Cuaca ekstrem dan dampak perubahan iklim di seluruh Asia pada tahun 2020 mencabut ribuan nyawa, jutaan orang mengungsi, dengan kerugian mencapai ratusan miliar dolar, merusak infrastruktur dan ekosistem. Akibatnya, kerawanan pangan, air, risiko kesehatan dan degradasi lingkungan meningkat, mengancam hasil pembangunan yang berkelanjutan.
Hal ini disampaikan dalam laporan multi-lembaga baru yang dikoordinasikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) berjudul The State of the Climate in Asia 2020 yang diluncurkan hari ini, 26 Oktober 2021.
Laporan ini memberikan data terkait suhu di daratan dan lautan, curah hujan, penurunan gletser, penyusutan es, kenaikan permukaan air laut, dan cuaca ekstrem. Kajian ini juga mengkaji dampak sosial ekonomi dari semua bencana ini saat semua wilayah di Asia berjuang melawan pandemi COVID-19, yang pada gilirannya memperumit penanganan bencana.
Semua wilayah di Asia terdampak krisis iklim ini, mulai dari puncak Himalaya hingga daerah pesisir dataran rendah. Dari kota-kota Asia yang berpenduduk padat hingga gurun pasir, dari Kutub Utara hingga laut Arab.
“Cuaca dan iklim ekstrem, terutama banjir, badai, dan kekeringan, berdampak signifikan terhadap negara-negara di Asia, mempengaruhi pertanian dan ketahanan pangan, meningkatkan risiko perpindahan penduduk, jumlah pengungsi, dan orang terlantar, memperburuk masalah kesehatan dan lingkungan, termasuk risiko hilangnya ekosistem alami,” ujar Sekretaris Jenderal WMO, Prof. Petteri Taalas.
“Jika digabungkan, semua dampak tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan dalam jangka panjang, khususnya terhadap kemajuan Agenda 2030 PBB dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” tutur Petteri dalam rilis WMO.
Armida Salsiah Alisjahbana, Sekretaris Eksekutif UNESCAP (United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific) menyatakan, di tengah pandemi, negara-negara Asia harus menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin merusak. “Kurang dari 10% dari target SDG yang on-track tercapai pada tahun 2030. Yang paling mengkhawatirkan, tren aksi iklim (SDG No.13) dan aksi menjaga kehidupan di bawah air (SDG No.14) justru menurun: keduanya sangat terkait dengan ketahanan bencana,” ujar Armida.
Suhu: Tahun 2020 tercatat sebagai tahun terpanas di Asia dengan suhu rata-rata 1,39 °C di atas rata-rata suhu periode 1981–2010. Terdapat banyak kasus panas ekstrem di Asia salah satunya di Verkhoyansk, Federasi Rusia, di mana suhu rata-rata wilayah tersebut mencapai 38,0°C, suhu tertinggi sementara yang pernah terjadi di utara Lingkaran Arktik.
Curah hujan: Musim panas (monsoon) di Asia Timur dan Asia Selatan di luar kebiasaan, menjadi sangat aktif. Fenomena ini, dipadu dengan sering terjadinya siklon tropis telah memicu bencana banjir dan tanah longsor, yang menyebabkan hilangnya ribuan nyawa dan memicu pengungsian di banyak negara.
Suhu air laut: Pada tahun 2020, suhu permukaan laut rata-rata mencapai rekor tertinggi di Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Arktik. Suhu permukaan laut dan pemanasan laut di dan sekitar Asia meningkat melampaui rata-rata global – mencapai tiga kali lipat dalam kasus laut Arab.
Suhu permukaan laut di beberapa bagian Samudra Arktik juga telah memanas tiga kali lipat dari rata-rata global selama periode 1982-2020. Laut Barents, di Arktik utara, khususnya, diidentifikasi sebagai hotspot perubahan iklim, dengan hilangnya es di laut tersebut yang pada gilirannya menyebabkan meningkatnya pemanasan laut.
Luasan es di laut: Pada 2020, luas minimum es di laut Arktik (setelah pencairan pada musim panas) hasil pencitraan satelit merupakan yang terendah kedua sejak 1979. Yang mengkhawatirkan lagi, Laut landas Eurasia dan Rute Laut Utara benar-benar telah bebas es di musim panas.
Kenaikan permukaan air laut: Rata-rata permukaan air laut global telah meningkat 3,3 mm per tahun sejak awal 1990-an. Samudra Hindia Utara dan Samudra Pasifik Barat Laut secara signifikan mengalami kenaikan permukaan air laut yang lebih tinggi dari rata-rata global.
Gletser mencair: Asia adalah rumah bagi sekitar 100.000 km2 gletser yang berpusat di Dataran Tinggi Tibet dan Himalaya. Jaringan gletser ini berisi es dengan volume terbesar di luar daerah kutub dan merupakan sumber air bagi 10 sungai penting di Asia.
Yang saat ini terjadi, gletser mencair semakin cepat. Massa gletser diproyeksikan akan berkurang 20-40% pada tahun 2050, yang tentunya akan berdampak terhadap kehidupan dan mata pencaharian 750 juta orang di wilayah tersebut. Mencairnya gletser juga memicu kenaikan permukaan laut global, mengganggu siklus air regional dan meningkatkan risiko bencana lokal seperti bencana longsor.
Di negara-negara seperti Afghanistan, lelehan gletser secara historis sangat penting untuk menjaga pasokan air masyarakat pada saat kekeringan, pengurangan limpasan glasial ini akan berimplikasi besar bagi ketahanan air dan ekosistem.
Korban bencana: Pada tahun 2020, 50 juta orang di Asia terdampak banjir dan badai, mencabut lebih dari 5.000 nyawa. Angka ini di bawah rata-rata tahunan dalam dua dekade terakhir (dengan 158 juta orang terdampak dan mencabut sekitar 15.500 nyawa). Hal ini menjadi bukti keberhasilan sistem peringatan dini di banyak negara di Asia.
Siklon tropis, banjir dan kekeringan diperkirakan memicu kerugian tahunan rata-rata mencapai ratusan miliar dolar. China mengalami kerugian terbesar, sekitar US$ 238 miliar, disusul oleh India yang mencapai US$ 87 miliar dan US$ 83 miliar di Jepang.
Menggunakan ukuran ekonomi, kerugian tahunan rata-rata ini diperkirakan mencapai 7,9% dari PDB Tajikistan (US$ 7,5 miliar), 5,9% dari PDB Kamboja (US$ 24,5 miliar) dan 5,8% dari PDB Republik Demokratik Rakyat Laos (US$ 17,9 miliar). Dan angka kerugian tertinggi berhubungan dengan bencana kekeringan.
Perpindahan penduduk: Topan yang intens, hujan monsun dan banjir yang melanda daerah terbuka dan berpenduduk padat di Asia Selatan dan Asia Timur telah menyebabkan perpindahan jutaan orang di China, Bangladesh, India, Jepang, Pakistan, Nepal, dan Vietnam pada tahun 2020.
Topan Amphan, salah satu topan terkuat yang pernah tercatat melanda wilayah Sundarbans antara India dan Bangladesh pada Mei 2020, menggusur 2,4 juta orang dari tempat tinggal mereka di India dan 2,5 juta orang di Bangladesh.
Dalam banyak kasus, perpindahan terkait cuaca dan iklim di Asia ini terjadi secara berkepanjangan, memaksa orang-orang tidak dapat kembali ke rumah dan menetap di tempat lain.
Pertanian dan ketahanan pangan: Pada tahun 2020, 48,8 juta orang di Asia Tenggara, 305,7 juta di Asia Selatan dan 42,3 juta di Asia Barat diperkirakan mengalami kondisi kekurangan gizi. Lebih dari setengah warga kekurangan gizi global ada di Asia.
Dibanding tahun 2019, jumlah orang kurang gizi pada tahun 2020 meningkat sebesar 6% di Asia Tenggara dan Asia Barat, dan sebesar 20% di Asia Selatan. Bencana terkait iklim memperparah masalah ini.
Lingkungan: Mangrove yang memberikan perlindungan di tepi pantai terus berada di bawah tekanan akibat aktivitas manusia, peningkatan permukaan dan suhu air laut. Perubahan frekuensi, intensitas curah hujan dan pola badai juga mempengaruhi kelestarian mangrove.
Pada tahun 2019, sekitar tiga perempat mangrove di Asia berada di Bangladesh (24%), Myanmar (19%), India (17%) dan Thailand (14%). Mangrove di Bangladesh, negara dataran rendah yang sering terkena badai tropis, berkurang 19% dari tahun 1992 ke 2019.
Sementara itu, antara tahun 1990 dan 2018, Bhutan, Cina, India, dan Vietnam berhasil meningkatkan tutupan hutan mereka. Namun laporan ini juga menemukan, tutupan hutan menurun di Myanmar (26%), Kamboja (24%) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (12%). Hutan berperan sebagai penyerap karbon penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Frekuensi badai pasir dan debu yang membahayakan kesehatan manusia, pertanian, dan lingkungan meningkat akibat alih guna lahan dan faktor terkait iklim khususnya di wilayah seperti Jazirah Arab dan Timur Tengah yang lebih luas, serta Asia Tengah.
Kerugian akibat cuaca ekstrem akan terus meningkat. Sebagian besar infrastruktur kritis berada di lokasi-lokasi yang paling berbahaya bencana alam, sehingga berpotensi memicu gangguan signifikan dalam kegiatan ekonomi ketika bencana alam terjadi. Misalnya, sekitar sepertiga pembangkit listrik energi, jaringan kabel serat optik dan bandara, dan 42% infrastruktur jalan, berada di titik rawan bencana multirisiko di Asia-Pasifik. Sementara bagi kita, manusia, peningkatan panas dan kelembaban ekstrem akan memicu hilangnya jam kerja efektif di luar ruang, dengan potensi kerugian mencapai miliaran dolar.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment