Bee pollinating on a flower - Tom BaylyJasa lingkungan yang diberikan oleh hewan penyerbuk bernilai ratusan miliar dolar. Jutaan penduduk dunia bergantung pada jasa mereka. Namun manusia merusaknya dengan berbagai praktik yang tidak ramah lingkungan.

Hal ini menjadi kesimpulan dari hasil penelitian Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) yang berlangsung selama 2 tahun yang dirilis di Kuala Lumpur, Jum’at, 26 Februari 2016.

IPBES dibentuk empat tahun yang lalu dan memiliki anggota sebanyak 124 negara,
membuatnya memiliki peran penting dalam menghubungkan hasil kajian keilmuan
internasional dengan kebijakan publik.

Penelitian yang berjudul “Thematic Assessment of Pollinators, Pollination and Food
Production” adalah penelitian pertama yang dirilis oleh IPBES yang berupaya memahami
dan mengelola elemen penting dalam ekosistem dunia yaitu peran hewan-hewan penyerbuk
ini.

Menurut data IPBES, lebih dari 20.000 spesies lebah bersama dengan kumbang, kupu-
kupu, reptil, kelelawar, burung dan spesies mamalia seperti orangutan memiliki peran
penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Merekalah penjaga keanekaragaman
hayati di habitat mereka dengan membantu penyerbukan dan menyebarkan biji-biji
tanaman atau buah yang mereka konsumsi.

Lebah, kumbang dan kupu-kupu terancam oleh pemakaian pestisida, sementara kelelawar, burung, reptil dan mamalia diburu, terancam oleh kebakaran hutan, pembalakan dan perdagangan satwa liar serta konflik dengan manusia yang membuka lahan yang merusak habitat mereka.

Padahal mereka adalah hewan yang membantu proses penyerbukan tanaman yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Sebagai contoh minuman favorit penduduk dunia yaitu kopi dan cokelat, pertumbuhannya sangat bergantung pada jasa hewan-hewan penyerbuk ini.

“Tanpa hewan penyerbuk, kita tidak akan bisa menikmati kopi, cokelat serta apel
seperti saat ini,” ujar DR Simon Potts dari University of Reading, Inggris yang
turut membantu penelitian ini. Lebih dari 75% tanaman pangan memerlukan jasa hewan-
hewan penyerbuk baik serangga maupun hewan yang lain.

Hasil penghitungan IPBES, nilai produksi pangan yang tergantung pada jasa hewan
penyerbuk mencapai US$235-577 miliar per tahun. Volume produksi pertanian yang
bergantung pada jasa hewan penyerbuk telah naik 300% dalam 50 tahun terakhir. Nilai
produksi biji cokelat dunia mencapai US$5,7 miliar per tahun.

Saat ini sebanyak 16.5% vertebrata (hewan bertulang belakang seperti burung dan
mamalia) yang berperan sebagai hewan penyerbuk terancam musnah. Sementara lebih dari 40% invertebrata (terutama berbagai jenis lebah dan kupu-kupu) juga menghadapi
ancaman yang sama.

Kerusakan lingkungan akibat perilaku manusia, pelan tapi pasti terus merusak jasa
lingkungan yang menjadi landasan pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan hidup generasi mendatang. Seperti kalimat bijak masyarakat Indian kuno, “Ketika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah ditangkap, sungai terakhir telah diracuni, baru manusia menyadari … mereka tidak bisa makan uang!”

Ayo cegah kerusakan! Ciptakan perubahan!

Redaksi Hijauku.com