Oleh: Jalal

Transisi energi dari sumber fosil ke energi terbarukan adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ini. Untuk mencapai target net-zero emission pada 2050, sesuai yang direkomendasikan Persetujuan Paris, diperlukan investasi triliunan dolar dalam infrastruktur energi bersih, efisiensi energi, dan teknologi rendah karbon. Sektor perbankan, sebagai salah satu penyedia modal utama, diharapkan memainkan peran krusial dalam membiayai transisi ini.

Namun, menurut hemat saya, pendekatan yang selama ini diandalkan, yaitu integrasi Environmental, Social, and Governance (ESG), sesungguhnya jauh dari memadai. Mengapa demikian? Artikel ini akan menguraikan mengapa integrasi ESG memiliki keterbatasan intrinsik, apa yang perlu dilakukan untuk mempercepat pembiayaan transisi energi, dan bagaimana sektor perbankan dapat melampaui paradigma konvensional untuk menjadi agen perubahan yang transformasional.

Keterbatasan Integrasi ESG: Enlightened Shareholder Interest

Integrasi ESG oleh industri jasa keuangan, termasuk sektor perbankan, sejak awal didasarkan pada prinsip enlightened shareholder interest. Artinya, bank menggunakan informasi ESG untuk mengidentifikasi risiko dan peluang yang material secara finansial bagi mereka ketika hendak mengambil keputusan pembiayaan. Misalnya, bank akan memertimbangkan risiko regulasi terkait emisi karbon atau peluang pertumbuhan dari proyek energi terbarukan. Namun, pendekatan ini memiliki batasan yang jelas: motivasi utamanya adalah keuntungan finansial, bukan dampak sosial atau lingkungan.

Dalam konteks transisi energi, integrasi ESG hanya akan mendanai proyek-proyek yang memiliki prospek keuntungan yang jelas. Padahal, banyak proyek energi terbarukan dan efisiensi energi, terutama di tahap awal, memiliki risiko tinggi dan pengembalian finansial yang tidak pasti. Misalnya, proyek energi surya di daerah terpencil mungkin memiliki dampak lingkungan yang besar, tetapi kurang menarik bagi bank karena risiko pembiayaan yang tinggi dan ketidakpastian pasar. Akibatnya, integrasi ESG cenderung bersifat selektif dan tidak mampu memobilisasi modal dalam skala yang dibutuhkan untuk transisi energi.

Salah satu masalah utama dengan pendekatan ESG, sekali lagi, adalah fokusnya pada materialitas finansial. Bank hanya akan memertimbangkan faktor ESG jika faktor tersebut memiliki dampak langsung terhadap kinerja keuangan mereka. Bank mungkin saja akan menghindari pembiayaan proyek pertambangan dan pembangkit listrik batubara karena risiko reputasi atau antisipasi regulasi, tetapi mereka juga mungkin enggan membiayai proyek energi terbarukan yang memiliki risiko tinggi dan pengembalian jangka panjang.

Hal ini menciptakan paradoks: sementara ESG banyak dipahami sebagai pendorong praktik bisnis yang berkelanjutan, pendekatan ini justru dapat menghambat pembiayaan proyek-proyek yang paling dibutuhkan untuk transisi energi yang adalah prasyarat pencapaian keberlanjutan di masa depan. Projek-projek tersebut seringkali membutuhkan modal awal yang besar, memiliki risiko teknologi, dan menghadapi ketidakpastian pasar. Tanpa insentif yang memadai, berdasarkan pemahaman ESG, bank akan cenderung memilih proyek-proyek yang lebih aman dan menguntungkan dalam jangka pendek.

Pembiayaan Inovatif dan Kebijakan untuk Energi Fosil

Untuk mengatasi keterbatasan ini, diperlukan mekanisme pembiayaan inovatif yang dapat mengurangi risiko dan meningkatkan daya tarik investasi dalam transisi energi. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah blended finance, yaitu kombinasi antara modal publik dan swasta. Dalam skema ini, lembaga publik atau filantropi menyediakan modal awal atau jaminan risiko untuk menarik investasi swasta. Dengan demikian, bank dapat terlibat dalam proyek-proyek berisiko tinggi tanpa harus menanggung seluruh risiko finansial.

Contoh sukses blended finance dapat dilihat dalam projek energi terbarukan di banyak negara Afrika dan Asia. Dana dari lembaga multilateral seperti Bank Dunia digunakan untuk menanggung sebagian risiko, sementara bank swasta menyediakan modal utama. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan partisipasi sektor perbankan, tetapi juga memerluas akses energi bersih ke masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau.

Selain blended finance, mekanisme lain seperti green bonds, sustainability-linked loans, dan risk-sharing facilities juga dapat digunakan untuk meningkatkan pembiayaan transisi energi. Green bonds, misalnya, memungkinkan bank dan perusahaan untuk mengumpulkan dana khusus untuk projek-projek ramah lingkungan. Sementara itu, sustainability-linked loans memberikan insentif suku bunga lebih rendah jika peminjam mencapai target keberlanjutan tertentu.

Selain mekanisme pembiayaan inovatif, kebijakan pemerintah juga memegang peran kritis dalam mendorong transisi energi. Saat ini, energi fosil masih sering dianggap lebih murah dan menguntungkan.  Padahal, itu karena harga energi fosil tidaklah memerhitungkan biaya sosial dan lingkungan yang ditimbulkannya. Subsidi langsung maupun tak langsung untuk energi fosil di seluruh dunia—IMF menyatakan besarnya adalah USD7 triliun di tahun 2022—dan rendahnya pajak dan cukai karbon membuat investasi dalam energi terbarukan menjadi kurang kompetitif.

Untuk mengubah ini, pemerintah di seluruh negara, termasuk Indonesia, perlu menerapkan kebijakan yang mencerminkan biaya sebenarnya dari energi fosil. Penghapusan subsidi dan penerapan pajak karbon yang semakin sesuai dengan social cost of carbon adalah langkah penting. Social cost of carbon adalah estimasi biaya ekonomi yang ditimbulkan oleh emisi karbon, termasuk dampak terhadap kesehatan, lingkungan, dan perubahan iklim. Dengan memasukkan perhitungan biaya ini ke dalam harga energi fosil, proyek energi terbarukan akan menjadi lebih kompetitif secara finansial, sehingga menarik minat bank dan investor swasta.

Selain itu, pemerintah dapat memberikan insentif fiskal untuk proyek-proyek energi terbarukan, seperti keringanan pajak atau hibah. Kebijakan ini dapat mengurangi biaya modal dan membuat proyek-proyek tersebut lebih menarik bagi sektor perbankan.

Melampaui ESG: Menuju Keuangan Berkelanjutan yang Transformasional

Meskipun integrasi ESG adalah langkah awal yang penting, sektor perbankan perlu melampaui pendekatan ini untuk benar-benar mendukung transisi energi. Menurut hemat saya, para pemimpin bank harus mulai memikirkan keuangan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada keuntungan finansial, tetapi juga benar-benar pada dampak sosial dan lingkungan yang positif. Ini berarti merelakan tingkat keuntungan di bawah rata-rata pasar jika diperlukan, demi mencapai tujuan yang lebih besar.

Salah satu pendekatan yang dapat diadopsi adalah impact investing, yaitu investasi yang bertujuan menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur, selain keuntungan finansial. Misalnya, bank dapat mendanai proyek energi terbarukan di daerah tertinggal yang memiliki dampak sosial besar, meskipun pengembalian finansialnya lebih rendah. Pendekatan ini membutuhkan perubahan mindset dari sekadar profit-oriented menjadi purpose-driven.

Para pemimpin bank memiliki tanggung jawab besar untuk mendorong transformasi ini. Mereka harus memastikan bahwa strategi keberlanjutan tidak hanya menjadi bagian dari laporan tahunan dan/atau laporan keberlanjutan, tetapi juga menjadi inti dari model bisnis mereka. Ini termasuk mengalokasikan modal ke proyek-proyek yang mungkin tidak menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun ada banyak tantangan, transisi energi juga membawa peluang besar bagi sektor perbankan. Bank yang mampu beradaptasi dan memimpin dalam keuangan berkelanjutan akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan. Mereka tidak hanya akan mendapatkan keuntungan finansial, tetapi juga membangun reputasi sebagai perintis dalam melawan krisis iklim.

Untuk mencapai ini, kolaborasi multisektor sangat penting. Bank perlu bekerja sama dengan pemerintah, lembaga multilateral, dan masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem yang mendukung transisi energi. Kemitraan antara bank dan lembaga riset dapat membantu mengembangkan teknologi energi terbarukan yang lebih efisien dan terjangkau.

Transisi energi adalah tantangan kompleks yang membutuhkan kolaborasi antara sektor perbankan, pemerintah, dan masyarakat. Integrasi ESG, meskipun bermanfaat, tidak cukup untuk memobilisasi modal dalam skala dan kecepatan yang dibutuhkan. Mekanisme pembiayaan inovatif seperti blended finance, kebijakan pemerintah yang progresif, dan pendekatan keuangan berkelanjutan yang transformasional adalah kunci untuk memercepat transisi ini.

Para pemimpin bank harus menyadari bahwa masa depan bisnis mereka—dan seluruh umat manusia—tergantung pada keberhasilan transisi energi. Dengan melampaui paradigma ESG dan mengadopsi pendekatan yang lebih holistik, sektor perbankan dapat menjadi kekuatan pendorong menuju masa depan yang berkelanjutan dan inklusif.  Sekarang adalah waktu untuk bertindak, sebelum krisis iklim mencapai titik yang tidak dapat dikembalikan dan kita semua hanya akan menyesali betapa selama ini benar-benar dibutakan oleh pencarian keuntungan jangka pendek belaka.

–##–