Crop scientist - Wikimedia CommonsBagaikan pintu, walaupun sempit, tidak semua peluang untuk mencapai target pemangkasan emisi gas rumah kaca sudah tertutup. Dunia masih berpeluang mencapai target pemangkasan emisi sebesar 44 Gigaton setara C02 (GtCO2e)/tahun pada 2020 melalui komitmen yang kuat diikuti oleh aksi yang ambisius.

Hal ini terungkap dalam berita Program Lingkungan PBB (UNEP) yang dirilis baru-baru ini. Berbagai penelitian menunjukkan, jika dunia berani beraksi, polusi iklim akan bisa dikurangi antara 14-20 GtCO2e dengan biaya sebesar $100 per ton emisi setara CO2.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memerketat aturan agar semua negara yang telah memiliki janji pengurangan emisi, memenuhi janji minimal mereka. Langkah ini berpotensi mengurangi emisi sebesar 1-2 GtCO2e. Jika target pengurangan emisi maksimal bisa dipenuhi, tanpa syarat, dunia akan bisa memangkas emisi hingga 2-3 GtCO2e.

Disertai dengan aksi-aksi iklim yang lain, dunia bisa menambah jumlah pengurangan emisi sebesar 2 GtCO2e. Aksi-aksi tambahan ini mencakup aksi pemangkasan emisi di seluruh sektor dalam skala nasional, keterlibatan semua negara dalam aksi pemangkasan emisi dan aksi pemangkasan emisi di sektor transportasi internasional.

Menurut UNEP, semua target ini akan tercapai jika semua negara bahu membahu guna mengatasi masalah pendanaan dan kesenjangan teknologi. Aksi peningkatan efisiensi energi misalnya, bisa memangkas emisi lebih dari 2 GtCO2e pada 2020. Contoh, lampu atau penerangan mengonsumsi 15% listrik dunia dan menghasilkan 5% emisi gas rumah kaca. Menggunakan lampu yang hemat energi akan bisa mengurangi biaya dan memangkas emisi gas rumah kaca.

Sementara peralihan ke energi terbarukan bisa memangkas emisi antara 1-3 GtCO2e pada 2020. Investasi di energi baru dan terbarukan (EBT) telah mencapai $244 miliar pada 2012 dan kapasitas energi terbarukan terpasang mencapai rekor baru yaitu 115 GW tahun lalu. Dalam delapan tahun terakhir, jumlah negara yang memiliki target peralihan ke energi bersih terus meningkat dari 48 negara ke 140 negara. Disertai aksi reformasi subsidi bahan bakar minyak, manfaat pengurangan emisi tambahan bisa mencapai 0,4 hingga 2 GtCO2e pada 2020.

Untuk itu. agar kerja sama internasional dalam pengurangan emisi bisa berjalan efektif, diperlukan visi dan mandat yang jelas dalam aksi ini. Semua negara juga dituntut untuk meningkatkan partisipasi dalam aksi pengurangan emisi disertai dengan dukungan dana dan struktur kelembagaan yang kuat yang menunjang implementasi aksi. Insentif juga diperlukan bagi mereka yang berpartisipasi, yang bersama dengan penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas, mampu menjadikan aksi pengurangan emisi lebih efektif.

Potensi pengurangan emisi tambahan datang dari industri pertanian yang bisa memangkas emisi sebesar 1,1- 4,3 GtCO2e. Ada tiga aksi pengurangan emisi yang bisa dilakukan di industri pertanian.

Pertama, menghindari pembajakan lahan dan melakukan penanaman langsung di lahan yang telah dipakai pada musim sebelumnya. Aksi ini bisa mengurangi emisi dari kerusakan lahan dan penggunaan mesin-mesin pertanian. Kedua, memerbaiki pengelolaan nutrisi dan air yang bisa mengurangi emisi metana dan nitrogen oksida. Ketiga, implementasi pola wana tani (agroforestry) yang mampu meningkatkan penyerapan emisi di biomasa maupun dalam tanah.

Redaksi Hijauku.com