Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres menyampaikan pesan dalam pertemuan sela Sidang Umum PBB di New York, 24 September 2026 yang dihadiri oleh para pemimpin negara dan duta besar dari seluruh dunia.
Guterres memperingatkan bahwa permukaan laut global naik hampir enam milimeter pada tahun 2024 – peningkatan tahunan terbesar yang pernah tercatat. Meskipun kenaikan ini diukur dalam milimeter, menurut Guterres, “harga dari kenaikan air laut itu sangat mahal: tidak hanya jutaan nyawa yang hilang, masyarakat pun tercabut dari akar mereka, dan kenaikan air laut mencuri masa depan mereka.”
Kenaikan permukaan air laut berkorelasi langsung dengan peningkatan emisi gas rumah kaca yang memicu peningkatan suhu permukaan bumi. Lapisan es di pegunungan tinggi pun mencair yang tidak hanya menambah volume air yang mengalir ke laut namun juga memicu banjir bandang dan longsor dahsyat seperti yang terjadi baru-baru ini di Nepal.
Tanpa pemotongan emisi yang drastis, mengutip laporan IPCC, bahkan dalam skenario terbaik, Guterres memperingatkan, permukaan air laut bisa naik satu meter pada akhir abad ini. Iklim dan cuaca dunia akan semakin ekstrem.
Guterres menyatakan, saat ini sekitar 770 juta orang tinggal di wilayah pesisir dengan jarak kurang dari lima meter dari batas garis air laut pasang. Sehingga menurut Guterres, skala dan kecepatan kenaikan air laut ini sangat berbahaya.
Ritmenya Semakin Cepat
“Gas rumah kaca – yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil – saat ini terus menggodok planet kita,” tegas Guterres. “Dan lautan menerima panasnya – menyerap sekitar sembilan puluh persen dari kenaikan suhu bumi ini.”
Guterres juga menyatakan, rekor gelombang panas dan kenaikan suhu terus terpecahkan, demikian juga suhu permukaan air laut, akibat fenomena cuaca El Niño. Greenland dan Antartika Barat kehilangan es lebih cepat – dan perubahan ini berisiko tidak lagi bisa dipulihkan.
Guterres memperingatkan, tanpa aksi adaptasi dan mitigasi yang signifikan, risiko yang dihadapi kota dan komunitas pesisir dapat meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2100. Kenaikan permukaan laut memperparah ancaman ini, menghantam ekonomi, perdagangan, infrastruktur, dan sistem pangan, menghapus warisan budaya dan identitas, memperparah ketidakstabilan dan integritas wilayah beberapa negara.
“Ketika tanah menghilang dan air tawar berubah menjadi garam, persaingan (memperebutkan sumber air) pun dimulai. Dan kita berisiko mengalami eksodus massal seluruh populasi,” ujarnya. “Inilah bentuk ketidakadilan iklim: mereka yang paling sedikit berkontribusi dalam menyebabkan krisis ini harus membayar harga tertinggi.”
Untuk itu, Sekjen PBB merekomendasikan aksi dalam tiga bidang.
“Pertama – tangani akar penyebabnya. Setiap kelebihan batas peningkatan 1,5 derajat Celcius harus dibatasi sekecil dan sependek mungkin. Emisi global harus segera memuncak, dan turun enam puluh persen pada tahun 2035.
“Kita harus melipatgandakan energi terbarukan, menggandakan efisiensi energi, memangkas emisi metana, menghentikan dan membalikkan deforestasi, serta beralih dari bahan bakar fosil – dengan cepat dan adil. G20 harus memimpin, dan COP31 di Türkiye harus mewujudkannya,” tegas Guterres.
“Kedua – kita harus melindungi masyarakat dari kenaikan air laut. Dengan menanamkan ketahanan terhadap kenaikan permukaan laut dalam rencana adaptasi nasional, anggaran pembangunan, keputusan infrastruktur, dan penggunaan lahan,” tuturnya. “Serta memanfaatkan ilmu pengetahuan, data, serta pengetahuan masyarakat adat dan komunitas lokal.”
Saat ini, 128 negara melaporkan memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya. “(Upaya kita membangun sistem peringatan dini) tidak boleh berhenti sampai setiap orang di Bumi terlindungi,” kata Guterres. Pemerintah harus merencanakannya sejak dini bersama masyarakat – melindungi hak-hak dan menjaga komunitas agar tetap bersama di mana pun mereka berada.
Guterres menegaskan dana yang tersedia harus sesuai dengan tingkat krisis. “Target penyaluran dana tahunan sebesar $300 miliar untuk negara berkembang harus segera menjadi langkah mobilisasi $1,3 triliun per tahun pada tahun 2035. Pembiayaan adaptasi harus tiga kali lipat – sebagai langkah awal untuk menutup kesenjangan pembiayaan adaptasi,” tuturnya. Untuk itu, Green Climate Fund dan Loss and Damage Fund menurut Guterres harus sepenuhnya diberdayakan.
“Ketiga – menutup celah hukum. Mahkamah Internasional dan Komisi Hukum Internasional telah menyatakan bahwa negara masih bisa terus ada meskipun wilayahnya hilang. Zona dan batas maritim negara tetap bisa dipertahankan seiring perubahan garis pantai,” ujar Guterres.
“Hak-hak penduduk tidak hilang hanya karena rumah mereka hilang. Dan penduduk-penduduk itu harus dilindungi. Kita membutuhkan kejelasan hukum yang konsisten dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut – dan kerja sama internasional sangat penting untuk mencapai kesepakatan kompensasi yang layak bagi negara-negara dan komunitas lokal yang terdampak,” ujar Guterres.
Guterres menutup pidatonya dengan menyatakan, “Saya memuji negara-negara anggota PBB atas negosiasi deklarasi komprehensif tentang kenaikan permukaan laut. Tonggak ini sekarang harus diterjemahkan ke dalam tindakan. Kita tidak boleh membiarkan negara dan budaya lenyap di bawah gelombang, atau membiarkan aspirasi miliaran orang tenggelam. SOS (tanda bahaya) sudah diluncurkan. Dunia harus meresponsnya.”
Terima kasih.
–##–
Leave A Comment