Earth - OpenClipartVectors - PixabaySebagian besar penduduk dunia peduli dan mendukung berbagai aksi perubahan iklim. Hampir 80% penduduk dunia peduli terhadap isu perubahan iklim. Sementara 70% dari mereka menganggap aksi perubahan iklim adalah peluang guna meningkatkan kualitas hidup.

Sebagian besar responden juga memberikan dukungan terhadap terciptanya kesepakatan yang mengikat di Konferensi Perubahan Iklim ke-21 (COP 21) yang akan berlangsung di Paris, Perancis, Desember nanti.

Hal ini terungkap dari hasil survei (konsultasi publik) yang dilakukan oleh World Wide Views Alliance yang diterbitkan Rabu, 10 Juni 2015. Survei ini adalah survei terbesar yang pernah dilakukan di negara maju maupun negara berkembang di belahan bumi bagian utara dan selatan.

Dari survei ini juga terungkap, edukasi menjadi cara terbaik guna mencapai target pemangkasan emisi gas rumah kaca.

Survei ini dilaksanakan serentak di 75 negara dari mulai Fiji di wilayah Pasifik hingga negara bagian Arizona di Amerika Serikat. Sebanyak 10.000 orang dipilih secara seksama untuk mewakili negara mereka masing-masing.

Lebih dari 90% responden berharap, perjanjian yang tercipta di Paris membantu pencapaian target pengurangan emisi pada akhir abad ini. Bahkan sebanyak 67% reponden menyatakan, perjanjian ini harus mengikat secara hukum.

Mayoritas responden (79%) sepakat, negara mereka harus beraksi memangkas emisi gas rumah kaca, walau negara lain tidak melakukannya.

Edukasi menjadi cara yang paling efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (dipilih oleh 77% responden) diikuti oleh upaya melindungi hutan tropis di posisi kedua.

Christiana Figueres, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, dalam siaran persnya memuji keberhasilan survei ini dalam melibatkan masyarakat dunia dalam negoisasi perubahan iklim. “Pandangan masyarakat jelas. Mereka menyadari risiko dari perubahan iklim dan manfaat dari aksi perubahan iklim,” tuturnya.

Sebanyak 78% responden juga sepakat bahwa negara-negara berpendapatan tinggi harus menyediakan dana perubahan iklim lebih dari US$100 miliar per tahun pada 2020 guna mendanai aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di negara-negara miskin.

Redaksi Hijauku.com