Cibinong–Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali memperkuat perannya dalam mendukung kebijakan konservasi berbasis sains melalui kolaborasi strategis dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT), Kementerian Kehutanan. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui riset bertajuk “Kajian Keanekaragaman Genetik Satwa Purba Komodo”, yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian kegiatan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Senin (15/6).

Kajian ini bertujuan menghasilkan gambaran terkini mengenai keragaman genetik populasi komodo di wilayah kerja BBKSDA NTT. Data yang diperoleh diharapkan menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan strategi pengelolaan dan konservasi komodo secara lebih tepat, terukur, dan berkelanjutan di habitat alaminya.

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Andes Hamuraby Rozak, menegaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dimulai sejak 2025. Pengalaman pada tahun pertama pelaksanaan menjadi bahan evaluasi penting untuk meningkatkan kualitas proses riset dan hasil yang dihasilkan.

“ORHL bangga dan tertantang untuk terus berkolaborasi dalam kajian keanekaragaman genetik komodo. Kami sangat terbuka dan antusias mendukung inisiatif ini karena kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci dalam perencanaan dan aksi nyata konservasi komodo,” ujar Andes.

Menurutnya, riset berbasis bukti ilmiah merupakan fondasi penting dalam mendukung pengambilan kebijakan konservasi. Karena itu, BRIN berkomitmen menyediakan dukungan riset yang cepat, akurat, dan relevan bagi kementerian maupun lembaga dalam menjawab berbagai tantangan pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

Sementara itu, Kepala BBKSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, menyampaikan apresiasi atas dukungan berkelanjutan BRIN dalam penyediaan data ilmiah yang dibutuhkan untuk konservasi komodo. Ia menilai informasi genetik yang dihasilkan dari kajian ini memiliki peran strategis, terutama dalam mengidentifikasi populasi komodo di luar kawasan Taman Nasional Komodo.

“Pengetahuan mengenai genetik dan perbedaan komodo di Flores sangat penting. Ini akan menjadi dasar dalam berbagai program konservasi ke depan, termasuk pengembangan santuari maupun rehabilitasi komodo,” jelas Adhi.

Ia menambahkan, data genetik juga akan sangat membantu dalam penanganan kasus konflik satwa maupun perdagangan ilegal komodo. Dengan mengetahui asal-usul individu komodo yang ditemukan, pengelola dapat menentukan lokasi pelepasliaran yang tepat tanpa mengganggu struktur genetik populasi asli di habitatnya.

“Jika ada individu komodo hasil penanganan konflik atau perdagangan ilegal, data genetik ini membantu kami menentukan asal-usulnya agar tidak mengganggu sistem genetik populasi aslinya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Adhi mengungkapkan bahwa hasil kajian akan menjadi pijakan penting dalam pengembangan berbagai program konservasi di masa mendatang, termasuk rencana pengelolaan dan pengembangan kawasan konservasi di Pulau Ontoloe. Selain mendukung tugas dan fungsi BBKSDA NTT, data tersebut juga akan memperkaya basis data ilmiah nasional mengenai keanekaragaman hayati Indonesia.

Dari sisi BRIN, Kepala Pusat Riset Sistem Biota, Decky Indrawan Junaedi, menekankan bahwa keragaman genetik merupakan salah satu aspek kunci dalam menjaga keberlanjutan populasi komodo. Setiap populasi memiliki karakteristik genetik yang perlu dipertahankan agar kemampuan adaptasi dan kelangsungan hidup spesies tetap terjaga.

“Keragaman genetik ini penting karena tujuan utamanya adalah menjaga keragaman genetik dari Pulau Komodo dan populasi komodo yang ada di kawasan tersebut. Kegiatan ini juga sejalan dengan tugas Pusat Riset Sistem Biota dalam melakukan kajian ekologi spesies biota Indonesia, termasuk spesies endemik dan terancam punah,” terang Decky.

Sebagai satwa endemik Indonesia yang memiliki nilai penting secara ekologis dan global, menurut Decky, komodo menghadapi berbagai tantangan konservasi. Statusnya sebagai satwa dilindungi dan terancam punah menuntut strategi pengelolaan yang semakin berbasis data ilmiah. Oleh karena itu, penguatan pengetahuan mengenai aspek genetik menjadi langkah penting untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi jangka panjang.

Selain menghasilkan data ilmiah mengenai komodo, kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya BRIN memperkuat jejaring riset konservasi nasional. Pusat Riset Sistem Biota selama ini aktif mengembangkan berbagai kolaborasi untuk mendukung penyediaan data ekologi dan konservasi beragam spesies penting Indonesia, mulai dari fauna, flora, hingga biota laut.

“Kami berharap kerja sama ini dapat memperkuat kolaborasi riset, terutama dalam penyediaan data spesies biota Indonesia yang masih perlu terus dilengkapi. Ke depan, data ekologi dan konservasi jenis-jenis penting Indonesia diharapkan terdokumentasi dengan baik, tidak hanya terkait keberadaan spesies, tetapi juga aspek ekologi dan konservasinya,” ujar Decky.

Melalui kajian keanekaragaman genetik komodo ini, BRIN dan BBKSDA NTT berupaya memperkuat fondasi ilmiah konservasi biodiversitas Indonesia. Hasil riset diharapkan tidak hanya mendukung pelestarian komodo sebagai satwa ikonik nasional, tetapi juga menjadi acuan dalam pengelolaan habitat dan populasi komodo secara berkelanjutan di masa depan. (yl,aa/ed:ade,ugi)