Kesimpulan ini terungkap dalam laporan Emissions Gap Report 2020 yang dirilis UNEP, Rabu, 9 Desember. Laporan ini terus memantau perkiraan kondisi emisi gas rumah kaca pada tahun 2030 dan target untuk mengurangi emisi tersebut guna mencegah dampak terburuk dari perubahan iklim.
Hasilnya, laporan Emissions Gap Report tahun ini menemukan, meskipun ada penurunan singkat emisi karbon dioksida (CO2) akibat pandemi COVID-19, dunia masih menuju tren kenaikan suhu lebih dari 3°C di akhir abad ini – jauh melampaui target Persetujuan Paris yang membatasi pemanasan global hingga di bawah 2°C dan mengejar target 1,5°C.
Konsentrasi emisi GRK masih terus naik di 2020 dibandingkan dengan 2019 dan hingga saat ini belum terpengaruh oleh COVID-19. Menurut UNEP, emisi GRK tahunan harus lebih rendah 15 GtCO2e (kisaran antara 12–19 GtCO2e) di 2030 dibanding target NDC tanpa syarat saat ini – yaitu 56 GtCO2e – untuk mencapai target (pembatasan) kenaikan suhu bumi hingga 2°C.
Sementara untuk mencapai target 1,5°C, emisi GRK tahunan harus lebih rendah 32 GtCO2e (kisaran: 29–36 GtCO2e) dibanding target NDC tanpa syarat saat ini di 2030. Selain itu, kebijakan pengurangan emisi yang ada dalam NDC saat ini harus “ditingkatkan” 3 GtCO2e lagi (dari 59 GtCO2e ke 56 GtCO2e) untuk memenuhi target implementasi penuh NDC tanpa syarat.
Laporan ini juga menemukan, penurunan emisi GRK akibat COVID-19 tahun ini kemungkinan akan jauh lebih besar dibanding penurunan emisi GRK akibat krisis keuangan global pada akhir tahun 2000-an yang mencapai 1,2 persen. Data menunjukkan, penurunan emisi terbesar terjadi di sektor transportasi, karena pembatasan mobilitas akibat COVID-19, meskipun pengurangan juga terjadi di sektor lain.
Berita buruknya, walaupun emisi CO2 akan turun di 2020, konsentrasi emisi gas rumah kaca utama lain seperti metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) di atmosfer terus meningkat. Sehingga diperlukan pengurangan emisi yang berkelanjutan untuk mencapai kondisi netzero emisi CO2 guna menstabilkan pemanasan global dan mencegah krisis iklim lepas kendali.
Target Nol Emisi GRK (Net Zero)
Perkembangan yang paling signifikan dan menggembirakan dalam hal kebijakan iklim pada tahun 2020 adalah semakin banyaknya negara yang berkomitmen untuk mencapai target nol emisi di 2050. Menurut UNEP, komitmen ini konsisten dengan target pembatasan kenaikan suhu bumi di Persetujuan Paris, asalkan dicapai secara global.
Pada saat laporan ini ditulis, sebanyak 126 negara yang mewakili 51 persen emisi GRK global, telah secara resmi mengadopsi, mengumumkan atau sedang mempertimbangkan target nol emisi GRK mereka. Jika Amerika Serikat mengadopsi target nol emisi GRK pada tahun 2050, seperti dijanjikan dalam rencana aksi perubahan iklim Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Joe Biden dan Kamala Harris, maka komposisinya akan meningkat menjadi 63 persen.
Prancis dan Inggris, secara resmi telah menetapkan target nol emisi GRK 2050 mereka; Uni Eropa, mengumumkan untuk mencapai target nol emisi GRK pada tahun 2050; China, telah mengumumkan rencana untuk mencapai netralitas karbon sebelum 2060; Jepang, juga telah mengumumkan pencapaian target nol emisi GRK pada tahun 2050; Korea Selatan, berkomitmen untuk menjadi karbon netral pada tahun 2050; Kanada, telah menunjukkan niatnya untuk membuat undang-undang target net zero emission (meskipun tidak jelas apakah ini hanya mengacu pada CO2 atau semua GRK) pada tahun 2050; Afrika Selatan, menargetkan mencapai emisi karbon nol pada tahun 2050; dan Argentina dan Meksiko, yang keduanya merupakan bagian dari Aliansi Ambisi Iklim UNFCCC terus bekerja mencapai target nol emisi pada tahun 2050.
Menurut UNEP, ada dua langkah utama yang bisa diambil guna menciptakan kemajuan yang signifikan dalam mencapai target (pembatasan) kenaikan suhu bumi sesuai Persetujuan Paris pada 2030. Yang pertama, konsistensi banyak negara guna mengembangkan strategi jangka panjang yang sesuai dengan Persetujuan Paris, dan kedua, NDC baru dan yang diperbaharui, harus konsisten menargetkan kebijakan nol emisi.
Laporan ini menyatakan, secara kolektif, anggota G20 diperkirakan gagal mencapai target (off-track) komitmen NDC tanpa syarat berdasarkan proyeksi pra-COVID-19. Hanya sembilan dari 16 anggota G20 (Uni Eropa dihitung sebagai satu kesatuan) yang berada di jalur yang benar (on-track) yaitu Argentina, China, EU27 + Inggris, India, Jepang, Meksiko, Federasi Rusia, Afrika Selatan, dan Turki. Sementara lima anggota G20 lain (Australia, Brasil, Kanada, Korea Selatan dan Amerika Serikat) diperkirakan akan gagal dan oleh karenanya dituntut untuk beraksi lebih ambisius guna memangkas emisi dan mengatasi krisis iklim. Bagaimana dengan Indonesia yang juga menjadi anggota G20? Secara khusus, laporan UNEP ini menulis, proyeksi untuk Indonesia dan Arab Saudi dinilai kurang meyakinkan.
Solusinya, laporan UNEP menyatakan, ada peluang besar bagi semua negara untuk mengintegrasikan pembangunan rendah karbon dalam aksi penyelamatan dan pemulihan ekonomi paska COVID-19 mereka. Peluang ini bisa diintegrasikan dalam NDC baru atau yang diperbarui dan strategi mitigasi jangka panjang sebelum Konferensi Para Pihak (COP 26) pada tahun 2021.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment