Panel Antarpemerintah terkait Perubahan Iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyampaikan peringatan terakhir yang paling komprehensif soal krisis iklim. Industri dan konsumsi energi kotor terus menyumbang masalah terbesar.

IPCC dalam Synthesis Report of The IPCC Sixth Assessment Report (Ar6) – Summary for Policymakers kembali menegaskan dampak peningkatan polusi gas rumah kaca hasil aktivitas manusia terhadap anomali cuaca dan bencana, yang akan mengubah kehidupan manusia. Suhu bumi telah naik 1,1°C di periode 2011–2020 dibanding dengan periode 1850–1900.

Pemicunya tidak lain adalah penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan, guna lahan yang serampangan, gaya hidup, pola konsumsi dan pola produksi manusia yang serakah. Peringatan ini disampaikan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high confidence). Berikut adalah bukti-buktinya.

Emisi CO2 bersih kumulatif historis dari tahun 1850 hingga 2019 mencapai 2400±240 GtCO2 di mana lebih dari setengah (58%) terjadi antara tahun 1850 dan 1989, dan sekitar 42% terjadi antara tahun 1990 dan 2019 (kepercayaan tinggi).

Pada tahun 2019, konsentrasi CO2 atmosfer (410 bagian per juta) lebih tinggi daripada kapan pun dalam setidaknya 2 juta tahun (kepercayaan tinggi), dan konsentrasi metana (1866 bagian per miliar) dan dinitrogen oksida (332 bagian per miliar) lebih tinggi daripada kapan pun dalam setidaknya 800.000 tahun (kepercayaan yang sangat tinggi).

Emisi CO2 bersih kumulatif historis dari tahun 1850 hingga 2019 adalah 2400±240 GtCO2 di mana lebih dari setengah (58%) terjadi antara tahun 1850 dan 1989, dan sekitar 42% terjadi antara tahun 1990 dan 2019 (kepercayaan tinggi).

Pada tahun 2019, konsentrasi CO2 di atmosfer mencapai 410 PPM (parts per million) tertinggi dalam 2 juta tahun terakhir (kepercayaan tinggi). Konsentrasi metana/CH4 (1866 PPM) dan dinitrogen oksida/N2O (332 PPM) mencapai rekor tertinggi dalam setidaknya 800.000 tahun terakhir (kepercayaan yang sangat tinggi).

Emisi GRK antropogenik (akibat ulah manusia) bersih global diperkirakan mencapai 59±6,6 GtCO2-eq9 pada tahun 2019, sekitar 12% (6,5 GtCO2-eq) lebih tinggi dari tahun 2010 dan 54% (21 GtCO2-eq) lebih tinggi dari tahun 1990. Penyumbang pertumbuhan emisi GRK bruto CO2 terbesar lagi-lagi bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil dan proses industri (CO2-FFI) diikuti oleh polusi metana.

Rata-rata emisi GRK tahunan selama 2010-2019 tercatat lebih tinggi dibanding dekade sebelumnya, sementara tingkat pertumbuhan antara 2010 dan 2019 (1,3% tahun-1) lebih rendah dibanding tahun 2000 dan 2009 (2,1% tahun-1).

Pada tahun 2019, 79% emisi GRK global berasal dari sektor energi, industri, transportasi, dan bangunan bersama-sama dan 22%10 33 dari pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya (AFOLU).

Negara-negara kurang berkembang (LDC) dan Negara-negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS) memiliki emisi per kapita yang jauh lebih rendah (masing-masing 1,7 tCO2-eq dan 4,6 tCO2-eq) daripada rata-rata global (6,9 tCO2-eq), tidak termasuk CO2-LULUCF. 10% rumah tangga dengan emisi per kapita tertinggi berkontribusi 34-45% dari emisi GRK rumah tangga berbasis konsumsi global, sedangkan 50% terbawah berkontribusi 13-15% (kepercayaan tinggi).

Perubahan di atmosfer, lautan, cryosphere dan biosfer telah terjadi. Dampaknya semakin luas dan cepat akibat krisis iklim. Perubahan iklim telah memicu cuaca dan iklim ekstrem di setiap wilayah di seluruh dunia. Dampaknya terus memburuk, meluas dengan kerugian serta kerusakan terkait dengan alam dan manusia yang semakin besar (kepercayaan tinggi). Masyarakat yang paling rentan adalah mereka yang secara historis berkontribusi paling sedikit terhadap perubahan iklim (kepercayaan tinggi).

Sangat jelas bahwa ulah manusia telah memanaskan atmosfer, lautan, dan daratan. Rata-rata permukaan laut global meningkat sebesar 0,20 [0,15–0,25] m antara tahun 1901 dan 2018. Tingkat rata-rata kenaikan permukaan laut adalah 1,3 [0,6 hingga 2,1] mm antara tahun 1901 dan 1971, meningkat menjadi 1,9 [0,8 hingga 2,9] mm antara tahun 1971 dan 2006, dan selanjutnya meningkat menjadi 3,7 [3,2 hingga 4,2] mm antara tahun 2006 dan 2018 (kepercayaan tinggi). Ulah manusia sangat mungkin menjadi pendorong utama peningkatan ini setidaknya sejak tahun 1971.

Dampaknya, sekitar 3,3-3,6 miliar orang hidup dalam kondisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kerentanan manusia dan ekosistem saling bergantung. Wilayah dan penduduk dengan kendala pembangunan yang cukup besar juga memiliki kerentanan tinggi terhadap bahaya iklim.

Meningkatnya peristiwa ekstrem cuaca dan iklim telah membuat jutaan orang mengalami kerawanan pangan akut dan berkurangnya ketahanan air, dengan dampak buruk terbesar di Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Selatan, LDC, Kepulauan Kecil dan Arktik. Masyarakat Adat, produsen pangan (petani/nelayan) skala kecil, dan rumah tangga berpenghasilan rendah menjadi kelompok paling rentan.

Antara 2010 dan 2020, kematian manusia akibat banjir, kekeringan, dan badai melonjak 15 kali lebih tinggi di daerah yang sangat rentan, dibandingkan dengan daerah dengan kerentanan yang sangat rendah. (kepercayaan tinggi).

Perubahan iklim telah menyebabkan kerusakan substansial, dan kerugian yang semakin tidak dapat dipulihkan kembali, di ekosistem darat, air tawar, cryospheric, dan pesisir dan laut terbuka (kepercayaan tinggi). Ratusan spesies lokal musnah akibat peningkatan panas ekstrem (kepercayaan tinggi) termasuk peristiwa kematian massal yang tercatat di darat dan di lautan (kepercayaan yang sangat tinggi).

Dampak pada beberapa ekosistem mendekati level yang tidak mungkin dipulihkan lagi, seperti dampak perubahan hidrologi yang dihasilkan dari berkurangnya gletser, atau perubahan di beberapa gunung (kepercayaan sedang) dan ekosistem Arktik yang didorong oleh pencairan permafrost (kepercayaan tinggi).

Perubahan iklim telah mengurangi ketahanan pangan dan mempengaruhi ketahanan air, menghambat upaya untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/TPB/SDGs (kepercayaan tinggi).

Meskipun produktivitas pertanian secara keseluruhan telah meningkat, perubahan iklim telah memperlambat pertumbuhan ini selama 50 tahun terakhir secara global (kepercayaan sedang), dengan dampak negatif terkait terutama di daerah lintang menengah dan rendah tetapi dampak positif di beberapa wilayah lintang tinggi (kepercayaan tinggi).

Pemanasan dan pengasaman laut telah berdampak buruk pada produksi pangan dari perikanan dan budidaya kerang di beberapa wilayah samudera (kepercayaan tinggi). Sekitar setengah dari populasi dunia saat ini mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama sebagian tahun ini karena kombinasi pendorong iklim dan non-iklim (kepercayaan sedang).

Di semua wilayah, peningkatan peristiwa panas ekstrem telah mengakibatkan mortalitas (kematian akibat penyakit) dan morbiditas (kerentanan terhadap penyakit) pada manusia (kepercayaan sangat tinggi). Penyakit ditularkan melalui makanan dan air yang sangat terkait iklim (kepercayaan yang sangat tinggi) demikian juga penyakit yang ditularkan melalui vektor (kepercayaan tinggi) telah meningkat.

Di sejumlah wilayah yang diteliti, muncul masalah kesehatan mental terkait dengan meningkatnya suhu (kepercayaan tinggi), trauma dari peristiwa ekstrem (kepercayaan yang sangat tinggi), dan hilangnya mata pencaharian dan budaya (kepercayaan tinggi).

Iklim dan cuaca ekstrem semakin mendorong perpindahan di Afrika, Asia, Amerika Utara (kepercayaan tinggi), dan Amerika Tengah dan Selatan (kepercayaan sedang), dengan negara-negara pulau kecil di Karibia dan Pasifik Selatan terpengaruh secara tidak proporsional relatif terhadap ukuran populasi mereka (kepercayaan tinggi).

Di daerah perkotaan, perubahan iklim telah berdampak buruk pada kesehatan manusia, mata pencaharian, dan infrastruktur utama. Peristiwa panas ekstrem terus meningkat di perkotaan. Infrastruktur perkotaan, termasuk transportasi, air, sanitasi, dan sistem energi terdampak cuaca ekstrem, mengakibatkan kerugian ekonomi, gangguan layanan, dan berdampak negatif terhadap kesejahteraan. Dampak buruk terutama dialami oleh penduduk perkotaan yang termarginalkan secara ekonomi dan sosial. (kepercayaan diri tinggi)

Laporan IPCC kembali menegaskan, polusi gas rumah kaca yang terus meningkat akan memicu pemanasan global, mencapai 1,5°C dalam waktu dekat. Setiap peningkatan pemanasan global akan memicu bahaya yang berlipat ganda dan bersamaan (kepercayaan diri tinggi). Aksi pengurangan polusi gas rumah kaca secara cepat, mendasar dan berkelanjutan bisa memperlambat efek pemanasan global dalam waktu dua dekade, dan perubahan ini dapat dilihat dalam komposisi atmosfer dalam beberapa tahun (kepercayaan tinggi).

Redaksi Hijauku.com