Dari Bencana Sumatera, Kita Belajar Soal Ketangguhan Listrik
Bencana besar yang melanda Sumatera beberapa waktu lalu kembali mengingatkan kita pada satu hal yang sering dianggap sepele yaitu ketangguhan listrik.
Bencana besar yang melanda Sumatera beberapa waktu lalu kembali mengingatkan kita pada satu hal yang sering dianggap sepele yaitu ketangguhan listrik.
Faktor cuaca bukanlah penyebab tunggal daya hancur yang besar dari kejadian banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Ada jejak ekologis akumulatif yang mengubah tata ruang yang memicu bencana.
Singapura kini sudah memiliki tutupan hijau 48%, dengan lebih dari 7.800 hektar ruang hijau yang terpelihara. Hampir separuh dari negara pulau itu hijau—dan mereka masih akan terus menambah. Pemerintah merencanakan penambahan 1.000 hektar dalam 10-15 tahun ke depan.
Apa yang terjadi di Sumatera bukanlah bencana alam. Ini adalah bencana sosio-ekologis. Ini adalah pembunuhan massal yang dilakukan secara perlahan oleh kebijakan tata ruang yang merusak, didorong oleh obsesi nasional terhadap ekstraksi sumberdaya yang kita sebut sebagai ‘pembangunan’.
Lemahnya penegakan regulasi dan kapasitas pengawasan di banyak daerah memerbesar celah antara klaim dan kinerja nyata perusahaan.
Sebuah studi penting yang dilakukan di Inggris pada tahun 2023 memberikan gambaran yang jelas sekaligus mengkhawatirkan. Alih-alih menjadi solusi, fasilitas daur ulang justru memperburuk masalah yang seharusnya mereka atasi.