Oleh: Arif Wibowo *
“Sansoyo dalu.”
Malam kian larut. Gelap kian pekat.
Dalam suluk dhalang, ini bukan suasana biasa. Ini titik ketika arah mulai hilang, ketika cahaya tak lagi cukup, dan ketika keputusan harus diambil justru dalam ketidakpastian. Pada fase ini, yang diuji bukan sekadar kemampuan, tetapi keberanian untuk jujur melihat kenyataan.
Hari ini, kita ada di sana.
Perubahan iklim tidak lagi bisa disebut ancaman masa depan. Ia sudah menjadi realitas harian. Petani kehilangan pegangan karena musim tak lagi bisa dibaca. Nelayan menghadapi laut yang makin tak bersahabat. Di beberapa wilayah, air bersih mulai menjadi persoalan serius. Namun respons yang muncul masih berkutat pada proyek, program, dan seremonial.
Negara tampak bekerja. Tapi pertanyaannya: bekerja untuk siapa, dan sejauh apa menyentuh akar masalah?
Kita terlalu sering menyaksikan kebijakan yang lahir cepat, tetapi rapuh. Istilah baru bermunculan, tetapi substansi lama tidak berubah. Setiap krisis dijawab dengan pendekatan jangka pendek—bantuan sesaat, bukan ketahanan jangka panjang. Yang dikejar adalah terlihat hadir, bukan benar-benar menyelesaikan.
Di titik ini, “sansoyo dalu” berubah makna: bukan hanya krisis alam, tetapi juga krisis cara berpikir.
Kita gagap menghadapi kompleksitas.
Alih-alih memperdalam analisis, kita menyederhanakan masalah. Alih-alih memperkuat koordinasi, kita memperbanyak program. Alih-alih mendengarkan desa, kita justru menjejalkan solusi dari atas. Akibatnya jelas: kebijakan sering kali tidak nyambung dengan realitas.
Desa—yang paling terdampak—justru paling sedikit didengar.
Padahal di sanalah garis depan krisis berada. Ketika panen gagal, tidak ada ruang retorika. Ketika nelayan tidak melaut, tidak ada waktu untuk jargon. Desa hidup dalam kenyataan yang tidak bisa ditunda. Ironisnya, kebijakan sering datang terlambat, atau datang tanpa memahami konteks.
Ini bukan semata soal kapasitas. Ini soal keberpihakan.
Apakah negara benar-benar berdiri bersama yang paling rentan, atau sekadar hadir dalam laporan?
Konsep Desa Tangguh Iklim sering disebut sebagai solusi. Namun tanpa perubahan cara kerja, ia berisiko menjadi slogan baru yang akan menyusul slogan lama: ramai di awal, hilang di tengah jalan. Ketangguhan tidak bisa dibangun dengan pendekatan proyek tahunan. Ia membutuhkan proses panjang, kepercayaan, dan konsistensi lintas kebijakan.
Masalahnya, politik kita tidak dirancang untuk itu.
Kita hidup dalam siklus pendek: target cepat, hasil instan, dan keberhasilan yang harus segera dipamerkan. Dalam logika seperti ini, refleksi dianggap lambat, kedalaman dianggap tidak praktis. Padahal, justru itulah yang dibutuhkan dalam fase “sansoyo dalu”.
Keberanian untuk berhenti sejenak.
Kejujuran untuk mengakui bahwa pendekatan lama tidak lagi cukup.
Dan kemauan untuk membangun ulang dari dasar.
Tanpa itu, kita hanya akan mengelola krisis—bukan keluar darinya.
Sejarah tidak mencatat bangsa yang runtuh karena gelap. Ia mencatat bangsa yang gagal membaca gelap. Yang mengira semuanya baik-baik saja, ketika sebenarnya fondasi sudah retak.
Hari ini, tanda-tanda itu ada di depan mata.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita sedang berada dalam “sansoyo dalu”.
Melainkan: apakah negara masih mau mendengar sebelum semuanya benar-benar gelap?
–##–
* Arif Wibowo adalah Praktisi dan pengamat perubahan iklim dan pembangunan.
Leave A Comment