Oleh: T.H. Hari Sucahyo*

November 2025 datang seperti tamu yang tak diundang, membawa hujan yang tidak lagi mengenal jeda. Dalam hitungan hari, lebih dari seribu nyawa melayang di sepanjang tulang punggung Sumatera, dari Aceh hingga Sumatera Barat. Sungai-sungai yang dulu menjadi nadi kehidupan berubah menjadi lorong kematian.

Banjir bandang dan tanah longsor menyapu desa-desa, mengubur rumah-rumah, merenggut nyawa keluarga, dan meninggalkan kehancuran yang begitu luas hingga citra satelit pun seakan kehilangan bahasa untuk menggambarkannya. Media menyebutnya bencana alam. Namun seorang ilmuwan dari salah satu universitas paling bergengsi di Indonesia memilih istilah lain. Ia menyebutnya akumulasi “dosa ekologis.”

Ungkapan itu terus terngiang di benak saya, karena menyiratkan sesuatu yang sangat tidak nyaman: bahwa yang terjadi bukan sekadar peristiwa alam. Ini adalah konsekuensi, sebuah tagihan yang jatuh tempo setelah puluhan tahun pilihan yang kita buat atau yang kita biarkan dibuat atas nama kita.

Izinkan saya memberikan angka-angkanya, karena angka itu penting. Jumlah korban tewas resmi berdasar BNPB : 1.138, hilang: 163, luka-luka: lebih dari 7.000, dan mengungsi: hampir satu juta orang, terdampak: 3,3 juta jiwa di tiga provinsi. Di balik angka-angka itu ada nama, ada wajah, ada cerita yang tak akan pernah selesai dituturkan. Ada seorang ibu yang menemukan sepatu anaknya tersangkut di pagar bambu setelah air surut. Ada seorang ayah yang berdiri berjam-jam di posko, menatap daftar nama dengan mata kosong, berharap satu huruf saja cukup untuk menyalakan kembali dunia yang runtuh. Ada desa yang kini hanya dikenali dari peta lama dan ingatan para penyintas.

Ya, terjadi cuaca ekstrem. Siklon Tropis Senyar terbentuk sangat dekat dengan khatulistiwa; sebuah peristiwa meteorologi yang langka, hampir mustahil menurut buku teks yang kita pelajari di sekolah. Awan-awan raksasa mengunci hujan di atas Sumatera selama berhari-hari. Dalam satu malam, curah hujan melampaui rata-rata bulanan. Sungai meluap, tanah jenuh air kehilangan pegangan, lereng-lereng yang telah lama terluka akhirnya menyerah.

Apakah keanehan cuaca ini cukup untuk menjelaskan segalanya? Atau kita sedang mencari kata yang menenangkan, agar tak perlu menatap cermin terlalu lama? Kata “dosa” memang terdengar berat. Ia mengandaikan kesalahan moral, bukan sekadar kesalahan teknis. Ia mengandung pengakuan bahwa ada sesuatu yang kita tahu seharusnya tidak dilakukan, tetapi tetap dilakukan.

Dosa ekologis, dalam pengertian itu, adalah hutang yang terakumulasi diam-diam: hutan yang dibuka tanpa kendali, rawa yang dikeringkan, sungai yang dipersempit dan dipaksa mengikuti garis lurus beton, lereng yang ditoreh jalan tanpa memperhitungkan daya dukungnya.  Ia adalah izin yang dikeluarkan tanpa pengawasan, pengawasan yang dilemahkan oleh kepentingan, kepentingan yang dibungkus kata “pembangunan,” seolah-olah pembangunan selalu berarti kemajuan.

Sumatera telah lama menjadi ladang eksperimen pilihan-pilihan itu. Di sana, hutan hujan tropis yang dulu menyerap hujan seperti spons raksasa kini terfragmentasi. Akar-akar yang seharusnya memeluk tanah telah digantikan oleh barisan tanaman monokultur dengan jarak tanam yang seragam dan daya ikat yang terbatas. Sungai-sungai dipersempit oleh sedimentasi dan bangunan, kehilangan ruang untuk meluap secara alami. Ketika hujan ekstrem datang dan ia kini datang lebih sering, tak ada lagi penyangga. Air mencari jalan terpendek. Gravitasi tak mengenal belas kasihan.

Kita sering berkata bahwa bencana tidak memilih korban. Itu benar, tetapi dampaknya tidak pernah netral. Mereka yang tinggal di bantaran sungai, di lereng-lereng rapuh, di rumah-rumah yang dibangun dari bahan seadanya, menanggung beban terbesar. Mereka yang paling sedikit menikmati keuntungan dari pilihan-pilihan besar itulah yang pertama kali membayar harganya. Dosa ekologis, jika kita jujur, juga adalah dosa ketidakadilan.

Dalam hari-hari setelah bencana, kita menyaksikan solidaritas yang mengharukan. Relawan datang dari berbagai penjuru, membawa logistik, tenaga, dan doa. Dapur umum mengepul sepanjang malam. Anak-anak diberi selimut dan buku gambar. Para petugas bekerja tanpa tidur. Kita patut berterima kasih pada mereka. Namun solidaritas pascabencana sering kali menjadi tirai yang menutupi pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana agar kita tidak terus-menerus memuliakan kepahlawanan setelah kehancuran, sementara gagal mencegah kehancuran itu sendiri?

Ilmuwan yang menyebut “dosa ekologis” tidak sedang mengutuk alam. Ia mengajak kita melihat hubungan sebab-akibat yang lebih panjang, lebih rumit, dan lebih jujur. Perubahan iklim membuat kejadian ekstrem lebih mungkin dan lebih intens. Deforestasi mempercepat limpasan air. Tata ruang yang abai memposisikan manusia di jalur bahaya. Sistem peringatan dini yang terputus-putus dan komunikasi risiko yang lemah membuat waktu evakuasi menyempit. Tidak ada satu faktor tunggal yang bisa dijadikan kambing hitam. Yang ada adalah rangkaian keputusan yang saling memperkuat, hingga akhirnya satu badai langka cukup untuk merobohkan segalanya.

Kita juga perlu berhenti menghibur diri dengan narasi bahwa semua ini tak terhindarkan. Alam memang memiliki siklus, tetapi skala kehancuran yang kita saksikan adalah hasil amplifikasi. Kita memperbesar volumenya. Kita mempercepat ritmenya. Kita menutup mata pada peringatan yang sudah lama terdengar, dari laporan ilmiah hingga kesaksian warga yang setiap tahun merasakan banjir semakin tinggi dan longsor semakin dekat.

Apa yang harus dilakukan setelah tagihan jatuh tempo? Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa pencegahan tidak seheroik respons darurat, tetapi jauh lebih bermakna. Ia menuntut keberanian politik untuk mengatakan tidak pada proyek yang merusak, konsistensi penegakan hukum, dan investasi jangka panjang pada pemulihan ekosistem. Ia menuntut tata ruang yang berpihak pada keselamatan, bukan sekadar pertumbuhan. Ia menuntut keterlibatan warga, bukan sebagai objek, tetapi sebagai penjaga pertama lanskap tempat mereka hidup.

Kita perlu memulihkan hutan bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sistem penyangga kehidupan. Kita perlu mengembalikan ruang sungai, memberi mereka hak untuk meluap tanpa menelan permukiman. Kita perlu membangun infrastruktur yang menghormati kontur alam, bukan memaksanya tunduk. Kita perlu memperkuat sistem peringatan dini yang sampai ke telinga warga paling akhir sekalipun. Kita perlu pendidikan risiko bencana yang membumi, agar setiap orang tahu kapan harus bertahan dan kapan harus pergi.

Lebih dari itu, kita perlu mengubah cara kita berbicara tentang kemajuan. Jika kemajuan selalu diukur dengan angka-angka ekonomi yang meminggirkan biaya ekologis, maka bencana akan terus menjadi catatan kaki yang menyakitkan. Dosa ekologis tidak akan berhenti terakumulasi jika kita terus menunda pertobatan struktural. Pertobatan itu bukan perkara perasaan, melainkan kebijakan. Bukan sekadar janji, melainkan anggaran. Bukan sekadar pidato, melainkan pengawasan.

November 2025 akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu luka terdalam Sumatera. Namun sejarah juga mencatat momen ketika sebuah masyarakat memilih untuk berubah. Kita bisa memilih menjadikan tragedi ini sebagai sekadar angka, atau sebagai titik balik. Kita bisa terus menyebutnya bencana alam dan melangkah pergi, atau kita bisa menerima kenyataan bahwa alam sedang mengembalikan apa yang kita ambil tanpa izin.

Tagihan telah dibayar dengan nyawa. Yang tersisa adalah tanggung jawab, agar anak-anak yang kini menggambar pelangi di tenda pengungsian kelak tidak perlu mewarisi dosa yang sama.

Ungkapan “dosa ekologis” bukanlah vonis, melainkan undangan. Undangan untuk berani jujur, berani berubah, dan berani membangun masa depan yang tidak menunggu badai berikutnya untuk mengingatkan kita betapa rapuhnya kehidupan. Jika kita menolak undangan itu, alam tidak akan berdebat. Ia hanya akan datang kembali, dengan cara yang sama sunyinya, dan dengan biaya yang lebih mahal.

–##–

* T.H. Hari Sucahyo adalah Peminat bidang Keutuhan Ciptaan dan Kenekaragaman Hayati dan Penggagas Forum Grup Diskusi “BENIH”.