Oleh: Dicky Edwin Hindarto *

Ada seorang teman yang bertanya kepada saya kemarin tentang pendapat saya terkait ditemukannya zat beradio aktif Cs-137 di daerah Serpong. Saya jawab ini adalah salah satu contoh dari ketidakdisplinan kita dalam bekerja dan menjalankan peraturan.

Bagaimana kemudian saya menghubungkan tindakan berbahaya dan gegabah serupa membuang bahan beradioaktif dengan disiplin?

Sebetulnya sangat sederhana, kalau siapa pun yang kemudian melakukan pembuangan zat beradio aktif tersebut adalah manusia yang berbudaya disiplin, pasti tidak dilakukan hal tersebut. Disiplin ini sifatnya luas dan integral.

Disiplin itu bahkan dimulai dengan masuk kerja pada waktunya, memakai seragam yang benar, tidak madol dan ke mall waktu jam kerja, dan bahkan tidak memakai uang perusahaan atau negara buat kepentingan pribadi.  Hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya adalah termasuk bagian dari disiplin.

Bagi generasi yang pernah mengalami jaman orde baru mungkin pernah ingat dulu jaman Orde Baru ada gerakan yang disebut Gerakan Disiplin Nasional.  Saat itu Presiden Soeharto sadar kalau salah satu hal mendasar yang harus diubah pada bangsa ini adalah masalah disiplin.

Untuk mengejar ketertinggalan saat itu dari Jepang, maka kita harus mencontoh budaya disiplin mereka. Pak Harto sangat sadar kalau secara genetik, bangsa-bangsa yang dilahirkan di iklim tropis seperti Indonesia akan sangat cenderung untuk tidak disiplin.  Jam karet, sangat santai, budaya nanti saja, permisif, dan bahkan kebiasaan kumaha engke wae (terserah nanti saja) jadi budaya nasional.

Dan gerakan itu kemudian gagal justru karena kedisiplinan yang diciptakan hanya pada tataran fisik. Disiplin hanya pada seragam, baris-berbaris, dan melahirkan dogma yang kaku. Sementara korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta berbagai perkoncoan dan kongkalikong menghancurkan bangsa.

Gerakan disiplin kemudian dicanangkan lagi era pasca reformasi di jaman Presiden SBY. Presiden SBY berkali-kali menyatakan ingin meniru langkah Korea Selatan dalam menciptakan bangsa yang disiplin dan produk unggulan mulai dari teknologi, mobil, sampai KPop.  Walau pun kemudian secara nasional tidak ada gerakan semacam GDN-nya Pak Harto, tapi budaya tertib anggaran, pemberantasan korupsi oleh KPK, dan tata aturan baku mulai diciptakan.

Berhasilkah gerakan disiplin ala Presiden SBY? Walaupun menurut saya secara nasional masih amburadul, tapi di sana-sini justru mulai muncul tokoh-tokoh dari daerah yang konsisten melakukan perubahan tata nilai yang berasal dari kedisiplinan.  Daerah semacam Surabaya, Banyuwangi, Maros, dan bahkan Solo adalah contoh yang mulai bergerak menciptakan nilai-nilai kedisiplinan, terutama dimulai dari kebersihan, transparansi anggaran, dan tatalaksana pemerintahan.

Beranjak kemudian ke jaman Presiden Jokowi, kedisiplinan ini sebenarnya ada termaktub di dalam jargon dan gerakan Revolusi Mental yang terkenal itu.  Saya pernah sangat berharap Revolusi Mental ini benar-benar bisa mengubah budaya kita sehingga menjadi bangsa yang disiplin, walau tentu saja tidak kaku seperti robot.  Tapi harapan saya itu kemudian sia-sia.

Revolusi Mental yang saat awalnya sangat gegap gempita dengan perencanaan sistematis dalam mengubah mindset bangsa ternyata juga gugur sebelum berkembang, apalagi berbuah.  Secara konsep dan implementasi jauh sekali berbeda.  Revolusi mental yang dulu juga merencanakan adanya pelatihan berkala, pembekalan pola hidup yang benar dan bersih bagi generasi muda, kampanye untuk mengubah mindset menjadi bangsa yang maju, dan lain-lain, ternyata hasilnya sama saja seperti di jaman SBY.

Masyarakat masih ugal-ugalan di jalan raya baik pengemudi maupun bahkan pejalan kaki, membuang sampah sembarangan, masih banyak sekali penyalahgunaan anggaran dan korupsi, jam karet bertambah karetnya, dan lain-lain.

Masalah antri mungkin agak berbeda dengan berkembangnya MRT, masyarakat mulai terdidik antri dengan baik. Tapi kalau masyarakat yang sama kemudian antri di bus Transjakarta, di jalan raya, bahkan antri beli nasi uduk, keluar lagi sifat aslinya yang main serobot.

Mungkin bukan salah pemimpin kita. Bukan salah Pak Harto, bukan salah Pak SBY dan Pak Jokowi juga. Gen disiplin itu mungkin tidak ada di dalam DNA kita.

Kita memang ditakdirkan jadi bangsa yang santuy, kumaha engke wae, slonong boy, dan lain-lain.

Kembali kepada paragraf pertama terkait radio aktif, ini jelas buah ketidakdisiplinan dan sikap tidak mau tahu urusan lain si pembuang bahan tersebut. Ini sikap yang sama sebenarnya seperti pemilik mobil yang sembarangan parkir di jalan raya, pembuang sampah ke kali, atau penyerobot lampu merah. Sama saja.

Bahan sisa beradioaktif itu dibuang saja sembarangan di lahan kosong. Persis seperti pembuang sampah pampers atau kulit durian. Tinggal lempar saja dan kemudian ditinggal pergi.

Sikap cuek dan tidak disiplin ini yang kemudian akan menjadi hal yang fatal kalau yang dibuang itu adalah sampah radio aktif. Atau kalau yang dikelola itu anggaran trilyunan. Atau kalau yang dibawa adalah ratusan atau ribuan nyawa penumpang.

Bangsa kita mungkin cukup pandai untuk membangun PLTN, cukup kaya untuk membuat pencakar langit, dan cukup hebat untuk menciptakan infrastruktur canggih. Tapi kalau kemudian tidak ada disiplin dalam pengoperasian dan perawatannya, hanya malapetaka hasil akhirnya.

Disiplin bahkan harus dimulai dari disiplin dalam implementasi cita-cita dan janji, disiplin dalam anggaran pembangunan, disiplin dalam pembangunan, disiplin dalam transparansi dan paporan, disiplin dalam pengoperasian, disiplin dalam perawatan, dan disiplin dalam penanganan limbah.  Disiplin ini yang kita butuhkan untuk membangun dan menciptakan lapangan kerja.

Bisa Anda bayangkan kalau bukan China tapi kita yang terkena virus corona, bagaimana penanganannya? Atau kalau kemudian dimudahkan investasi tanpa kajian lingkungan yang detail, siapkah kita melakukan verifikasinya? Atau kalau PLTN jadi dibangun, sedisiplin apa pengoperasian dan perawatannya?

Ini semua mumbutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi yang harus kita ciptakan segera.

Ini bukan hanya kerja raksasa, tapi ini adalah kerja mustahil kalau tidak dilakukan secara konsisten, ada contoh nyata dari pemimpin, dan dilakukan secara bersama.

Bangsa-bangsa Asia seperti Jepang dan Korea Selatan sudah berhasil, juga Singapura. Menyusul yang akan melakukan hal sejenis adalah Vietnam dan Malaysia.

Kita di mana? Kapan?

Atau mungkin benar hipotesis saya di atas kalau disiplin bukan bagian dari budaya kita?  Budaya kita yang mendarah daging adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme?

–##–

* Dicky Edwin Hindarto, bagian dari masyarakat yang susah disiplin.