Masyarakat adat dan sistem pangan mereka yang berbasis ekologi telah beradaptasi dan bertahan selama ratusan tahun. Mereka berhasil bertahan hidup walau terus mendapatkan tekanan yang luar biasa besar dari industri ekstraktif, pertanian eksploitatif, kurangnya akses sumber daya alam, meningkatkan degradasi lingkungan, dan perubahan iklim.
Fakta ini disampaikan oleh Anne Nuorgam, yang mengetuai United Nations Permanent Forum on Indigenous Issues (UNPFII) dalam laporan terbaru berjudul “Indigenous Peoples’ food systems: Insights on sustainability and resilience in the front line of climate change,” yang diterbitkan oleh FAO, Alliance of Bioversity International dan CIAT.
Populasi masyarakat adat saat ini mencapai 476 juta orang di seluruh dunia. Mereka hidup di lebih dari 90 negara dengan 5.000 kelompok dan bahasa yang berbeda. Sejarah mereka kaya akan budaya, spiritualitas, hubungan yang unik dengan leluhur. Pengetahuan tradisional mereka luar biasa. Dan cara hidup, budaya dan sistem pengetahuan tersebut telah mereka wariskan selama berabad-abad.
Mereka hidup dari hutan hujan Amazon hingga Gurun Sahara, Kutub Utara, wilayah pegunungan dan pulau-pulau terpencil. Wilayah masyarakat adat mencakup lebih dari seperempat permukaan tanah dunia, beririsan dengan sekitar 35% kawasan lindung terestrial dan lanskap ekologis yang utuh (Garnett et al., 2018). Wilayah masyarakat adat menampung dan melestarikan 80% keanekaragaman hayati dunia yang tersisa (Sobrevilla, 2008).
Menurut Anne Nuorgam, para peneliti, akademisi dan komunitas internasional telah lama mencari tahu bagaimana dan mengapa wilayah adat bisa menjadi rumah bagi mayoritas keanekaragaman hayati di planet ini. Jawabannya menurut Anne Nuorgam sederhana, namun sangat bermakna. “Masyarakat adat belajar langsung dari alam, mereka memiliki tradisi menyimpan pengetahuan,” tulisnya dalam pengantar laporan ini.
Menurut Anne, masyarakat Adat telah belajar untuk melestarikan wilayah dan sumber daya alamnya. Mereka kemudian menurunkan pengetahuan ini dari orang tua kepada anak-anak selama berabad-abad. “Kelangsungan hidup mereka menjadi bukti kemampuan masyarakat adat untuk mengamati, beradaptasi, dan menggabungkan pengetahuan tradisional untuk merespon ekosistem yang selalu berubah. Mereka hidup secara harmonis dengan alam di mana pun mereka berada,” tutur Anne.
Kekayaan budaya dan tradisi yang mencakup segalanya ini memungkinkan masyarakat adat untuk berkembang dan mempertahankan sistem pangan yang beragam dan unik. Masyarakat adat menghasilkan dan mengumpulkan makanan dengan cara yang kompleks, holistik, dan tangguh. Mereka selalu menghormati kebutuhan untuk melestarikan keanekaragaman hayati serta memelihara harmoni di alam. “Mereka makan tapi tanpa menghancurkan. Makan tapi tetap menjaga keanekaragaman hayati. Mereka makan berkat kedermawanan ibu pertiwi, bumi, yang perlu dipupuk,
dilindungi dan dihormati,” tulis Anne.
Kearifan ini, menurut Anne sering diabaikan dalam penilaian ilmiah, padahal kearifan masyarakat adat, pengetahuan tradisional dan kemampuan untuk beradaptasi mereka bisa memberikan pelajaran terutama ketika komunitas global merancang sistem pangan yang lebih berkelanjutan yang mampu memitigasi perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Menurut Anne, banyak tantangan yang berpotensi menghancurkan sistem pangan masyarakat adat. Tantangan tersebut adalah migrasi penduduk asli keluar dari masyarakat adat ke pusat kota, peningkatan kapitalisasi dan monetisasi dari kegiatan ekonomi mereka akibat konektivitas mereka dengan masyarakat yang komersial.
Pengetahuan tradisional masyarakat adat juga dikhawatirkan menghilang. Saat tetua adat, yang melestarikan dan berbagi pengetahuan ini, secara bertahap berpulang, sebagian besar dari pengetahuan tradisional ini pun menghilang bersama mereka.
Sebelum terlambat mari kita kembali belajar dari masyarakat adat. Yang telah berhasil bertahan dan melestarikan keanekaragaman hayati, selayaknya khalifah di muka bumi.
Redaksi Hijauku.com
[…] Hijauku.com. 2021. Kembali Belajar Merawat Bumi dari Masyarakat Adat. […]