Data dari Worldwide Fund for Nature (WWF) menyebutkan, sejak tahun 1970, 73% populasi satwa liar di alam telah hilang. Sementara data dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) menyatakan, separuh dari ekonomi dunia, cukup atau sangat bergantung pada layanan atau sumber daya alam (World Economic Forum [WEF] 2020; Evison et al. 2023).
Kondisi yang memprihatinkan ini ternyata masih belum membangkitkan kesadaran untuk meningkatkan investasi untuk melindungi alam atau lingkungan. Dana yang mengalir untuk perlindungan alam dunia jauh nilainya dibanding dana yang dipakai untuk merusak alam. Perbandingannya: setiap US$30 dana yang dihabiskan dunia untuk menghancurkan alam, dunia hanya mengalokasikan US$1 untuk melindunginya.
Ketidakseimbangan yang mencolok ini menjadi temuan penting laporan Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/UNEP)) terbaru State of Finance for Nature 2026 yang dirilis di Nairobi, Kamis, 22 Januari 2026. Menggunakan data untuk tahun 2023, laporan ini menyebutkan:
- Total arus keuangan yang berdampak negatif terhadap alam nilainya mencapai US$ 7,3 triliun. Dari nilai tersebut sebanyak US$ 4,9 triliun mengalir ke sektor swasta yang terkonsentrasi hanya di beberapa sektor yaitu sektor utilitas, industri, energi dan bahan dasar. Sementara US$ 2,4 triliun sisanya mengalir untuk subsidi publik yang merusak lingkungan yaitu untuk subsidi bahan bakar fosil, pertanian, air, transportasi, dan konstruksi.
- Aliran keuangan untuk Solusi Berbasis Alam (Nature based Solutions/NbS) nilainya hanya mencapai US$ 220 miliar. Dari jumlah tersebut, hampir 90% berasal dari dana publik yang mencerminkan peningkatan yang stabil dalam dukungan domestik dan internasional untuk NbS.
- Investasi sektor swasta yang sebagian besar bisnisnya bergantung pada sumber daya alam di Solusi Berbasis Alam atau NbS nilainya hanya mencapai US$ 23,4 miliar – atau 10 persen dari total investasi NbS. Sektor bisnis dan keuangan belum berinvestasi dalam skala besar di NbS, meskipun kesadaran mereka akan risiko, peluang dan ketergantungan mereka terhadap alam meningkat.
- Untuk mencapai komitmen pendanaan dunia yang disebut dalam Konvensi Rio, investasi NbS perlu tumbuh 250% atau 2,5 kali lipat menjadi US$ 571 miliar per tahun pada tahun 2030. Nilai ini masih hanya 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2024.
Sektor swasta dalam operasi bisnisnya selama ini terbukti banyak yang merusak alam atau lingkungan. Di Indonesia misalnya, bencana yang terjadi di Sumatera dan berbagai wilayah di Tanah Air, jika ditelusuri terkait dengan eksploitasi lingkungan.
Menyadari minimnya arus keuangan yang mengalir pada upaya melindungi lingkungan, laporan ini menyerukan pentingnya mereformasi arus modal swasta dan dan menggunakan kembali dana publik guna meningkatkan investasi di solusi berbasis alam yang berintegritas tinggi di semua sektor ekonomi.
Prinsip penting dalam investasi yang positif terhadap alam adalah membumikannya dalam konteks ekologis, budaya, dan sosial masyarakat lokal, sambil memastikan inklusivitas dan kesetaraan mereka. Mereformasi arus modal swasta dan dana publik agar bermanfaat secara sosial, budaya dan ekologis dengan mempertimbangkan aspek insklusivitas dan kesetaraan menjadi peluang besar untuk mengubah tren negatif ini.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment