Aset sumber daya alam dan lingkungan di 116 negara masih dinilai terlalu rendah.
Pasar keuangan dunia, saat ini masih menilai rendah aset sumber daya alam dan lingkungan di 116 dari 140 negara dunia. Aset-aset yang dinilai murah tersebut adalah ketersediaan air yang melimpah, udara bersih dan tanah yang subur.
Dengan menilai murah aset-aset ini, sistem keuangan dunia terancam gagal mengidentifikasi nilai kerugian, dampak dan risiko perubahan iklim terhadap aset-aset alam dan lingkungan tersebut. Kegagalan ini juga tercermin dari munculnya insentif yang tidak tepat bagi perekonomian.
Salah satu contoh insentif yang tidak tepat adalah subsidi bahan bakar fosil yang luar biasa besar. Data terbaru IMF menunjukkan, subsidi bahan bakar fosil mencapai $5,3 triliun/tahun pada 2015 atau setara $10 juta per menit. Semua uang tersebut dibakar setiap hari sepanjang tahun untuk energi yang merusak kesehatan, lingkungan dan memerparah perubahan iklim.
Perubahan iklim akan merusak infrastruktur, mengancam keamanan pangan, ketersediaan air dan berdampak negatif terhadap kesehatan. Biaya untuk mengatasi semua masalah ini akan menggerus produk domestik bruto setiap negara.
Hal ini terungkap dari laporan berjudul ‘The Coming Financial Climate’ yang diluncurkan oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Jum’at, 22 Mei 2015. Laporan ini mengidentifikasi berbagai pendekatan yang bisa diambil oleh industri keuangan guna membantu mengurangi risiko perubahan iklim.
Pendekatan-pendekatan tersebut termasuk mobilisasi modal, transparansi dan peralihan ke budaya yang menjadikan perlindungan perubahan iklim sebagai bagian integral dari sistem keuangan berkelanjutan (sustainable financial system).
Bank Dunia menyebutkan, dalam 15 tahun ke depan, ekonomi dunia akan memerlukan biaya sebesar $89 triliun guna membangun infrastruktur perkotaan, energi serta sistem tata guna lahan dan $4,1 triliun untuk membiayai transisi rendah karbon guna mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat Celsius.
Dengan mengatur sistem keuangan, peralihan ke pola investasi rendah karbon diharapkan bisa semakin mudah dan lancar. Aksi ini juga akan mencegah risiko volatilitas aset yang tidak tercermin dalam model stabilitas keuangan konvensional.
Pangsa pasar energi terbarukan yang mencapai $270 miliar tahun lalu dan terciptanya prinsip, standar dan insentif baru bagi obligasi hijau/green bond menjadi saksi transformasi ke sistem keuangan yang ramah lingkungan.
Menurut UNEP, diperlukan transformasi ekonomi dan realokasi pembiayaan swasta ke arah pola pembangunan bersih dan rendah emisi, guna mengatasi risiko perubahan iklim. Target utamanya adalah mencapai “zero net emissions” pada paruh kedua abad ini.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment