Jakarta, 11 Juli 2025 – Aktivis muda yang tergabung di Climate Rangers Jakarta mengadakan diskusi dengan topik Everyone Matters: Advancing a Just Transition in Climate, Energy, and Green Investment, yang dilaksanakan di gedung IDN Times. Diskusi ini turut didukung oleh IDN Times sebagai media partner, memperkuat komitmen bersama dalam mendorong transisi energi dan iklim yang adil dan inklusif. Diskusi ini merupakan agenda pembuka dari Local Conference of Children and Youth (LCOY) Indonesia 2025 yang merupakan konferensi orang muda menuju KTT Iklim (COP) 30 Brazil. Inisiatif ini menjadi wadah untuk memperkuat suara anak dan orang muda Indonesia untuk membentuk masa depan iklim yang adil dan berkelanjutan.
“Sebelum membicarakan mengenai transisi energi berkeadilan, kita perlu melihat transisi berkeadilan itu versi siapa terlebih dahulu. Mungkin bagi pengusaha transisi energi sudah adil tetapi bagi masyarakat belum adil, lalu apakah anak muda bisa menentukan transisi energi berkeadilan. Selain itu, jauh sebelum membicarakan transisi energi kita juga mempertimbangkan masih banyak masyarakat yang bahkan belum mengenal sumber energi.” Ujar Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Greenpeace Indonesia.
“Ngomongin krisis iklim itu nggak bisa lepas dari politik,” tegas Neildeva Despendya, Direktur Eksekutif Generasi Melek Politik. “Karena setiap keputusan politik bisa jadi dua arah: makin memperparah krisis, atau jadi titik balik Indonesia jadi pionir penanganan iklim.”
Ia juga menyoroti praktik korupsi yang menjamur di sektor sumber daya alam—seperti jual beli izin tambang—yang justru mempercepat kehancuran lingkungan. “Ini bukan cuma soal cuaca ekstrem atau suhu naik. Ini soal siapa yang pegang kuasa, dan mereka pilih bangun masa depan atau rusak semuanya demi cuan.” Sayangnya, menurut Neildeva, anak muda masih terjebak dalam tokenisme atau hanya dijadikan pemanis di forum-forum—hadir tapi nggak dianggap. “Anak muda perlu lebih dari sekadar undangan. Kita harus dilibatkan penuh dalam proses pengambilan keputusan, apalagi soal isu sebesar krisis iklim dan transisi energi. Ini masa depan kita yang dipertaruhkan.”
Peneliti Indonesia Center Environmental Law, Sylvi Sabrina mengatakan hal yang serupa, dia menyoroti urgensi Rancangan Undang-Undang Keadilan Iklim guna mengarusutamakan prinsip keadilan maupun keadilan iklim antargenerasi untuk memastikan suara kelompok rentan dalam kebijakan iklim. “Keadilan iklim adalah soal menjamin hak setiap orang, terutama mereka yang selama ini paling terdampak, untuk hidup layak, sehat, dan aman di tengah krisis iklim. Transisi energi tidak boleh menambah ketimpangan baru. Justru harus menjadi momentum untuk memperbaiki relasi kuasa dan akses terhadap sumber daya.” jelasnya.
“Diskusi ini menekankan bahwa transisi energi berkeadilan bukan sekadar soal teknologi atau investasi, melainkan juga soal keadilan sosial dan hak asasi manusia. Orang muda sebagai subjek terdampak perlu menjadi aktor sentral dalam aksi iklim dan transisi energi” tegas Pinkan Astina Hermawan, Program Officer LCOY 2025
Diskusi ini diakhiri dengan seruan bersama untuk memperkuat gerakan kolektif lintas generasi demi memastikan transisi energi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Narahubung:
Pinkan Astina – +62 856-9743-5340 pinkan@climaterangers.or.id
Tentang LCOY
LCOY Indonesia adalah gerakan nasional yang dipimpin oleh anak dan orang muda sebagai ruang strategis untuk memastikan partisipasi bermakna dalam kebijakan iklim dan energi di tingkat nasional dan global menjelang COP30. Melalui penyusunan National Children and Youth Statement di 38 provinsi dan penguatan koalisi jangka panjang, inisiatif ini bertujuan memperkuat suara anak dan orang muda dalam negosiasi iklim internasional dan gerakan masyarakat sipil.
Diselenggarakan oleh Climate Rangers Jakarta, LCOY Indonesia 2025 mengintegrasikan prinsip GEDSI serta menjamin keterwakilan wilayah yang terdampak dan kurang terwakili. Inisiatif ini tidak hanya memberi ruang, tetapi juga memperkuat kapasitas advokasi anak dan orang muda untuk membangun masa depan iklim yang adil, inklusif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas daerah dan aksi kolektif yang berdampak.
Leave A Comment