Aktifitas bertani dan berkebun di perkotaan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Ayo belajar dari mereka.

Di Indonesia, aktifitas bertani dan berkebun urban mengalami lonjakan tahun lalu, dengan berkembangnya jaringan sahabat berkebun di kota-kota besar di Tanah Air. Perkembangan ini juga didukung oleh jaringan sosial media.

Di Jepang, sistem pertanian urban sudah berkembang sejak lama. Raquel Moreno-Peñaranda dalam artikelnya yang berjudul Japan’s urban agriculture: cultivating sustainability and well-being yang diterbitkan di situs Universitas PBB menyatakan, sistem pertanian urban di Jepang kini bahkan menjadi andalan untuk memasok produk-produk pertanian yang segar, sehat dan cepat.

Sepertiga pasokan produk-produk pertanian di Jepang berasal dari lahan-lahan pertanian di perkotaan. Jumlah petani di perkotaan kini bahkan mencapai seperempat dari jumlah petani yang ada di Jepang.

Pertanian urban di Jepang juga lebih produktif dibanding dengan pertanian di wilayah-wilayah lain. Menurut data Kementrian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang (MAFF) , pada 2010, produktifitas rata-rata lahan pertanian urban 3% lebih tinggi dibanding lahan pertanian nasional.

Dari sisi pendapatan per pertani, pertanian urban juga dua kali lebih menguntungkan dibanding pertanian di dataran tinggi dan 10% lebih menguntungkan dibanding pertanian di pedesaan.

Pertanian perkotaan menjadi tren di Ibu Kota Jepang, Tokyo, salah satu kota paling besar dan paling padat di dunia.

Di antara jaringan rel kereta api, jalan-jalan, gedung-gedung dan jaringan listrik Tokyo, pertanian urban tumbuh dan mampu memasok makanan segar dan sehat bagi 700.000 penduduknya.

Apa kelebihan dari pertanian urban di Jepang? Apa rahasia keberhasilan mereka?

Pemerintah Jepang sangat menyadari manfaat pertanian urban ini bagi kehidupan sosial dan kelestarian lingkungan, sehingga mereka bersungguh-sungguh mengembangkannya.

MAFF mengidentifikasi dan menetapkan lima manfaat pertanian urban sebagai berikut:

1. Pertanian urban adalah sumber makanan segar dan sehat, termasuk makanan organik dan rendah kimia, yang kini banyak diminati oleh masyarakat. Produk-produk ini bisa ditanam dan dikonsumsi di perkotaan hasil kerjasama antara petani dan penduduk kota.

2. Pertanian urban memberikan kesempatan bagi penduduk kota untuk terlibat dalam aktivitas pertanian baik secara langsung (melalui aktifitas berkebun) dan melalui aktifitas jual beli antara konsumen dan petani di gerai-gerai produk pertanian lokal.

3. Pertanian urban bisa menjadi ruang terbuka, tempat mengungsi, jika terjadi bencana seperti gempa, kebakaran dan bencana alam lainnya.

4. Lahan pertanian urban juga bisa menjadi tempat rekreasi dan ruang terbuka hijau yang bisa meningkatkan kualitas hidup dan spiritual keluarga.

5. Pertanian urban bisa menjadi sarana pendidikan untuk meningkatkan pemahaman atas isu-isu lingkungan, pertanian dan pangan.

Selain kelima fungsi utama di atas, pertanian urban juga bisa menciptakan kota yang ramah lingkungan. Lahan pertanian urban bisa menambah luas lahan resapan air hujan (storm water) serta mendinginkan udara di perkotaan.

Pertanian urban juga bisa memperkaya keanekaragaman hayati dengan memberikan ruang bagi berkembangnya habitat lokal seperti serangga, burung dan lebah.

Jarak yang harus ditempuh bahan makanan untuk sampai ke tangan konsumen juga lebih pendek, sehingga menekan polusi dan membantu mencegah pemanasan global.

Dengan mendesain lingkungan kota sedemikian rupa sehingga bisa mendukung sistem pertanian di perkotaan, petani tidak perlu mengemas produk mereka secara berlebihan dan mengirim produk mereka ke lokasi yang jauh untuk menemukan pasar.

Masyarakat Jepang mengenal konsep “satoyama” dan “satoumi”. Dua konsep ini diartikan sebagai seni yang dinamis untuk mengelola sistem sosial dan ekologis menuju terciptanya ekosistem yang bisa meningkatkan kualitas hidup manusia.

Walau pada awalnya diterapkan untuk konteks pedesaan, kedua konsep tersebut juga bisa diadopsi oleh lingkungan perkotaan.

Contoh, “lahan satoyama” di pinggiran kota, bisa menjadi pusat produksi pertanian sekaligus menjadi pusat produksi energi dan budaya untuk memulihkan ekonomi masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir ketertarikan masyarakat atas sistem pertanian urban terus meningkat.

Berdasarkan survei MAFF, lebih dari 85% penduduk Tokyo ingin kota mereka memiliki lahan pertanian guna menjamin pasokan makanan segar sekaligus ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

Sistem “Taiken Nouen” di mana penduduk bekerja sama langsung dengan petani dalam berbagai aktivitas, dan “Shimin Nouen”, aktivitas berkebun komunitas (allotment gardens), adalah dua sistem yang paling populer di Jepang.

Menurut MAFF, jumlah lahan berkebun komunitas di wilayah perkotaan naik 67% pada 2010. Permintaan atas lahan berkebun komunitas juga 30% lebih tinggi dibanding permintaan lahan berkebun nasional. Bahkan di kota-kota industri seperti Kawasaki dan Nagoya, permintaan melonjak 300% jauh melampaui ketersediaan lahan.

Semua tren ini sejalan dengan tumbuhan ekonomi hijau, ekonomi yang ramah alam. Di dunia yang terus dilanda urbanisasi, kota berperan penting untuk mewujudkan konsep ekonomi hijau yang kini menjadi ujung tombak sistem pembangunan yang berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com