Paparan polusi timbel terbukti meningkatkan risiko gangguan jiwa atau schizophrenia.

Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Mailman School of Public Health di Columbia University dan Johns Hopkins University School of Medicine yang dirilis baru-baru ini.

Hasil penelitian laboratorium terhadap tikus mutan yang sudah disuntik dengan gen manusia menunjukkan, paparan timbel pada masa-masa awal kelahiran tikus akan menimbulkan perubahan struktural dan sinergis dalam otak tikus yang meningkatkan risiko genetis terhadap gangguan jiwa/schizophrenia.

Menurut tim peneliti, hasil penelitian ini menjelaskan hubungan antara faktor lingkungan dan gen yang kompleks dengan penyakit schizophrenia dan gangguan mental yang lain.

Penelitian sebelumnya pada 2004 oleh tim Mailman School menemukan koneksi antara paparan timbel pada masa kehamilan (prenatal) yang meningkatkan risiko timbulnya schizophrenia saat manusia telah dewasa. Namun pertanyaan besar masih menggantung: Bagaimana timbal bisa memicu penyakit jiwa ini?

Berdasarkan dari hasil penelitiannya sendiri, Tomás R. Guilarte, PhD, peneliti senior yang ikut menyusun laporan ini menyatakan, jawabannya ada pada dampak langsung dari paparan timbel terhadap N-methyl-D-aspartate receptor (NMDAR), bagian dari otak yang mengatur pertumbuhan, pembelajaran dan daya ingat.

Penelitiannya terhadap binatang pengerat menemukan, paparan timbel ini mengganggu fungsi NMDAR. Dalam penelitian terbaru, Dr. Guilarte, profesor Department of Environmental Health Sciences di Mailman School, dan tim menemukan, tikus mutan yang telah menerima gen manusia menunjukkan perilaku hiperaktif dan kurang cepat bereaksi ketika diberi peringatan suara/akustik. Otak mereka juga mengandung lebih banyak cairan dibanding tikus yang lain. Hasil penelitian ini mirip dengan gejala schizophrenia pada manusia.

Walaupun penelitian ini berfokus pada schizophrenia, namun implikasi penelitian ini bisa lebih luas. Penelitian ini bisa mengungkap dampak bahan-bahan kimia beracun di lingkungan terhadap gangguan mental. “Kita baru menguak permukaannya saja,” ujar Dr. Guilarte. “Kami, dalam penelitian ini menggunakan timbel, namun masih banyak racun-racun di lingkungan lain yang bisa menggangu fungsi dari NMDAR,” tambahnya lagi.

Redaksi Hijauku.com