua negara akan memiliki akses dan menggunakan teknologi hemat BBM yang paling bersih dan paling efisien.

Pada 2009, UNEP, International Energy Agency, International Transport Forum, dan FIA Foundation bekerja sama menetapkan Inisiatif Efisiensi BBM Global (Global Fuel Economy Initiative, GFEI).

Target mereka adalah meningkatkan efisiensi BBM kendaraan penumpang ringan sebesar minimal 50% (dalam liter/100km) pada 2050 (50by50). Mereka ingin meningkatkan efisiensi dari rata-rata 8 liter/100km (pada 2005) menjadi 4 liter /100km pada 2050.

Target tersebut setara dengan peningkatan dari 30 MPG (Miles per gallon) ke 60 MPG atau dari 12.5 km/liter menjadi 25 km/liter. Target ini akan mengurangi polusi karbon dioksida dari 186 gCO2/km menjadi 93 gCO2/km.

Kabar baiknya, target-target efisiensi BBM ini bisa diraih dengan teknologi siap pakai yang ada sekarang – mulai dari teknologi pengurangan berat kendaraan hingga informasi konsumsi BBM di dashboard.

GFEI juga membantu negara mengetahui kondisi dan posisi mereka sehingga bisa menerapkan kebijakan dan teknologi yang tepat untuk mencegah meningkatnya polusi karbon dioksida dan polutan-polutan lain (termasuk karbon hitam, black carbon).

Target regional dan nasional berbeda tergantung dari target efisiensi energi, komitmen memerangi pemanasan global, target keamanan energi, dan biaya bahan bakar fossil yang ditetapkan oleh setiap negara.

Satu yang pasti, standar efisiensi BBM (yang diciptakan bersama dengan industri otomotif ) berperan sangat penting dalam memacu inovasi . Pasar di negara maju (Uni Eropa, Amerika Utara dan Jepang) bahkan mencetak standar baru. Mereka akan memenuhi target efisiensi “50by50” pada 2030. Negara lain baru akan menyusul pada 2050.

Keputusan negara untuk menggunakan teknologi atau bahan bakar tertentu tidak murni didasari oleh pertimbangan teknis dan efisiensi, namun juga pertimbangan ketersediaan bahan bakar, kualitasnya dsb.

Catatan Redaksi:

Artikel ini diadaptasi dari sesi tanya jawab bersama Elisa Dumitrescu, konsultan di Unit Transportasi yang menjadi bagian dari Divisi Teknologi, Industri dan Ekonomi, UNEP.

Redaksi Hijauku.com