Oleh: Ica Wulansari *

Hari lingkungan hidup nasional jatuh pada hari ini, 10 Januari 2020. Bersamaan dengan itu, peringatan ini bukan untuk menjadi selebrasi, namun menjadi upaya reflektif untuk mengingat daya dukung lingkungan hidup yang semakin terbatas. Tahun 2019, Indonesia mengalami musim kering yang panjang dan terjadi kebakaran hutan dan lahan untuk ke sekian kalinya. Kemudian menginjak awal tahun 2020, musibah banjir kembali melanda di Jabodetabek.

Awal tahun 2020 ditandai dengan kesiagaan dalam anomali iklim yang ditandai dengan tingginya curah hujan di atas 300 mm dalam satu hari di beberapa titik di Jabodetabek. Berdasarkan bacaan penulis melalui sejumlah media massa bahwa curah hujan tahun 2020 merupakan yang paling ekstrem apabila dibandingkan dengan kejadian sebelumnya.

Kejadian banjir pun membawa dampak besar terhadap kerugian ekonomi ditandai dengan kerusakan fasilitas baik milik publik maupun privat, hingga terhambatnya alur jasa dan transportasi. Bagi kaum berpunya dalam mengantisipasi banjir dapat melakukan migrasi dengan mudah. Namun bagi kaum tidak berpunya dan minim akses tentu akan semakin menambah nestapa. Hasil akhirnya, bencana banjir tidak memandang status sosial yang terdampak, namun perbedaannya adalah akses dan upaya antisipasi yang memiliki daya yang berbeda.

Kejadian banjir maupun kebakaran hutan dan lahan yang kerapkali berulang tidak hanya dapat disebut sebagai bencana alam. Faktanya, kejadian banjir karena intensitas curah hujan yang tinggi merupakan hal yang sebenarnya. Namun, tidak hanya faktor alam yang dapat disalahkan karena terdapat beragam hal lainnya terkait kebijakan pembangunan, penggunaan teknologi maupun infrastruktur. Selain itu, hal lainnya yang terkait adalah perilaku masyarakat yang membuat kualitas ekosistem mengalami penurunan. Sedangkan kejadian karhutla pun cukup kompleks terkait keberadaan industri sawit hingga faktor alam yaitu kondisi musim kering yang ekstrem. Hasil akhirnya, peladang tradisional mengalami kerentanan dalam melangsungkan mata pencahariannya di masa depan.

Menyikapi beragam bencana alam yang ‘rutin’, maka paradigma berpasrah diri hingga anggapan bencana adalah bencana alam sebagai hal yang semestinya terjadi merupakan tindakan yang tidak produktif dalam pengelolaan lingkungan. Bencana rutin semestinya dipandang sebagai hasil dari perilaku kita sebagai individu-individu yang memberikan kontribusi beban dan merusak kondisi lingkungan hidup.

Maka, peringatan hari lingkungan hidup nasional semestinya menjadi momentum untuk membangun solidaritas menjaga lingkungan hidup. Sayangnya, bencana yang kerapkali datang secara rutin dan bertubi-tubi tidak juga membuat masyarakat sadar dan mengubah kebiasaan. Karena secara umum apabila terjadi bencana baik karhutla maupun banjir hanya menjadi ajang komoditas politik dalam lingkup jagat media massa maupun media sosial.

Gejala sekedar menyalahkan pemerintah begitu kronis hingga kita sebagai individu lupa dan abai bahwa kita termasuk pihak-pihak yang berkontribusi terhadap kerusakan alam. Walaupun di satu sisi, kebijakan pembangunan yang merupakan produk kebijakan eksekutif dan legislatif baik tingkat nasional maupun daerah perlu mendapatkan evaluasi terkait pengelolaan lingkungan hidup.

Di tengah daya dukung lingkungan hidup yang semakin merosot, pada level masyarakat pun kesadaran dan solidaritas untuk menjaga lingkungan pun cukup rendah. Hal yang sangat sederhana yaitu membuang sampah pada tempatnya seakan menjadi praktek keseharian bagi masyarakat umum tidak mengenal yang masyarakat kota maupun desa.

Sesungguhnya membuang sampah pada tempatnya merupakan hal yang mendasar bentuk kesadaran lingkungan hidup. Kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya mencerminkan sikap ketidakpedulian dan cara bersikap parsial dan jangka pendek. Apabila digambarkan dalam sebuah sistem, maka sampah yang dihasilkan akan berputar seperti siklus yang berujung pada sebuah muara yang berdampak negatif bagi manusia lain maupun makhluk hidup lainnya.

Apalagi saat ini masalah lingkungan hidup cukup kompleks yang membutuhkan kesadaran dan perilaku nyata secara bersama-sama. Misalnya kesadaran untuk menghemat air, kesadaran menanam pohon atau penghijauan, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi publik, hingga kesadaran untuk mengurangi konsumsi kemasan makan dan minum sekali pakai. Dengan adanya kesadaran dan tindakan nyata secara bersama-sama akan membantu mengurangi beban ekosistem dan membantu pemulihan lingkungan hidup.

Saat ini, kesadaran yang mendesak adalah perilaku kita menimbulkan bencana ekologis. Kemudian pilihannya, bertindak nyata atau berdiam diri. Kesadaran merupakan langkah awal yang perlu diikuti dengan tindakan nyata. Tindakan nyata dapat dimulai dari individu-individu. Dari berbagai penelitian isu sosial ekologi bahwa individu memiliki peran penting untuk melakukan pengelolaan lingkungan. Apabila jumlah individu-individu semakin bertambah, maka perubahan baik akan terjadi. Walaupun, pemulihan lingkungan hidup membutuhkan waktu yang seiring dengan tingkat kerusakan yang sudah lama dilakukan oleh manusia.

Bumi saat ini sedang sakit akibat banyaknya kerusakan lingkungan hidup. Maka, bencana ekologis akan senantiasa terjadi apabila kita abai menjaga lingkungan dan abai melakukan antisipasi terhadap terjadinya bencana.

Selamat hari lingkungan hidup, mari rajut solidaritas untuk merawat bumi dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk generasi mendatang.

–##–

* Ica Wulansari, M.Si adalah penulis dan peneliti isu sosial ekologi, politik perubahan iklim serta lingkungan hidup. Ica saat ini tengah menempuh pendidikan di Program Studi Doktor Ilmu Sosiologi di Universitas Padjadjaran, Bandung.