Apa yang dikhawatirkan oleh mereka yang memahami konsep perubahan iklim dan pemanasan global akhirnya terjadi. Level tiga emisi gas rumah kaca utama yaitu karbon dioksida (CO2), metana (NH4) dan dinitrogen oksida (N₂O) mencapai titik tertinggi dan kemungkinan tidak akan bisa dikembalikan lagi. Mampukah Konferensi Perubahan Iklim (COP31) di Antalya, Turki bulan depan memacu aksi iklim?

Kita kembali ke tahun 2016 saat James Hansen bersama 11 rekan-rekan ilmuwan yang lain menulis hasil penelitian terbaru mereka yang berjudul, “Young people’s burden: requirement of negative CO2 emissions” dalam jurnal akses terbuka, Earth System Dynamics.

Hansen yang saat itu adalah mantan bos di Goddard Institute for Space Studies milik NASA ini menyatakan, hanya ada satu cara untuk tidak mewariskan masa depan yang katastropik, penuh bencana dan kerusakan akibat krisis iklim kepada anak dan cucu kita, generasi mendatang.

Caranya adalah dengan mengurangi emisi CO2 secara drastis (segera) dan dramatis, termasuk memangkas emisi yang masih beredar saat ini di atmosfer bumi. Peringatan ini datang 10 tahun sebelum Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menerbitkan Laporan Emissions Gap Report 2026: The Point of Return yang telah ditulis oleh Hijauku.com dalam artikel ini: Menjaga Asa Agar  Perubahan Iklim Tak Jadi Neraka.

Tepat seminggu setelah laporan UNEP muncul, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization) merilis data terbaru, Selasa, 27 Oktober. WMO menyebutkan, kadar karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer, yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, mencapai rekor tertinggi tahun lalu (2025).

Greenhouse Gas Bulletin milik WMO melaporkan, konsentrasi rata-rata CO2 dunia telah mencapai 426,8 PPM di 2025, atau 53% lebih tinggi dibanding baseline tahun 1750, masa sebelum revolusi industri.

Ketika WMO menerbitkan Greenhouse Gas Buletin untuk pertama kali pada tahun 2004, level rata- CO2 tahunan yang diukur oleh jaringan stasiun pemantau Global Atmosphere Watch WMO adalah 377,5 PPM.

Sebagai gas rumah kaca utama, CO2 akan bersirkulasi dalam jangka yang sangat panjang dan karenanya akan memengaruhi iklim global. Tidak hanya selama bertahun-tahun tetapi juga selama puluhan dan bahkan berabad-abad. Dua gas rumah kaca lain yaitu metana (NH4) dan dinitrogen monoksida (N₂O)– gas rumah kaca jangka panjang kedua dan ketiga terpenting yang disebabkan oleh aktivitas manusia – juga mencapai titik tertinggi pada tahun 2025.

Emisi metana (CH4) naik 1948±2 PPB (parts per billion) sementara N2O naik 339.1±0.1 PPB atau meningkat 167% dan 26% di atas level sebelum revolusi industri. Data ini semakin menegaskan bahwa bumi berada dalam lintasan krisis iklim yang tak terkendali.

“11 tahun terakhir adalah periode terhangat sepanjang sejarah dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Setiap kenaikan 1 PPM sangat penting, karena emisi tersebut menjebak panas dan memberikan energi yang berlebihan ke dalam lautan dan atmosfer, yang akan menciptakan gelombang panas, siklon tropis, dan hujan badai yang semakin cepat dan intens sepanjang sejarah,” ujar Ko Barrett, Wakil Sekretaris Jenderal WMO kepada jurnalis di Jenewa.

Menurut WMO, laju kenaikan CO2 telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960-an, meningkat dari rata-rata 0,8 ppm per tahun menjadi 2,4 ppm per tahun dalam dekade 2011 hingga 2020. Lonjakan luar biasa (3,5 PPM) pada 2023-2024 ini bertepatan dengan kondisi El Niño yang kuat yang mengurangi efisiensi kinerja biosfer. “Saat bumi dilanda lebih banyak kekeringan, vegetasi menjadi lebih kering, memicu lebih banyak kebakaran hutan,” ujar Oksana Tarasova, ilmuwan senior WMO.

Data lain dari Annual Greenhouse Gas Index milik lembaga Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa dari tahun 1990 hingga 2025, efek pemanasan (radiative forcing) terhadap iklim dunia yang disebabkan oleh gas rumah kaca meningkat sebesar 56%, dengan CO2 menyumbang sekitar 81% dari peningkatan ini.

Kekhawatiran Transformasi Energi

WMO juga mencatat bahwa saat negara-negara melakukan transisi sistem energi mereka menuju dekarbonisasi, perhatian khusus harus diberikan pada dua gas yang terkait erat dengan produksi dan distribusi listrik yaitu: hidrogen molekuler (H2) dan sulfur heksafluorida (SF6).

Gas SF6 secara luas digunakan sebagai pencegah percikan dalam distribusi listrik dan meningkat secara stabil penggunaannya dalam tiga dekade terakhir seiring dengan peningkatan elektrifikasi dunia. SF6 sanggup bertahan di atmosfer lebih dari 1.000 tahun dan memiliki potensi pemanasan global 100 tahun tertinggi, sekitar 24.300 kali lipat dibanding CO2. Peningkatan SF6 pada 2025 adalah rekor tertinggi. Sementara itu, konsentrasi hidrogen meningkat sebesar 5,3% antara 2010 dan 2024.

Hidrogen digunakan sebagai media penyimpanan energi untuk sektor yang sulit didekarbonisasi seperti industri baja, pelayaran, penyimpanan energi jangka panjang, serta untuk sumber energi terbarukan dan transportasi.

Menurut WMO, meskipun hidrogen bukan gas rumah kaca, “hidrogen memengaruhi unsur kimia di atmosfer” dan memiliki efek tidak langsung yang kuat terhadap pemanasan global. “Kebocorannya ke atmosfer dari fasilitas produksi, pipa, tangki penyimpanan, dan sel bahan bakar meningkatkan kekhawatiran ini,” jelas WMO.

Kebocoran gas H2 dan persistensi SF6 di atmosfer menjadi potensial yang dapat merusak manfaat transisi energi bagi iklim. WMO menegaskan, pemantauan yang cermat terhadap komposisi atmosfer Bumi sangat penting untuk mendeteksi, memahami, dan mencegah konsekuensi tak terduga dari perubahan ini.

Laporan WMO ini dirilis untuk menyediakan data ilmiah yang otoritatif bagi para negosiator yang menghadiri Conference of Parties/COP31, konferensi tahunan PBB tentang perubahan iklim, di Antalya, Turki, dari tanggal 9 hingga 20 November. WMO berharap data-data yang disampaikan bisa mengubah komitmen iklim menjadi tindakan konkret.

Kembali ke James Hansen, tidak ada cara lain untuk mencegah kita, generasi saat ini, mewariskan iklim yang katastropik, kepada anak dan cucu kita, generasi mendatang, selain dengan melakukan pemangkasan emisi tanpa basa basi. Hansen bahkan meminta dunia untuk mengembalikan level emisi gas rumah kaca ke 350 PPM. Sementara laporan Emissions Gap Report 2026: The Point of Return terbaru yang telah ditulis oleh Hijauku.com dalam artikel ini: Menjaga Asa Agar  Perubahan Iklim Tak Jadi Neraka sudah merincikan caranya. Pertanyaannya, akankah ada aksi nyata bagi anak cucu kita? COP31 menjadi ajang pembuktiannya.

Redaksi Hijauku.com