Oleh: Jalal *

Kemarin, tanggal 21 Juni 2021, diperingati sebagai Hari Musik Sedunia. Selain itu, ada banyak orang terkenal yang juga berulang tahun. Presiden Jokowi, Michel Platini, Pangeran William, Jean-Paul Sartre, dan Edward Snowden adalah di antara nama-nama terkenal yang kemarin dirayakan ulang tahunnya. Tapi saya benar-benar sedang ingin merayakan Hari Musik Sedunia itu dengan menuliskan rasa bersyukur saya atas musik yang berjasa besar membuat hidup ini jadi lebih menarik. Maka perkenankan saya bertutur soal musik pada tulisan kali ini.

Menikmati Hampir Semua Genre Musik 

Ayah dan ibu saya—keduanya telah meninggal dunia—sangatlah menggemari musik. Bukan saja mendengarkan, mereka juga memainkan berbagai alat musik dan bernyanyi. Koleksi kaset mereka seabreg, dan dari merekalah saya mendengarkan bermacam genre musik lalu mengembangkan kesukaan yang eklektis. Ayah saya sangat menggemari Jim Reeves, dan ibu saya adalah fans berat Connie Francis. Tapi, yang mereka dengarkan itu merentang dari musik klasik, musik tradisional berbagai daerah di Indonesia, musik mancanegara (terutama dari Tiongkok, Jepang, Belanda dan Timur Tengah), dan tentu saja lagu-lagu pop, jazz dan rock berbahasa Inggris terkenal dari periode 1950an hingga 1980an. Tak aneh kalau sekarang saya punya kegemaran mendengarkan (dan memiliki koleksi lengkap) ABBA, The Beatles, The Bee Gees, Queen, Simon and Garfunkel dan Bruce Springsteen, di antara banyak yang lain. Itu semua adalah selera yang diwariskan kedua orang tua saya.

Apakah saya benar memiliki toleransi dan apresiasi atas segala jenis musik lantaran sudah dilatih demikian? Agaknya tidak juga. Walaupun ketika kecil saya bisa terpana selama berjam-jam di depan sound system di rumah, sambil membaca buku atau teks lagu yang disediakan oleh kaset-kaset jadul, ketika itu saya tak pernah bisa menikmati musik dangdut. Walaupun, tentu saja, kaset-kaset dangdut itu ada di antara koleksi orang tua, saya tak pernah menyentuhnya.

Transformasi menjadi penikmat semua genre terjadi di tahun 1990an. Ketika menjadi mahasiswa di IPB, saya tinggal di sebuah tempat kos yang berdekatan dengan Terminal Baranangsiang. Tak ayal, setiap malam saya ‘disuguhi’ lagu-lagu Hamdan ATT, Rhoma Irama, hingga Meggy Z. Bukan saja saya jadi toleran atas lagh-lagunya, mendengarkannya setiap malam membuat saya mampu mengapresiasinya. Ada dua candaan yang saya buat sekitar peristiwa ini. Saya kerap bilang “Dulu saya nggak bisa tidur kalo denger dangdut. Setahun di Baranangsiang, saya susah tidur kalo nggak muter lagu dangdut dulu.” Lalu, kalau ada rekan yang cerita bahwa dia suka lagu-lagu Elvis, saya langsung tanya, “Maksudnya Presley, Costello, atau Sukaesih?”

Kembali dulu sebentar ke kenangan masa kecil. Saya bersyukur diajari membaca oleh ibu dan sejak umur 4 tahun jadi pembaca akut. Apapun saya baca. Dan, termasuk di antara aktivitas yang paling saya gemari adalah membaca lirik lagu yang dahulu tersedia bersama sampul kaset-kaset. Saya membaca lirik dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda, dan itu jelas bertanggung jawab atas kosakata yang ada di benak saya. Kalau ada kaset yang tak menyertakan lirik, padahal saya suka lagu-lagunya, yang saya lakukan adalah memutar kaset berulang-ulang, lantaran ingin punya liriknya secara tertulis. Saya sama sekali bukan orang yang rajin mencatat. Tapi, catatan atas lirik lagu mungkin ada ratusan, dan itu cuma hingga saya menyelesaikan sekolah dasar.

Saking gilanya saya mendengarkan semua jenis musik (kecuali dangdut!), ketika masuk SMP saya dijuluki ‘Radio’ oleh banyak orang. Kegemaran itu tak pernah pupus selama SMP dan SMA, dan terbawa hingga masa kuliah. Ketika pendaftaran masuk IPB, saya tetiba berhadapan dengan Profesor Andi Hakim Nasoetion, yang adalah satu-satunya orang yang saya tahu dan membuat saya ingin masuk IPB. Tak dinyana, percakapan pertama kali kami ternyata juga tentang musik. Beliau bertanya apa hobi saya, dan saya bilang “Jalan-jalan, membaca, dan mendengarkan lagu.” Di Aula Kantor Pusat IPB itu sedang diputar lagu House for Sale, dan beliau berteriak minta lagu itu dikeraskan, lalu meminta saya menceritakan isinya. Beliau tampaknya senang, lalu meminta saya menjelaskan isi lagu berikutnya, Rain and Tears. Setelah saya memberikan jawaban, beliau kemudian berteriak lagi, meminta lagunya diganti jadi lagu Sunda. Yang terdengar adalah Panon Hideung, lalu Bubuy Bulan. Beliau terus tersenyum mendengarkan upaya saya memahami liriknya, walau tak bilang apa yang dipikirkannya. Beliau berlalu sambil bilang, “Selamat datang di IPB!”

Berkembang, Menjelajahi Genre Lain 

Kuliah jauh dari orangtua membuat saya (jauh lebih) banyak menonton film di bioskop. Jadi, saya kemudian mengembangkan kesukaan kepada musik-musik score dan lagu tema film-film. Kegemaran itu tak pernah surut. Saya menggemari komposisi John Barry, Danny Elfman, Howard Shore, John Williams, hingga Hans Zimmer—dan punya banyak sekali koleksi musik mereka. Namun, komposer musik yang paling saya sukai adalah Ennio Morricone. Saya dan istri punya panggilan sayang dan hormat kepada dia, “Mbah Mo.” Salah satu cita-cita kami adalah menonton langsung konsernya, dan ini menjadi cita-cita kami yang tak kesampaian, lantaran beliau membatalkan konsernya karena alasan kesehatan beberapa tahun lalu, dan berpulang di tahun 2020.

Satu lagi genre musik yang saya kembangkan kegemaran mendengarkannya, dan menjadi favorit saya hingga sekarang adalah drama musikal. Dari menonton banyak film dan mendengarkan seabreg lagu, saya jadi tahu bahwa banyak sekali lagu popular yang berasal dari drama musikal. Tetapi, kemudian saya menyadari bahwa mendengarkan musikal secara penuh adalah soal lain lagi. Baik musik maupun liriknya akan jauh lebih memesona dibandingkan kalau hanya mendengarkan satu-dua lagu yang paling popular dari sebuah musikal, apalagi ‘sekadar’ versi popnya. Maka, telinga dan hati saya benar-benar bahagia mendengarkan seluruh isi Aladdin, Cats, Chicago, Grease, Hamilton, Les Miserables, Miss Saigon, My Fair Lady, Rent, South Pacific, The Band’s Visit, The Phantom of the Opera, The Sound of Music atau West Side Story.

Kalau mendengarkan musikal saja sangat menyenangkan, menontonnya secara langsung di panggung-panggung di seluruh dunia tentu lebih membahagiakan lagi. Drama musikal adalah pertunjukan seni akting, tarian dan nyanyian sekaligus. Ini membuatnya disebut sebagai triple threat, dan hanya mereka yang benar-benar artis jempolan saja yang akan bisa sukses di pertunjukan ini. Bayangkan apa yang harus dilakukan untuk siap menjadi Velma Kelly di Chicago, J. Pierrepont Finch di How to Succeed in Business without Really Trying, atau Tracy Turnblad di Hairspray. Siapapun yang pernah menyaksikan apa yang mereka lakukan untuk menjawab tuntutan peran itu pasti akan terkagum-kagum.

Musik, Isu Sosial dan Lingkungan

Mendengarkan banyak lagu juga sangat mendidik saya dalam kepekaan sosial dan lingkungan. Entah umur berapa persisnya saya termenung sedih lantaran memahami apa yang dituturkan oleh Elvis (Presley!) dalam In the Ghetto: “As the snow flies; On a cold and gray Chicago mornin’; A poor little baby child is born; In the ghetto, (In the ghetto); And his mama cries; ‘Cause if there’s one thing that she don’t need, it is another hungry mouth to feed; In the ghetto, (In the ghetto); People, don’t you understand, the child needs a helping hand; Or he’ll grow to be an angry young man some day; Take a look at you and me, are we too blind to see?; Do we simply turn our heads, And look the other way?”

Tentu saja, seperti anak generasi saya yang lain, kepekaan sosial itu terasah lantaran mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals, Leo Kristi dan Franky Sahilatua, dan banyak lagi yang mengangkat tema-tema sosial dalam lagunya. Kadang mereka menyajikan gambaran kehidupan masyarakat marginal dengan cara yang sangat dalam, sehingga saya kerap berpikir bahwa mereka benar-benar memiliki kemampuan etnografi yang tinggi, selain punya kemampuan artikulasi sekelas para sastrawan. Kerasnya kehidupan petani, nelayan, penganggur, bahkan pekerja seks komersial bisa mereka jelaskan dengan empati yang sangat tinggi. Mereka juga melancarkan kritik halus dan terang-terangan kepada pada penguasa yang menyebabkan atau setidaknya membiarkan rakyatnya menderita. Mereka itu, buat saya, pengaruhnya setara dengan Joan Baez, Bob Dylan, dan Pete Seeger.

Nama yang saya sebut terakhir itu adalah penulis lagu, penyanyi dan aktivis lingkungan yang sangat terkenal. Dia kerap diberikan kredit sebagai orang yang pertama kali membukakan mata masyarakat Amerika Serikat atas isu air bersih, dan sebagai penyelamat Sungai Hudson. Dia berjalan menyusuri pinggiran sungai besar itu, berdialog dengan warga, membujuk mereka untuk turut serta dalam gerakan penyelamatan sungai. Dalam lagu Sailing Up My Dirty Stream dia menyematkan asa, “Some day, though may be not this year; My Hudson River will once again run clear.” Ketika kemudian berbagai komponen masyarakat bergerak, bukan cuma membersihkan sungai namun juga memastikan industri tak lagi mencemarinya, mereka semua mengingat peran Seeger.

Alam sendiri telah menginspirasi para komposer sejak zaman baheula. Ludwig von Beethoven adalah pencinta alam, yang jelas-jelas menyatakan bahwa banyak komposisinya diilhami dari apa yang dilihatnya ketika berjalan-jalan di pinggiran pedesaan. Pastoral Symphony, salah satu karya akbarnya, adalah tribut untuk alam yang sangat keren. Claude Debussy pernah bilang bahwa “There is nothing more musical than a sunset,” lalu menyesali keadaan “…, alas, musicians read but too little—the book of Nature.” Ia betul-betul ingin memindahkan keindahan alam yang luar biasa ke dalam partitur dan bunyi alat-alat musik. Olivier Messiaen mungkin akan dibilang kebangetan oleh banyak orang, tapi dia pernah bilang bahwa “It’s probable that in artistic hierarchy birds are the greatest musicians existing on our planet.” Setuju atau tidak dengan Messiaen, kita mustahil tak menyukai kicauan burung di alam bebas. Dan, tentu saja, kita tak bisa tidak menyebutkan Antonio Vivaldi yang The Four Seasons-nya seakan bisa menghadirkan lukisan atau bahkan video musim semi, panas, gugur lalu dingin yang jelas. Indah luar biasa di telinga, menyajikan imajinasi sebening kristal di dalam benak.

Dalam lagu-lagu, kita mengenal Louis Armstrong yang menggambarkan dunia yang indah dengan pepohonan yang hijau dan merahnya mawar dalam What a Wonderful World. Marvin Gaye menyeret pendengarnya ke persoalan pencemaran merkuri yang membunuh ikan dan sungai dalam Mercy Mercy Me (The Ecology). Pernah membayangkan istilah ekologi dipakai judul lagu? Di tahun 1995, Michael Jackson mempersembahkan Earth Song kepada dunia. Bukan hanya liriknya yang menggugah kesadaran, musiknya sedemikian kuat, demikian juga dengan videonya. Bob Marley mungkin lebih terkenal karena musiknya yang sangat mengajak tubuh bergerak seiring irama. Tapi coba dengarkan lirik Sun is Shining, maka kita akan tahu keprihatinannya. Begitu juga dengan gugatan atas apa yang bakal kita wariskan ke generasi mendatang, yang dinyatakan Queen dalam Is This the World We Created? dan Cat Stevens dalam Where Do the Children Play?

Generasi saya pasti akrab dengan lirik dari lagu Swami berikut ini: “Menangis embun pagi yang tak lagi bersih; Jubahnya yang putih tak berseri ternoda; Daun-daun mulai segan menerima; Apa daya tetes embun terus berjatuhan.” Mungkin lagu berjudul Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang) yang dirilis tahun 1989 itu punya peran yang cukup besar atas apa yang jadi perhatian saya hingga sekarang. Tentu, saya juga mendeteksi beberapa lagu dalam tema lingkungan yang cukup popular, seperti Hijaukan Bumi yang dinyanyikan Kotak, Plastik dari Saykoji, atau Alami yang merupakan salah satu hits Slank. Tapi, lagu Swami itu paling berkesan. Vokalisnya, Iwan Fals, juga punya satu lagu lagi yang mustahil saya lupakan. Dia menyanyi, di depan “Raung buldozer gemuruh pohon tumbang; Berpadu dengan jerit isi rimba raya” lalu mengakhiri lagu Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi dengan “Bencana erosi selalu datang menghantui; Tanah kering-kerontang banjir datang itu pasti; Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi; Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia.” Iwan Fals merilisnya di tahun 1982, dan, yang sangat menyedihkan, sekarang malah makin nyata terlihat di negeri ini.

Melewati Wabah dengan Musik

Kegemaran atas musik ini sangat membantu saya melewati masa-masa pandemi yang membatasi saya bepergian. Tinggal putar saja koleksi musik dari komputer yang terhubung dengan speaker Bluetooth, pekerjaan jadi menyenangkan. Atau, putar koleksi CD dengan sistem suara yang lebih baik lagi, maka suasana kerja akan lebih baik lagi.

Di luar memutar koleksi musik yang sudah saya miliki, yang juga saya lakukan adalah mencari tahu perkembangan-perkembangan terbaru, yang terkadang masih bikin kaget lantaran banyak yang sangat menarik dan tak saya ketahui ‘pada waktunya’. Lagu The Weeknd yang popular luar biasa (sudah delapan puluh minggu nangkring di Billboard 100!), Blinding Lights, baru beberapa minggu lalu saya tahu. Mungkin lantaran kemiripannya dengan Take on Me dari A-ha yang saya dengarkan sejak sekolah menengah, saya cepat sekali menerimanya. Sekarang saya terus mendengarkan lagu itu plus setidaknya 8 cover-nya, termasuk yang dinyanyikan dalam bahasa Jepang, Arab, dan campuran India.

Saya juga baru beberapa bulan menemukan musik dari seorang cellist bernama Stjepan Hauser, lantaran dia mengeluarkan album berisikan komposisi-komposisi Morricone. Karena kagum pada kemampuannya, saya kemudian mencari-cari rekaman lainnya. Ternyata dia bukan saja menjadi pemain cello untuk konser-konser musik klasik yang sangat bergengsi, tapi juga membentuk duo 2CELLOS bersama Luka Sulic. Video mereka berdua, atau sendiri-sendiri, sangat banyak tersedia di kanal YouTube, dan merupakan video-video musik yang sangat popular. Saya hampir-hampir tak bisa membayangkan bahwa ada pertunjukan cello yang bisa menarik puluhan hingga ratusan juta penonton, sampai kemudian menyaksikan mereka tampil bukan saja dengan teknik yang hebat, melainkan benar-benar berhasil membuat pertunjukan yang luar biasa menghibur. Kalau cello, juga alat musik lainnya, bisa dimainkan dengan cara seperti itu, tentu popularitasnya bakal luar biasa.

Akhirnya, saya mau mengucapkan rasa terima kasih yang luar biasa kepada mereka yang telah menciptakan musik yang indah, menulis lirik yang mengekspresikan beragam perasaan, juga kepada mereka yang telah berbagi koleksi dan cerita tentang musik sepanjang saya hidup hingga sekarang. Musik membuat hidup menjadi indah, dan itu sangat patut disyukuri. Lagu ABBA dengan tepat menggambarkan perasaan saya ketika menulis artikel ini, “Thank you for the music, the song I’m singing. Thanks for all the joy they’re bringing. Who can live without It? I ask in all honesty. What would life be?

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; pimpinan dewan pakar Social Value Indonesia; strategic partner CCPHI Partnership for Sustainable Community; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA dan ESG Indonesia.