Memangkas polusi iklim di sektor energi dan transportasi tak cukup guna mencapai target Perjanjian Paris.
Perjanjian Paris menargetkan dunia menekan kenaikan suhu bumi agar tidak melampaui 2°C pada 2100. Para ilmuwan dari CGIAR Research Program on Climate Change, Agriculture and Food Security (CCAFS), Universitas Vermont, dan lembaga-lembaga yang menjadi mitranya memerkirakan, sektor pertanian harus mengurangi emisi non-CO2 sebesar 1 Gigaton CO2e (emisi setara CO2) per tahun pada 2030.
Polusi iklim non-CO2 di sektor pertanian mencakup polusi metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) yang merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya dampaknya terhadap iklim dibanding CO2. Data kandungan karbon dalam tanah dan biomassa tidak dipertimbangkan karena mengandung banyak variabel dan asumsi yang kurang kuat.
Sektor pertanian (tak termasuk alih guna lahan) saat ini menghasilkan rata-rata 35% emisi gas rumah kaca di negara berkembang dan 12% emisi gas rumah kaca di negara maju. Namun para peneliti juga memeringatkan, upaya memangkas emisi gas rumah kaca ini harus diselaraskan dengan kebutuhan negara – terutama di negara-negara miskin – untuk memroduksi pangan.
Sebanyak 119 negara memasukkan upaya mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian dalam niatan kontribusi atau Intended Nationally Determined Contributions (INDC) mereka ke UNFCCC. Namun aksi-aksi pengurangan emisi di sektor pertanian saat ini, menurut CGIAR hanya cukup untuk mencapai 21-40% target pengurangan emisi non-CO2 guna memeuhi target Perjanjian Paris. Diperlukan upaya yang lebih keras didukung kebijakan dan teknologi guna mencapai target pengurangan emisi dan upaya menekan suhu bumi di bawah 2°C.
Upaya tersebut meliputi upaya efisiensi penggunaan air dalam sistem budidaya padi, tata kelola nutrisi dalam budidaya tanaman tahunan termasuk penggunaan pupuk kandang dan pupuk nitrogen yang lebih efisien serta relokasi produksi guna meningkatkan hasil panen. Menurut CGIAR diperlukan aksi investasi dalam skala besar, upaya berbagi informasi dan dukungan teknis untuk mendorong transisi dalam skala global.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment