Fenomena cuaca El Niño dan perubahan iklim mengancam keselamatan telur dan tukik (bayi penyu) belimbing.

Masih ingat film “Sammy’s Adventures”? Film inspiratif ini menceritakan petualangan tukik sejak menetas hingga dewasa. Dalam perjalanannya, Sammy, si tukik harus mengatasi banyak bahaya, mulai dari ancaman predator hingga pencemaran lingkungan.

Kini, tantangan bagi tukik untuk bisa tumbuh dewasa semakin kompleks. Para peneliti dari Universitas Drexel, Amerika Serikat mengungkapkan, perubahan iklim di lokasi penetasan penyu memengaruhi kemampuan telur dan tukik untuk hidup.

Mereka memerkirakan, kemampuan telur dan tukik untuk selamat akan semakin tipis, menurun hingga 50% dalam 100 tahun ke depan akibat pemanasan global.

“Suhu dan kelembapan di dalam sarang sangat penting bagi keselamatan telur dan tukik,” ujar Dr. James Spotila, peneliti dari Universitas Drexel yang memimpin penelitian ini, sebagai mana dilaporkan oleh jurnal ilmiah PLoS ONE, Rabu lalu (23/5).

Spotila dan beberapa ilmuwan lain meneliti pengaruh pola iklim regional terhadap kemampuan penyu belimbing ((leatherback turtle) berkembang biak selama enam musim telur berturut-turut di Playa Grande, Kosta Rika.

Pantai ini adalah pusat perkembangbiakan penyu belimbing di wilayah timur Samudera Pasifik. Sebanyak 40% sarang penyu belimbing ada di wilayah ini. Hasilnya, para peneliti berhasil membuktikan pengaruh iklim terhadap kemampuan penyu belimbing, yang saat ini terancam punah, untuk berkembang biak.

Pola cuaca seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) sangat memengaruhi kemampuan tukik untuk selamat dan berkembang. ENSO menyebabkan suhu permukaan laut lebih hangat. Para peneliti menemukan, semakin hangat dan kering kondisi cuaca El Niño semakin tinggi risiko bagi telur dan tukik untuk bisa hidup dan berkembang.

Dengan menggunakan proyeksi perubahan iklim global dalam 100 tahun ke depan, para peneliti menyimpulkan kemampuan telur dan tukik untuk hidup pada cuaca yang semakin panas akan terus menurun. Hal ini, menurut para peneliti, tidak hanya terjadi di Playa Grande namun juga di wilayah pantai lain yang menjadi lokasi perkembangbiakan penyu.

Spotila telah melakukan penelitian ini selama 22 tahun. “Penyu belimbing adalah spesies yang terancam punah,” ujar Spotila. “Mereka harus dibantu agar selamat dari pengaruh perubahan iklim. Iklim yang semakin panas membunuh tukik dan telur penyu.”

Menurut Spotila, dunia harus beraksi untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan. “Kita harus mengubah praktik memancing kita agar tidak membunuh penyu di laut. Kita juga harus mencegah terjadinya pemanasan global sehingga pantai bisa tetap nyaman untuk perkembangbiakan penyu. Jika hal tersebut tidak dilakukan, penyu belimbing dan banyak spesies lain akan musnah,” tambahnya lagi.

Redaksi Hijauku.com