Sementara Perusahaan Minyak Terbesar Dunia Mencetak Rekor Keuntungan

Saat perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia mencetak rekor laba sebesar $93 miliar pada kuartal kedua 2026, analisis terbaru dari 350.org menunjukkan bahwa rumah tangga Indonesia yang menanggung akibatnya, dengan guncangan harga minyak akibat perang Iran membebani perekonomian hingga miliaran dolar.

Analisis terbaru dari 350.org menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak telah membebani Indonesia sebesar USD 5 miliar atau sekitar IDR 89 triliun sejak dimulainya perang Iran, dan berpotensi mencapai lebih dari USD 13 miliar (USD 12,44 miliar–USD 13,09 miliar) setara IDR 214.404.000.000.000 (dua ratus empat belas triliun empat ratus empat miliar rupiah) secara total hingga akhir tahun apabila eskalasi terus berlanjut. Bahkan jika terjadi normalisasi cepat di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya, kenaikan harga minyak tetap akan membebani masyarakat dan dunia usaha Indonesia lebih dari USD 7 miliar (USD 7,22 miliar–USD 7,6 miliar) hingga akhir tahun. Angka-angka ini menggambarkan perkiraan biaya tambahan yang harus ditanggung bersama oleh rumah tangga Indonesia akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil.

350.org menyatakan bahwa praktik pengambilan keuntungan besar-besaran oleh perusahaan multinasional minyak di tengah penderitaan rakyat ini “tidak dapat diterima.” Hal ini menunjukkan urgensi bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, dan sebaliknya mempercepat transisi menuju energi terbarukan dalam negeri yang lebih terjangkau.

Kelompok ini juga menyerukan penerapan pajak laba berlebih (windfall profit tax) permanen atas perusahaan minyak, gas, dan batu bara untuk menghimpun pendapatan yang sangat dibutuhkan bagi penanganan dan pemulihan bencana iklim, perlindungan sosial, serta percepatan penerapan energi terbarukan guna membantu masyarakat rentan. Kemunculan fenomena El Niño yang kuat, ditambah dengan suhu panas yang mencatat rekor tertinggi, telah memicu kekeringan, kebakaran hutan, dan curah hujan tinggi di berbagai wilayah di Indonesia.

Sisilia Nurmala Dewi, 350.org Indonesia Country Manager, menyatakan, “Beban ganda berupa tingginya biaya energi dan cuaca ekstrem tengah mendorong rumah tangga Indonesia ke ambang batas yang berbahaya. Sementara itu, perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia meraup keuntungan tanpa konsekuensi dari krisis yang mereka ciptakan sendiri, jauh di ruang-ruang rapat mereka. Ini bukan sekadar tidak adil — ini tidak dapat diterima. Indonesia memiliki sinar matahari dan angin yang melimpah untuk menggerakkan negerinya sendiri tanpa harus bergantung pada impor bahan bakar fosil yang mahal dan tidak stabil. Kami mendesak pemerintahan Prabowo untuk berhenti menunda penerapan pajak windfall profit dan mengerahkan tambahan dana itu untuk melindungi rumah tangga Indonesia sekarang. Para pemimpin harus membuat pihak pencemar membayar bagian yang adil dan mempercepat transisi menuju energi terbarukan, agar kita tidak lagi tersandera oleh pasar minyak global.”

Analisis 350.org didasarkan pada skenario harga minyak dan gas dari World Economic Outlook April 2026 milik Dana Moneter Internasional (IMF), serta prospek harga dari Goldman Sachs dan data konsumsi Indonesia, termasuk penurunan permintaan akibat kenaikan harga dan langkah-langkah pembatasan (rationing).

Analisis ini secara sengaja menggunakan pendekatan konservatif dalam memperkirakan total kerugian akibat kenaikan harga. Analisis ini tidak memperhitungkan dampak lanjutan yang lebih luas, seperti kenaikan harga pangan dan pupuk, inflasi secara umum, atau penurunan output ekonomi.

Analisis ini membandingkan kenaikan harga dengan tingkat harga pada minggu sebelum perang Iran, misalnya harga minyak mentah Brent sebesar USD 72 per barel — harga yang sebenarnya sudah berada di atas level pada minggu-minggu dan bulan-bulan sebelumnya di tahun 2026, dan kemungkinan besar sudah mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan di Timur Tengah. Artinya, dampak ekonomi sesungguhnya kemungkinan bahkan lebih tinggi.

Penurunan permintaan akibat kenaikan harga dan pembatasan (rationing) sudah diperhitungkan dalam analisis ini. Untuk gas, estimasi didasarkan pada proyeksi Goldman Sachs (yang skenario dasarnya sedikit lebih rendah dibandingkan skenario IMF) — dengan pembobotan dan penyesuaian berdasarkan data/observasi dunia nyata, serta asumsi korelasi yang tinggi antara harga gas Eropa dan Asia.

Angka-angka dapat sedikit bervariasi karena pembulatan, termasuk dalam konversi satuan seperti meter kubik ke satuan energi (EJ dan MWh).

Skenario Dasar (Baseline)

Komponen

Formula Data yang digunakan

Hasil

Biaya minyak tambahan, bulan ke-1 Penggunaan minyak × 30 × $20 1,633 mb/hari × 30 × $20 $0,98 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-2 Penggunaan minyak × 30 × $23 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $30 × 0,98 $1,44 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-3 Penggunaan minyak × 30 × $35 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $35 × 0,98 $1,68 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-4 Penggunaan minyak × 30 × $13 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $13 × 0,98 $0,62 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-5 Penggunaan minyak × 30 × $8 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $8 × 0,98 $0,38 miliar
TOTAL   $0,98 miliar + $1,44 miliar + $1,68 miliar + $0,62 miliar + $0,38 miliar $5,10 miliar
Proyeksi biaya minyak tambahan, skenario dasar Penggunaan minyak × 156 hari × $10 × penurunan permintaan 1,633 mb/hari × 156 × $10 × 0,98 $2,50 miliar
Total Kotor Biaya tambahan yang telah terjadi dan yang diproyeksikan $5,10 miliar + $2,50 miliar $7,6 miliar
Ketidakpastian ke bawah   0,95 × $7,6 miliar – $7,6 miliar $7,22 miliar – $7,6 miliar

Skenario Berat (Adverse)

Komponen

Formula Data yang digunakan

Hasil

Biaya minyak tambahan, bulan ke-1 Penggunaan minyak × 30 × $20 1,633 mb/hari × 30 × $20 $0,98 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-2 Penggunaan minyak × 30 × $23 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $30 × 0,98 $1,44 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-3 Penggunaan minyak × 30 × $35 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $35 × 0,98 $1,68 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-4 Penggunaan minyak × 30 × $13 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $13 × 0,98 $0,62 miliar
Biaya minyak tambahan, bulan ke-5 Penggunaan minyak × 30 × $8 × permintaan terkontrak 1,633 mb/hari × 30 × $8 × 0,98 $0,38 miliar
TOTAL   $0,98 miliar + $1,44 miliar + $1,68 miliar + $0,62 miliar + $0,38 miliar $5,10 miliar
Proyeksi biaya minyak tambahan, skenario dasar Penggunaan minyak × 156 hari × $10 × penurunan permintaan 1,633 mb/hari × 156 × $32 × 0,98 $7,99 miliar
Total Kotor Biaya tambahan yang telah terjadi dan yang diproyeksikan $5,10 miliar + $7,99 miliar $13,09 miliar
Ketidakpastian ke bawah   0,95 × $13,09 miliar – $13,09 miliar $12,44 miliar – $13,09 miliar