Oleh: Doddy S. Sukadri * 

Salah satu ciri perubahan iklim adalah berbicara tentang masa depan yang sangat panjang. Bukan lima, sepuluh atau dua puluh tahun, tetapi 50 sampai 100 tahun ke depan, bahkan lebih dari itu.

Untuk saat ini, Persetujuan Paris merupakan rumah untuk solusi perubahan iklim, yaitu dengan melakukan segala upaya yang diperlukan guna memastikan bahwa kenaikan suhu rata-rata bumi tidak melebihi 2°C pada akhir abad ini, dan mendorong semua negara dan para pihak untuk berupaya membatasi kenaikan tersebut hingga 1,5°C saja dibandingkan suhu bumi rata-rata sebelum revolusi industri abad 18 yang lalu.

Lebih dari 190 negara telah menandatangani Persetujuan Paris pada tahun 2015, dan sepakat untuk mencapai net zero emission atau netral karbon pada pertengahan abad ini. Mereka sepenuhnya menyadari betapa pentingnya untuk mencegah kenaikan suhu rata-rata bumi, namun tidak banyak orang yang menyadari apa yang akan terjadi jika kita gagal dalam mencapai netral karbon?

Laporan yang dibuat lebih dari dua ribu peneliti dari berbagai negara yang tergabung dalam Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa meskipun kita berhasil mengurangi emisi sebanyak mungkin, bahkan dalam skenario terbaikpun, suhu bumi pada tahun 2100 tetap meningkat 1,8ºC. Suatu angka yang masih sangat mengkhawatirkan dilihat dari kacamata perubahan iklim.

Permukaan air laut pasti akan terus meningkat antara 28 dan 55 cm pada akhir abad ini, dibandingkan dengan kondisi sekarang, sekalipun jika kita berhasil mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini.

Saat ini, kenaikan suhu rata-rata di planet bumi sudah meningkat sekitar 1,10C dibandingkan tingkat pra-industri. Kenaikan ini telah menyebabkan perubahan iklim bumi yang tidak dapat diubah lagi (irrecoverable) di semua wilayah di dunia. Suhu yang mencapai 50°C di Kanada, banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jerman, Belgia, dan baru-baru ini di Libia yang menewaskan lebih dari 13 ribu orang, serta kebakaran yang melanda Yunani dan Turki pada musim panas tahun lalu, merupakan peringatan  bahwa tidak ada negara yang aman dari dampak perubahan iklim.

Salah satu kesimpulan paling penting dalam laporan terbaru IPCC mengenai perubahan iklim adalah bahwa setiap kenaikan suhu bumi yang hanya sepersepuluh  derajat Celcius saja akan sangat  berarti, karena dampaknya bisa sangat menghancurkan kehidupan di bumi.

Keberlanjutan Regeneratif

Menuju emisi nol bersih rupanya belum cukup untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Saat ini muncul istilah Regenerative Sustainability atau Keberlanjutan Regeneratif.

Keberlanjutan regeneratif bukan sekedar mengurangi dampak buruk atau memperbaiki kerusakan, namun merupakan pendekatan positif yang menyatukan lingkungan ekologi, sosial, ekonomi, dan politik. Keempat hal tersebut harus saling memberikan kontribusi positif, saling memperkuat, dan saling memberikan manfaat yang berkelanjutan, baik bagi manusia maupun sistem ekologi.

Jadi, keberlanjutan regeneratif pada dasarnya berbicara tentang keberlanjutan plus. Dalam kaitan ini, semua pihak dituntut untuk berhenti melakukan kerusakan baru, sambil memperbaiki kerusakan yang telah terjadi  Caranya dengan menempatkan masa depan kehidupan sebagai prioritas utama dari semua aktivitas yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan manusia.

Apa yang bisa dilakukan?

Banyak pilihan aksi yang dapat dikerjakan untuk melakukan keberlanjutan regeneratif, namun semuanya perlu dilakukan dengan serius, sungguh-sungguh dan ambisius. Masih cukup waktu dan peluang untuk menahan laju perubahan iklim sambil beradaptasi terhadap konsekuensi terburuknya.

Jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihembuskan ke atmosfir karena berbagai aktivitas manusia (anthropogenic emission) harus dikurangi secara drastis dengan merubah gaya hidup konsumtif yang boros energi. Kemudian sebanyak mungkin mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan untuk mengurangi dampak pemanasan global sebesar besarnya.

Tidak hanya sampai di sini. Penting juga untuk melangkah lebih jauh, beralih dari keberlanjutan menuju keberlanjutan regeneratif, untuk menyembuhkan luka bumi yang saat ini sudah dalam keadaan menderita.

Keberlanjutan regeneratif menawarkan upaya konkret untuk mengkomunikasikan apa yang perlu kita lakukan sekarang dan yang akan datang. Ini terkait dengan keberlanjutan plus, jadi bukan sekedar berhenti melakukan kerusakan dan memperbaiki masalah, namun saling mengupayakan ketergantungan mendasar yang bersifat generatif.

Fokusnya adalah pada hasil akhir yang positif yang saling bergantung satu sama lain, dan menempatkan kehidupan dan vitalitas sebagai inti dari segala hal yang harus dilakukan sekarang maupun di masa datang.Salah satu contoh dari proses ini adalah pertanian regeneratif, yaitu memproduksi pangan dengan dampak lingkungan dan/atau sosial yang positif.

Hal ini dapat dilakukan dengan memilih tanaman yang bisa menutup tanah, mengintegrasikan kegiatan pertanian dengan peternakan, mengurangi kegiatan pengolahan tanah, meningkatkan peran pertanian sebagai penyerap karbon, dan menjaga  keaneka-ragaman hayati.  Pertanian regeneratif bisa dilakukan berbeda-beda antara satu petani dengan petani lainnya, dan dari satu daerah dengan daerah yang lain dengan prinsip holistik dalam sistem yang dinamis untuk kepentingan generasi yang akan datang.

–##–

* Doddy S. Sukadri adalah Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau, mantan Negosiator COP, UNFCCC.